7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #32

Pianis dan Violinis

“Negara tidak membantu pekerjaanmu, tapi mengambil gajimu melalui pajak.”

***

 

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi pada akhirnya kudatangi juga tempat itu.

Studio itu masih seperti terakhir kali kutinggalkan. Sunyi. Setengah remang. Aroma kayu tua dari lantainya masih bercampur dengan bau damar yang biasa dipakai menggosok rambut biola. Di sudut ruangan, piano hitam berdiri tanpa suara, namun kehadirannya terasa lebih nyaring daripada apa pun. Di sampingnya, sebuah kursi kayu menopang biola yang terbaring tenang, seolah tahu sebentar lagi akan kembali dipeluk.

Ruangan itu seperti menungguku. Atau mungkin... mengadiliku.

“Sudah kuduga, kau bakal datang.”

Eva duduk bersila di lantai sambil menyandarkan punggung ke dinding. Biolanya berada di pangkuan. Ia sedang memutar pasak penyetem perlahan. Sesekali memetik senar, lalu mendekatkan telinga, mencari nada yang nyaris tak terdengar.

Aku tak langsung menjawab. Tatapanku terpaku pada piano. Sudah berapa lama aku tak menyentuhnya? Aku bahkan tak ingat.

Lalu mataku menangkap selembar brosur di atas piano. Brosur kompetisi yang pernah diberikannya padaku. Kubaca kembali dengan lebih saksama.

“Pemerintah?”

Eva mengangguk.

“Jarang-jarang mereka bikin kompetisi musik klasik.”

“Makanya aku juga kaget.” Ia tersenyum tipis. “Kupikir bakal sepi. Ternyata banyak yang minat. Dan katanya konser finalnya disiarkan.”

Aku mengusap brosur itu perlahan.

“Lucu juga.”

“Apa?” tanyaku bingung.

“Musik klasik sering dibilang nggak punya pasar. Tapi sekarang justru dicari.” Eva mengangkat bahu. “Mungkin dunia lagi bosan sama kebisingannya sendiri.”

Aku tersenyum kecil. Entah karena kalimatnya. Entah karena akhirnya aku masih bisa tersenyum.

“Eva…”

“Hm?”

“Kalau aku main lagi…” Aku ragu sedikit untuk melanjutkan. “…apa menurutmu musikku masih bisa diterima?”

Eva tidak langsung menjawab. Ia hanya menggesek satu nada panjang pada biolanya. Bunyinya memenuhi ruangan. Hangat. Lalu menghilang.

“Menurutku,” katanya pelan, “kita terlalu sibuk pengin diterima.”

Aku menatapnya.

“Kau tahu kenapa nada fals terdengar menyakitkan?”

Aku menggeleng.

“Karena telinga kita sudah diajari seperti apa nada yang dianggap benar.” Ia memetik satu senar lagi. “Padahal kalau seluruh dunia sejak lahir mendengar nada yang berbeda, mungkin yang sekarang kita sebut fals justru akan terdengar indah.”

Aku terdiam.

Eva tersenyum tipis. “Aku sering merasa kita juga begitu.”

“Maksudmu?”

“Kita nggak selalu ditolak karena salah.” Ia menatap lurus ke depan. “Kadang kita cuma datang dengan bunyi yang belum biasa mereka dengar.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku menoleh ke piano. “Dulu kupikir dunia membenciku.”

“Sekarang?”

“Sekarang…” Aku menarik napas pelan. “Kurasa dunia bahkan tidak sedang memikirkanku.”

Eva terkekeh. “Itu justru kabar baik.”

Aku mengernyit.

“Karena artinya kita bebas.”

“Bebas?”

“Iya.” Ia berdiri sambil mengangkat biolanya. “Kekuasaan bukan cuma soal siapa yang memegang hukum.” Ia mengangkat busur. “Tapi juga siapa yang menentukan nada mana yang dianggap merdu.”

Aku mengangguk pelan. “Dan yang dianggap sumbang.”

“Persis.” Busur biola menyentuh senar. “Nada itu sendiri tidak pernah tahu bahwa ia sedang disebut salah.”

Aku menatap tuts-tuts piano yang memutih dimakan waktu. “Kalau begitu…” Aku mendekatinya perlahan. “…mungkin selama ini aku terlalu sibuk meminta izin untuk menjadi diriku sendiri.”

Eva tersenyum. “Terlalu lama.”

Tanganku akhirnya berhenti tepat di atas tuts piano. Dingin. Asing. Padahal dulu tempat ini adalah rumahku.

Eva menatapku tanpa berkata apa-apa. Ia tidak menyuruhku bermain. Ia hanya menunggu. Seolah tahu, ada beberapa pintu yang hanya bisa dibuka oleh orang yang pernah menguncinya sendiri.

Lihat selengkapnya