“Kenangan akan cinta adalah trauma paling kelam.”
***
Aku masih duduk di sana, menyandarkan kepala di daun pintu. Lorong apertemen begitu gelap, seolah cinta tak akan pernah datang lagi. Aku tak bisa melihat sosok berjas dengan dasi merah yang duduk di depanku. Antara terlalu gelap, atau mataku yang tak bisa menangkap bayangannya. Pria yang mengaku malaikat maut itu juga tak bersuara sedikit pun.
“Bagaimana kau bertemu dengannya?” suara itu tiba-tiba muncul. Suara malaikat maut.
Aku menghela napas panjang.
Pikiranku terbang ke masa lalu, ke masa di mana aku menemukan cinta pertama dan mungkin terakhirku. Lalu, aku mulai bercerita…
***
Langit siang kala itu seperti tak punya tenaga. Cahaya masuk dari kisi-kisi jendela ruang musik, menyapu tuts piano seperti debu tak terlihat. Aku duduk sendiri, menunduk pada denting yang tidak sempurna. Tanganku menyusuri melodi pelan, mencoba menyulam nada-nada yang belum selesai.
Ruang itu sunyi, seperti biasa. Dan aku menyulainya seperti itu. Sampai, suara pintu di dorong tanpa sopan.
“Wah, kukira kosong.”
Aku menoleh. Seorang siswa berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jersey klub sepak bola sekolah. Napasnya memburu. Keringat menetes di pelipisnya. Rambutnya sedikit acak, dan ada bekas lumpur di lengan bajunya.
“Latihan habis-habisan,” katanya sambil masuk tanpa izin, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi belakang ruangan.
Aku kembali menatap piano. Tak menjawab, tapi aku tahu siapa dia. Semua anak di sekolah tahu dia. Adrian. Kapten klub sepak bola. Siswa paling bersinar di angkatan kami. Orang yang paling sering disebut dan paling tidak pernah bicara padaku.
“Mainkan lagi,” katanya, suaranya datar tapi terdengar seperti perintah yang lembut. “Yang barusan. Aku cuma dengar sekilas doang.”
Aku ragu. Jemariku berhenti. Ini bukan pertunjukkan dan aku bukan penghibur.
“Ayolah,” rengeknya, kali ini dengan senyum kecil. “Paling nggak buat nutupin suara napasku yang kayak kereta mogok.”
Aku menarik napas. Entah kenapa, aku menurut. Tanganku kembali ke tuts. Kupetik nada demi nada, sedikit lebih pelan dari biasanya. Kali ini bukan untuk diriku, tapi karena ada telinga lain yang mendengarnya dengan serius.
Saat lagu selesai, ia mengangguk perlahan. “Kau tahu, main bola dan main piano itu sama. Dua-duanya butuh feeling. Benar?”
Aku menoleh setengah. “Bedanya, piano nggak kotorin kaus kaki,” selorohku.
Dia tertawa keras. Terlalu keras untuk ruangan sekecil ini. “Kau lucu juga, ya. Kupikir anak klub musik itu semua pendiam dan dingin. Sepertinya kau berbeda, Noel.”
Aku balik badan. Kaget. “Aku bukan dari klub musik. Tapi… kau tahu namaku?”
Dia mengangguk mantap. “Semua orang di sekolah ini tahu namamu. Kau si Jemari Emas yang diundang ke kantor gubernur. Bukankah kau tahun lalu juga tampil di pembukaan pekan olahraga pelajar nasional? Kau artis besar, siapa yang nggak tahu.”
Aku tak merespon apa-apa. Antara malu, bangga, atau memang sudah terbiasa.
Dia berdiri, mengambil botol minumku yang ada di meja. “Aku ambil ini, tagih aku saat kita bertemu lagi,” cetusnya seenak jidat. Lalu, ia menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti sejenak. “Kalau besok kau latihan lagi, tolong jangan kunci pintunya, ya. Biarkan aku jadi orang istimewa yang menontonmu.”
Dia tersenyum dan pergi. Senyum yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Karena selama ini aku bermusik untuk diriku, lalu tiba-tiba ada orang yang bilang nadaku istimewa baginya. Sungguh… itu mengguncangku.
Hari berikutnya. Aku tak berpikir terlalu banyak. Aku tak menunggu, tapi aku juga tidak mengunci pintu.
Seperti biasa, aku datang lebih awal. Menyalakan pendingin ruangan, menyibak debu dari bangku piano, lalu mulai memanaskan jemari dengan lagu-lagu yang hanya aku yang tahu artinya.
Beberapa menit kemudian, langkah sepatu terdengar. Ia masuk seperti kemarin. Adrian, masih dengan sisa semangat lapangan yang melekat di tubuhnya. Tapi kali ini tidak ada sapaan keras. Tidak ada komentar iseng. Hanya napas tenang, dan suara bangku kayu yang bergeser pelan.
Dia duduk dan aku bermain.
Hari itu, aku memainkan lagu Chopin. Nocturene, yang lembut dan menggantung seperti langit sore sebelum hujan. Tanganku menyusuri tuts perlahan, seperti bicara diam-diam pada udara yang kami bagi. Saat selesai, aku menoleh. Adrian bersandar di kursinya, matanya terpejam.
“Kau tidur?” tanyaku pelan.
Ia membuka satu matanya. “Nggak. Aku cuma dengerin. Kau bisa bikin orang lupa mereka lagi hidup di dunia nyata. Pantas saja kau dipanggil sang Jemari Emas.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kepalaku menunduk, entah kenapa wajahku hangat. Ia bangkit dan melangkah ke arah piano, ke arahku. “Ajari aku memerapa tuts,” katanya tiba-tiba. “Cuma beberapa saja.”
Aku dengan ragu bergeser. Adrian duduk di sebelahku. Dekat. Sangat dekat. Aroma keringatnya bercampur bau daun dan deterjen. Bukan bau parfum, tapi itu nyata. Membuat candu.
Tangannya mencoba menekan satu tuts, dan salah. Bunyinya sumbang. Aku tertawa kecil, lalu ia ikut tertawa.
“Kurasa aku ditakdirkan main bola,” katanya sambil mengangkat alis.
“Dan aku ditakdirkan sendiri di ruangan ini,” sahutku tanpa pikir.
Adrian menoleh. Matanya serius, tapi tidak menekan. “Nggak harus sendirian. Kau tahu itu, kan?” Dia tiba-tiba mendekatkan wajahnya, menatapku dengan sangat dekat. “Mulai sekarang aku nggak bakal biarin kamu sendirian.”
Dan mulai hari itu, setiap kali aku bermian piano, dia akan duduk di bangku pojok. Mendengarkan dengan baik dengan sesekali merekamku.
***
“Jadi kau jatuh cinta pada pandangan pertama?” tanya malaikat maut yang entah dia sedang di posisi bagaimana sekarang. Kegelapan ini membutakanku.
Aku menggeleng, meski aku tak yakin apa ia juga bisa melihatku. “Aku tidak tahu harus mengartikan apa perasaanku waktu itu. Aku masih remaja, mungkin terlalu dini untuk merasakan cinta. Atau mungkin aku yang bodoh. Atau… entahlah.”
“Lalu kapan kau mulai pacaran dengannya?”