7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #26

Tempat Meluapkan Segalanya

“Alkohol adalah racun yang menyenangkan.”

***

 

Eva mendorong pintu dengan ringan. Engselnya berderit sedikit, nada kecil yang tak asing. Lalu dia menoleh padaku, senyumnya ramah tapi tidak memaksa.

“Masuklah,” katanya pelan.

Aku melangkah. Suara telapak sepatuku menyentuh lantai kayu seperti gema dari masa yang bukan milikku lagi.

Ruang ini… bau karpet lama, debu instrumen, tuts yang pernah ditekan terlalu keras. Semuanya datang seperti gelombang kecil yang tak bisa kutahan. Langkahku terasa lebih berat daripada tubuhku. Karena yang kupijak bukan lantai, tapi jejak-jejakku sendiri dari masa lalu. Denting pertama. Gugup pertama. Teriakan pelatih. Pujian diam-diam. Nada-nada yang dulu kupikir tak akan pernah berhenti.

Aku belum duduk, tapi tubuhku sudah mengingat. Tangan ini sudah tahu di mana letak takut dan percaya. Studio ini bukan sekadar ruang. Ia adalah ruang gema, tempat segala hal pernah kita ucapkan diam-diam tetap tinggal. Dan kini aku berjalan di antara suara-suara itu.

Eva melangkah lebih dulu. Ia mengambil biolanya dari kursi lalu menyandarkannya pada rak. Bekas latihan masih tampak jelas. Senar belum sempat dibersihkan, partitur masih terbuka, dan napasnya masih sedikit berat. Persis seperti diriku dulu.

Mataku jatuh pada piano di sudut ruangan. Tentu ia tak memiliki mata. Namun entah kenapa, justru di hadapannya aku merasa paling telanjang. Seperti melihat mantan kekasih yang kau tinggalkan tanpa pamit. Aku pernah bermain di tempat seperti ini. Aku pernah jadi seseorang di ruangan seperti ini. Dan sekarang, aku bahkan tak tahu apakah aku masih pantas duduk di bangku itu.

Aku memejamkan mata sejenak. Dan saat itu, aku bisa mendengar ulang diriku yang lama. Noel yang penuh ambisi, yang tak sabar ingin diakui, yang percaya dunia akan diam saat ia memainkan not pertama. Dulu kupikir panggung adalah rumah. Baru sekarang kusadari, rumah bukan tempat orang bertepuk tangan. Rumah adalah tempat suara dilahirkan. Tempat di mana suara diciptakan, bukan dikagumi.

Eva masih diam berdiri, memandangiku yang larut dalam lamunan dan perasaan nostalgia ini. Pita merahnya mengembang di rambutnya meski sudah usang.

Kubuka mata dan kupandangi rak dengan banyak partitur. Sebagian masih ada tanda pensil, lingkaran kecil, tempo yang diubah, kesalahan yang ditandai. Dan untuk pertama kalinya, aku rindu belajar. Rindu tidak tahu, menjadi pemula, dan jatuh cinta pada nada pertama, bukan tepuk tangan terakhir.

“Kau mau duduk, Kak?” cetusnya.

“Aku berdiri saja,” gumamku lemah.

Dia tersenyum lembut. “Itu bakal capek banget,” ucapnya. Lalu ia duduk di kursi rotan di bawah lampu putih terang.

Perlahan aku mengambil duduk di kursi lain. Ragu-ragu.

Eva mengangkat sebuah kotak dari meja, dan menyodorkannya padaku. “Mau cokelat?”

Aku tak segera menjawab. Kupandang lama bola-bola cokelat yang terselimut kertas emas itu. Lalu aku tersadar di meja sudah ada dua botol air mineral. Aku menoleh, memandang Eva kalut.

“Kau tahu aku akan datang?”

Dia tersenyum. “Aku melihatmu berdiri lama di depan gedung. Jadi kusiapkan semuanya.”

Aku kembali memandang kotak coklatnya, dia masih menyodorkannya padaku. “Aku datang bukan untuk menjadi pengiringmu.”

Entah kenapa, dia kembali tersenyum. “Tidak.” Eva tersenyum kecil. Akhirnya ia menurunkan kembali kotak cokelatnya. “Kalau memang bukan, kenapa Kak Noel tetap datang?”

Aku terpegun. Lalu aku menoleh ke piano. Menatapnya lama.

“Aku tak lagi bisa bermain piano. Aku telah kehilangannya. Noel yang kau idolakan, sudah lama mati.”

Dia memiringkan kepala. Bingung.

Tiba-tiba aku merasa salah jalan. Tiba-tiba sesal merong-rongi hatiku. Dengan cepat aku bangkit, tapi sebelum aku melangkah keluar. Eva menahanku.

“Kamu mau ke suatu tempat bersamaku? Kita lupakan piano atau jadi pengiringku, Kak. Gimana?”

***

Lihat selengkapnya