“Cinta adalah emosi tertinggi manusia.”
***
Aku berjalan patah di lorong apartemen lantai lima. Dinding putih itu terasa terlalu terang untuk malam hari. Lampu neon berkelip, seperti mata yang tak bisa tidur. Kutekan kata santi di mesin bawah gagang pintu, tapi berkali-kali berbunyi kalau itu salah.
Apa aku terlalu mabuk?
Kusandarkan kening di pintu dengan mata setengah terbuka, menarik napas, mual. Dunia memutar, dan akhirnya aku jatuh terduduk.
“Sialan,” bisikku. “Bahkan pulang pun aku gagal.”
Napasku pelan, berat, seperti membawa beban yang bukan milikku lagi. Suara lorong ini terlalu senyap, seolah dunia menolak menyaksikan kegagalanku yang telanjang.
Tiba-tiba, udara jadi lebih dingin. Langkah sepatu muncul, tanpa gema, tapi dengan kehadiran yang tak bisa diabaikan.
“Cinta bisa membawamu pulang,” suara itu muncul di sebelahku. “Tapi kadang, ia juga membuatmu tersesat di depan pintumu sendiri.”
Aku berbalik. Malaikat maut bersandar di dinding seberang. Dasi merahnya tak pernah miring. Wajahnya teduh, tak mengejek. Dia menatapku seperti menatap seorang anak yang akhirnya mengaku takut.
“Kau datang lagi…”
“Tentu,” katanya tenang, sembari menyilangkan kedua tangan di dada. “Malam begini orang-orang butuh ditemani oleh sesuatu yang tak takut melihat mereka kalah.”
Aku tertawa kecil, atau setidaknya mencoba.
“Kau tahu apa yang menyakitkan? Aku mabuk bukan karena ingin bahagia. Tapi karena tak tahu harus bagaimana mencintai diriku yang sekarang.”
Dia hanya berdiri di sana, berat kehadirannya tak bisa kutolak.
“Cinta,” katanya, “adalah satu-satunya bentuk makna yang tidak bisa kau rancang. Ia hadir seperti musik. Kau bisa menyusunnya. Tapi nadanya bisa tetap menghancurkanmu.”
Aku menatap lantai, lalu merosot hingga ubin dingin menyentuh bokongku. “Aku pernah mencintai seseorang.”
Malaikat maut menoleh pelan. Tak ada tanya di matanya, hanya penerimaan.
“Bukan cinta seperti musik, atau seperti keluarga,” lanjutku. “Ini cinta yang membuatku kehilangan bahasa. Cinta yang membuat waktu terasa memendek.”
“Apa dia membalasnya?”
Aku mengangguk dan tersenyum kecil, teringat bagaimana kebahagiaan muncul ketika cinta menyentuhku. “Dia adalah separuh jiwaku. Dulu… sekarang… bahkan nanti.” Lalu nadaku menjadi kendur. “Plato[1] menyebut itu eros, cinta karena kekurangan. Kau mencintai karena kau merasa ada sesuatu dalam dirimu yang belum lengkap dan kau melihat dia sebagai potongan yang hilang.”
Aku mendongak menatap langit-langit lorong. Catnya masih bersih, seolah malam bisa menempel di atas sana.
“Plato percaya,” lanjutku, “bahwa dari cinta pada tubuh, seseorang bisa naik menuju cinta pada keindahan itu sendiri. Bahwa luka dari cinta bisa jadi tangga menuju pengertian yang lebih tinggi. Tapi apa? Aku hanya berhenti di tubuhnya… terjebak dalam bayangannya hingga sekarang.”
“Seperti kau akan terus mengejarnya dalam bentuk lain. Dalam wajah lain. Dalam nada, dalam puisi. Karena eros yang belum selesai, tidak pernah mati. Ia hanya pindah bentuk,” ucapnya seolah mengerti betul perasaanku.
Aku tertawa kecil. Lelah.
“Apa cinta bisa dihentikan? Hati memang bisa patah, dan ketulusan bisa dikhianati. Tapi apakah cinta bisa hilang saat tubuh yang kita cintai pergi?”
“Menurutmu?”
Aku mengangkat bahu. “Entahlah… Aku juga tidak bisa mengerti perasaanku sekarang. Dia selalu hadir dalam mimpi-mimpi dan setiap hujan.”
Malaikat maut ikut duduk di lantai. Lutut kirinya ditekuk, sementara kaki kanannya diluruskan. Anehnya, dasi merahnya tetap rapi. Seperti ironi yang tak pernah kusut.
Aku mengusap wajah. Pening masih berdengung, meski tak sekeras tadi.
“Kalau Plato menyebut cinta sebagai eros,” gumamku, “muridnya, Aristoteles[2], memilih jalan yang berbeda. Ia menyebutnya philia. Cinta yang lahir dari persahabatan, dari kebajikan. Ia tidak tumbuh karena kekurangan, melainkan karena penghargaan terhadap kebaikan orang lain. Cinta bukan lagi tentang apa yang bisa kauambil dari seseorang, tetapi tentang apa yang bisa kalian tumbuhkan bersama.”
Dia memiringkan kepala. “Itu terdengar terlalu damai.”
Aku tersenyum tipis. “Memang. Terlalu baik untuk kenyataan.”
Kutarik kedua lututku dan kupeluk erat.
“Kau benar. Philia mungkin jenis cinta yang paling sulit dimiliki manusia. Ia meminta dua orang untuk terus bertumbuh. Terus memilih hadir. Bukan karena wajah, tubuh, atau rasa kehilangan. Tapi karena mereka mengenali kebaikan satu sama lain, bahkan ketika kebaikan itu sedang redup.”
Malaikat maut terdiam sesaat. Matanya tak lepas dariku. “Lalu bagaimana kalau salah satunya berhenti bertumbuh?”
Aku menatap lantai. “Yang lain akan menunggu.”
“Berapa lama?”
“Entahlah.”
“Seumur hidup?”
Aku tak segera menjawab.
Dia kembali bertanya, kali ini lebih pelan. “Bagaimana kalau orang itu sudah kehilangan segalanya? Kehormatan, mimpi, pekerjaan, bahkan alasan untuk bangun setiap pagi. Apa yang masih bisa dicintai?”
Dadaku terasa sesak.
“Philia tidak lahir dari pencapaian,” jawabku perlahan. “Ia lahir dari karakter. Dari siapa kau ketika semua gelar, semua tepuk tangan, semua kebanggaan direnggut.”
“Kedengarannya indah.”
“Karena memang seharusnya begitu.”
“Lalu kenapa kau tidak percaya bahwa seseorang masih bisa mencintaimu?”