“Tidak ada yang ‘benar’ secara universal.”
***
Sesuatu jatuh. Suara logam menyentak kesunyian.
Aku membuka mata yang agak bengkak karena menangis dengan kepala berat dan napas pendek. Langit di balik jendela tak terang, tapi cukup untuk tahu bahwa ini bukan malam lagi. Aku masih di sofa. Aroma alkohol dari klub yang kudatangi bersama Eva masih menempel di bajuku.
Lalu, bunyi itu lagi.
Gedebuk.
Meong.
Aku mengerjap. Suara itu dari balkon. Pasti Mao lagi.
Aku bangkit setengah malas, separuh nyawa belum kembali. Jalan menyusuri lantai dingin, membuka pintu geser kaca ke balkon. Dan di sanalah ia, si kucing tambun, berdiri di atas rak tanaman, menjatuhkan satu pot kecil yang pecah di lantai. Menjadikan balkon kecil itu lebih berantakan lagi.
Aku hanya mendesah. Tak peduli. Mao menatapku tanpa dosa, lalu menggeliat dan berguling, seperti tamu yang merasa rumah ini miliknya.
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu. Aku menoleh ke pintu depan, dan Mao ikut menoleh.
Dengan malas aku jalan ke arah pintu, membukanya perlahan. Dan di sana berdiri Arnav, bocah kecil dengan kaus kuning dan ekspresi khawatir yang ia sembunyikan di balik plastik berisi makanan kucing.
“Kak Noel… Mao kabur lagi. Sepertinya dia mengacaukan pot-pot Kakak lagi.”
Aku mengangguk, lalu mempersilakannya masuk.
Arnav meringis. Melangkah masuk. “Maaf ya, Kak. Tapi dia kayaknya suka rumah Kakak. Apa dia menghancurkan pot Kakak lagi?”
Aku hanya bergumam pendek. Mengikutinya melangkah masuk.
Setelah Mao aman di pelukannya, Arnav berdiri di ruang tamuku, matanya menatap sekeliling. Hingga tertuju pada rak di sisi kanan, tempat deretan piala dan piagamku berdiri setengah jatuh, setengah terlupakan. Beberapa sudah berdebu. Ada yang miring, tergeletak di sana.
Arnav melangkah pelan mendekatinya. “Kakak juara terus, ya? Juara apa, ngomong-ngomong?”
Aku tak menjawab. Hanya duduk di sofa.
Anak itu berjinjit untuk melihat tulisan di trofi-trofi itu. “Ini semua tentang piano?”
Aku menoleh menatap kosong ke rak. Tetap diam.
“Wah, semuanya juara satu. Kakak hebat banget. Pasti Kakak sangat menyayangi piano, seperti aku menyayangi melukis. Kata Mama cinta pertamaku itu cat dan kanvas, pasti cinta pertama Kakak piano. Benar?”
Aku diam. Mataku memandangi jemariku sendiri. Seolah takut kata itu terlalu jujur.
Arnav ikut duduk di sofa, masih memeluk Mao, lalu berkata pelan tapi tajam. “Apa Kak Noel masih bermain piano? Aku pengin banget dengar Kak Noel main. Dari dulu aku pengin lihat konser, tapi Mama melarang. Katanya aku terlalu kecil.”
“Aku sudah berhenti,” gumamku lemah.
“Kenapa?” tanyanya polos.
Aku hanya menunduk diam.
“Apa Kakak sudah melepaskannya?”
Aku menoleh padanya. Kucing oren gendut itu anteng sekali dalam pelukan, seolah dia bukanlah kucing nakal.
Arnav mengelusnya dengan lembut. “Dulu aku punya dua kucing. Meo, saudara Mao. Tapi kuberikan pada sepupuku. Aku menangis semalaman waktu itu. Tapi kata Mama, kalau sudah melepaskan sesuatu kita harus mengikhlaskannya. Katanya, kadang melepas adalah bagian dari mencintai. Dan kita harus berdamai dengan diri sendiri.”
Aku menelan perih yang tiba-tiba muncul. Anak umur sebelas tahun sedang mengingatkanku apa arti setia dan melepas. Bukan pada orang lain. Tapi pada jiwa sendiri.
Arnav kembali menoleh ke piala-pialaku. “Aku cukup sering ikut lomba melukis, tapi aku nggak pernah juara. Aku kecewa, tapi Papa selalu bangga padaku, katanya menyelesaikan apa yang telah kumulai adalah yang terbaik. Meski pun itu bukan yang terbaik. Entah apa maksudnya, tapi itu membuatku lega.”
Aku ikut menatap rak piala itu. Mereka tak berkata apa-apa, tapi berdiri seperti saksi bisu masa lalu, menunggu aku mengakui keberadaan mereka kembali. Dan untuk pertama kali aku sadar, meninggalkan cinta bukan berarti ia hilang. Tapi dibiarkan membusuk diam-diam.
Benar kada malaikat maut, aku harus berdamai dengan diriku dan keadaanku. Lalu mencari menghidupkan kembali hidupku.
Jadi, mari selesaikan semua ini.
***
Langit mendung menggantung seperti perasaan yang tak selesai. Aku berjalan menyusuri trotoar, jaket kusut menutupi tubuh yang gemetar. Tanganku di dalam saku. Langkah pelan. Tapi kali ini tidak tanpa arah.