7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #25

Filosofi Empat Unsur Alam

“Tubuh manusia terdiri dari empat unsur elemen dalam bentuk murni.”

***

 

Air jatuh dari kepala pancuran seperti sesuatu yang sudah lama menunggu momen ini. Tidak tergesa-gesa, tidak pula lembut. Ia hanya hadir, setia dan konsisten.

Tubuhku berdiri kaku. Tak ada busa sabun ataupun gerakan. Seolah-olah airlah yang harus mengenali luka-lukaku lebih dulu.

Dari kepala hingga kaki, ia menyapu permukaan tubuh yang bahkan aku sendiri enggan sentuh. Dahi yang penuh kerut. Bahu yang berat. Lengan yang mulai kehilangan rasa. Dan jari-jariku … oh, jari-jariku, yang tak lagi mengenal notasi, tak lagi mampu memanggil simfoni.

Kulepas plester di ujung jariku. Luka akibat pecahan gelas itu sudah mengering. Tapi tidak dengan yang ada di dalam. Mungkin ini bukan mandi. Mungkin ini sebuah pengakuan yang tak membutuhkan kata.

Air selalu menampung, tetapi tidak menyimpan. Ia tak membawa dendam ataupun menghakimi. Ia hanya lewat, seperti waktu yang tak pernah meminta restu.

Aku memejamkan mata. Di balik kelopak, hanya ada suara air yang menampar ubin, berulang, berulang, seperti denyut dunia yang tak pernah berhenti meski satu jiwa memilih diam.

Empedokles, filsuf pra-Sokratik dari Yunani kuno, percaya bahwa seluruh alam semesta tersusun dari empat akar kehidupan… air, udara, tanah, dan api. Tidak ada sesuatu yang benar-benar tercipta dari ketiadaan ataupun lenyap begitu saja. Yang ada hanyalah perubahan, ketika cinta menyatukan unsur-unsur itu dan pertikaian memisahkannya.

Selama hampir dua ribu tahun, gagasan itu menjadi dasar cara manusia memahami alam, tubuh, bahkan penyakit.

Dan hari ini aku berdiri di bawah salah satu unsurnya.

Air.

Empedokles[1] menyebut air sebagai akar segala yang hidup. Tapi kini aku merasa air bukan sekadar asal-muasal kehidupan. Ia adalah pengingat bahwa tubuh ini belum membeku.

Air adalah emosi, intuisi, kelembutan. Hidup sendiri adalah bentuk lain dari sesuatu yang terus mengalir.

Lalu bagaimana jika air juga membawa kematian?

Bukan sebagai lawan kehidupan, melainkan bagian dari perjalanannya.

Musik adalah wujud tertinggi dari eksistensiku. Tapi musik pun membutuhkan medium. Sedangkan aku hanyalah tubuh yang tak lagi sanggup menjadi alat.

Air tidak menuntut suara. Tidak meminta nada ataupun panggung. Ia hanya mengalir. Dan mungkin, itulah bentuk kehidupan yang paling jujur. Mengalir.

Kuturunkan tanganku. Air terus menyusuri kulitku, jatuh ke lantai, lalu menghilang ke lubang pembuangan. Semua air pada akhirnya pergi. Tapi tak setetes pun sia-sia. Bukankah hidup juga begitu? Datang sebentar, menyentuh dunia, lalu berlalu. Kalau hidup adalah air, maka hari ini aku sedang memilih: membeku… atau tetap mengalir, meski tak tahu akan bermuara ke mana.

Aku menunduk. Jemariku saling menggenggam, seolah ingin memastikan masih ada sedikit rasa yang tersisa.

Dalam banyak mitologi, air adalah penyembuh sekaligus penenggelam. Ia memberi kehidupan, tetapi juga bisa merenggutnya. Dan kini aku berdiri tepat di antara keduanya. Takut sembuh. Takut karam.

Pancuran masih mengalir. Namun kali ini aku tak lagi berdiri hanya untuk diam.

Kuangkat kedua tangan, lalu mengguyur wajahku dengan sengaja. Bukan sekadar membasuh tubuh. Melainkan mencoba melepaskan sisa-sisa diriku yang lama.

***

Tubuhku masih hangat saat keluar dari kamar mandi. Sisa uap menempel di kulit, rambutku menjuntai seperti sumbu yang baru dipadamkan. Aku menarik napas panjang, kali ini terasa lebih utuh.

Udara di ruang tamu begitu tenang. Tidak dingin, tidak pengap. Ia hanya… hadir.

Di meja masih tergeletak brosur kompetisi biola dari Eva. Kujangkau, menatap alamat di bagian bawah. Jari-jariku mengusap lipatan di sudutnya.

Bunyi gesekan keras dari balkon. Pot bergeser.

Kubuka pintu kaca. Seekor kucing oranye —Mao, milik Arnav— mengeong di antara sukulen dengan bulu setengah basah. Pasti kabur saat dimandikan.

“Lakukan saja sesukamu, Mao,” gumamku.

Kututup kembali pintu kaca.

“Atau mungkin ia hanya mencari udara yang tahu cara menyentuh.”

Aku berbalik. Malaikat maut sudah duduk santai di sofaku, kaki bersilang, dasi merah menggantung lurus seperti garis darah yang mengering.

“Apa kau sudah berdamai dengan keadaan, Noel?”

“Aku bahkan tidak tahu harus berdamai dengan siapa,” jawabku sinis.

“Pikiranmu, inspirasimu, semuanya seperti udara. Yang perlu kaulakukan hanyalah menggerakkannya.”

Aku terkekeh hampar. “Yang ada di sini hanya bau kegagalan.”

“Udara tidak berbau, Noel. Tapi ia membawa semua aroma. Masuk ke paru-parumu, menyelinap ke celah rumah, keluar dari mulut orang yang berbohong, mengunjungi ruang yang lebih sunyi daripada doa.” Ia berhenti. “Dan kau tahu apa yang paling mirip dengan udara?”

“Musik?”

“Musik adalah udara yang dipahat menjadi makna. Dan kau, yang kehilangan musik, seperti seseorang yang hidup tanpa mampu menghirup.”

Dadaku sesak.

“Aku masih bernapas,” kataku lirih.

“Fisikmu, ya. Tapi batinmu tidak. Sesuatu yang berhenti mengalir akan mulai membusuk.”

Aku menatap lantai. “Aneh. Saat panggung mati, saat tak ada lagi yang menepukku… udara tetap masuk ke dadaku.”

“Karena memang itu tugasnya. Ia menyentuhmu hanya karena kau masih hidup.”

“Kalau begitu, apakah hidup hanya berarti bernapas?”

“Tidak. Bernapas hanyalah syaratnya.” Ia berdiri. “Jika kau menyerah pada kesunyian, kau bukan kehilangan musik. Kau hanya membiarkannya lewat tanpa makna.”

Tanganku meremas brosur itu. “Aku membenci musik karena ia terus mengingatkanku pada apa yang tak bisa kulakukan lagi.”

“Atau,” katanya pelan, “musik sedang menunggumu berbicara dengan cara yang berbeda.”

Lihat selengkapnya