“Tak satu pun tahu berapa banyak bintang di langit.”
***
“Hari keempat telah berakhir. Selamat datang di hari kelima, Noel.”
Aku menatapnya lekat, menunggunya lenyap seperti malam-malam sebelumnya. Namun, malaikat maut itu tetap di sana. Diam, menemaniku yang sedang hancur.
“Apa kau akan melemparku ke neraka setelah hari ketujuh?” Suaraku bergetar, nyaris pecah. “Hanya karena aku mencintai seorang lelaki?”
“Aku datang untuk menjemputmu, Noel. Aku tidak punya hak untuk menghakimimu, atau siapa pun.”
Aku kembali menyandarkan kepala pada daun pintu. Air mataku sudah mengering, menyisakan perih. Kutatap langit-langit kamar yang temaram, mencoba mencari jawaban di sana.
“Kau pasti tahu cerita tentang Sodom dan Gomora,” ujarku, sengaja menekan kata Sodom. “Kota yang dijungkirbalikkan dan dihujani batu membara karena masyarakatnya dianggap... menyimpang.”
Aku meliriknya. Dia tidak menyela, hanya menatapku dengan sorot mata yang teduh. Keheningannya adalah undangan bagiku untuk menumpahkan segalanya.
“Tapi orang-orang sering lupa kelanjutannya,” lanjutku, suaraku mengeras oleh keputusasaan. “Kaum Sodom dihancurkan bukan cuma karena mereka menyukai sesama jenis. Mereka adalah monster. Mereka memerkosa, melakukan kekerasan, dan menindas para pendatang. Mereka menolak peringatan Nabi Luth, bahkan berniat menggagahi dua malaikat bersosok pria tampan yang bertamu ke sana. Mereka menghina kemanusiaan itu sendiri.”
Aku menatap sang malaikat maut dengan pandangan menuntut. “Kaum Sodom dikutuk karena keji dan melampaui batas. Lalu, apa aku pantas dibakar di api yang sama dengan mereka?”
Dia membisu. Bukan karena dia enggan menghakimi, melainkan karena dia tahu jawaban itu harus lahir dari mulutku sendiri.
“Aku tidak pernah memerkosa siapa pun. Aku tidak pernah menyakiti orang lain. Dan aku tidak pernah berlaku kasar padamu sebagai tamuku, bukan?” napasku memburu, lelah oleh pembelaan diri yang melelahkan. “Aku bercinta dengan Adrian atas dasar komitmen. Kami berjanji untuk saling menjaga, meski akhirnya dia yang melanggar. Maksudku... bukankah inti dari sebuah ikatan sakral adalah janji hati?”
Sang malaikat maut mengangkat dagunya sedikit, jubah kegelapannya bergeser pelan. “Manusia dilahirkan bersama nafsu. Itu adalah bagian dari cetak biru penciptaanmu. Tugas manusialah untuk mengendalikannya, atau membiarkan dirinya dikendalikan.”
“Aku tahu bedanya nafsu dan cinta!” sela ku cepat, tak ingin dipojokkan. “Nafsu itu dangkal, sementara, dan hanya berburu kepuasan fisik. Tapi yang kurasakan pada Adrian adalah cinta. Ada emosi di sana, ada keinginan untuk bertahan hidup bersama. Apa aku salah mengartikan hatiku sendiri?”
Dia tidak menjawab secara langsung. “Manusia diberi kehendak bebas, Noel. Namun, kalian tetap berpijak di atas hukum alam.”
“Hukum alam yang mana?” ujarku sinis, tawa getir lolos dari tenggorokanku. “Kalau manusia terus-menerus tunduk pada hukum alam yang kaku, bumi ini sudah meledak karena kepadatan penduduk. Mengapa penggunaan kondom dan KB dianggap sebagai bagian dari peradaban modern, sementara caraku mencintai dianggap merusak alam? Hanya karena urusan... lubang anus?”
Malaikat maut itu mengerutkan alisnya tipis. “Itu berada di luar desain fungsi yang ditetapkan, Noel.”
“Ya, itu kotor!” jawabku tanpa ragu, menghela napas panjang. “Tapi mari bicara jujur. Sesuatu yang dianggap 'alami' seperti vagina pun bisa terkena keputihan atau bakteri sifilis jika tidak dijaga. Bersih atau kotor itu urusan higienitas, urusan teknis manusia. Aku melakukannya dengan Adrian bertahun-tahun, dan kami sehat.”