“Tak ada yang lebih bijak dari hujan pertama.”
***
Langit tidak memberi aba-aba; ia pecah tiba-tiba. Hujan pertama jatuh bagai amarah Tuhan yang tak sempat dibendung cakrawala.
Aku berlari menembusnya, tanpa jaket, tanpa rasa malu. Air menghantam wajah, membasahi rambut, dan menyusup ke celah pakaian seumpama kebenaran yang tak bisa kutolak. Jakarta menggelap dalam sekejap. Lampu-lampu jalan bergetar, sementara deru mobil teredam kabut tipis. Aku menyeberang serampangan. Kuturuni trotoar dengan napas terputus. Kakiku menginjak genangan, terpeleset, lalu—
Brak!
Tubuhku menghantam aspal. Punggungku nyeri dan telapak tanganku tergores, tetapi aku menolak bangkit. Aku hanya terduduk di tengah amukan badai. Tubuhku gemetar, bukan karena dingin. Tanganku mengepal, bibirku mengatup rapat, sebelum akhirnya retak.
“Kenapa?!”
Teriakanku melesat ke langit, lalu karam ditelan gemuruh hujan. Air mataku luruh, bercampur dengan air yang jatuh dari awan. Aku tidak tahu mana yang terasa lebih asin.
“Kenapa Kau beri aku sesuatu yang begitu kucintai, hanya untuk Kau rampas kembali?!” Aku menunduk, memukul aspal jalanan. “Kenapa aku diberi bakat, lalu dikutuk dengan penyakit?! Kenapa aku diajari mencintai, lalu diseret ke jurang karena cinta itu dianggap salah?! Untuk apa? Untuk siapa? Pelajaran?! Atau sekadar neraka?!”
Sesayup langkah kaki mendekat. Kali ini telingaku menangkapnya dengan jelas, bahkan saat hujan berusaha menyamarkan sekitar.
Aku mendongak. Malaikat Maut. Ia berdiri di hadapanku memegang sebatang payung merah, sebuah objek yang tidak seharusnya tampak seindah itu di tengah kelam. Ia menatapku tanpa bicara. Payung itu hanya melindungi dirinya, tidak tubuhku. Dan sejujurnya, aku benci keegoisan visual itu.
“Kenapa kau di sini lagi?” tanyaku lirih.
Dia menunduk sedikit, mengunci tatapanku dari balik tudung hujan. “Karena kau belum selesai.” Suaranya merayap masuk ke telingaku, jernih di antara bisingnya badai.
“Tapi Tuhan sudah selesai denganku!”
Aku bangkit dengan tubuh terhuyung. Fisikku berat, tetapi hatiku jauh lebih membebani. Telunjukku mengarah pada langit yang masih memeras awan hitam.
“Hei! Kalau Kau memang mendengarku, dengarkan sekarang!” Suara itu lolos dari rongga dadaku yang hampa, yang telah kehilangan bentuknya. “Apa rencana-Mu sebenarnya?! Apa maksud dari semua sandiwara ini?! Apakah Kau menciptakanku hanya untuk dijadikan tontonan saat aku jatuh? Apa Kau sedang bereksperimen pada ketahanan jiwa manusia?!”
Aku mengacak rambutku yang basah kuyup. Napasku meledak-ledak.
“Kau memberiku musik! Sesuatu yang membuat hidupku bermakna! Lalu Kau cabut semuanya satu per satu! Seperti anak kecil yang memutilasi sayap serangga!”
Malaikat Maut tetap bergeming, tak ada niat sedikit pun untuk menggeser payung merahnya padaku.
“Keluargaku Kau hancurkan! Kekasihku Kau buat berpaling! Dan jari-jariku… Kau buat mereka mati rasa! Sementara Kau? Kau hanya diam!”
Aku melangkah maju ke tengah jalan yang lengang, mematung di bawah pendar lampu jalanan yang basah.
“Aku berdoa setiap malam sejak kecil! Aku beriman! Aku tidak pernah melawan! Tapi Kau bahkan tidak sudi menjawab satu pun doaku!” Aku berbalik, menunjuk Malaikat Maut. “Kau tahu? Saat kau pertama kali muncul, aku sempat berpikir: akhirnya. Akhirnya ada seseorang yang datang. Tapi ironis, bukan? Bahkan kematian terasa lebih hadir ketimbang Tuhan. Apa Dia tidak sanggup datang sendiri hingga harus mengutus perantara? Seolah aku ini terlalu kotor untuk disapa langsung?!”
Mataku panas. Tanganku mengepal begitu keras hingga sendi-sendinya memutih. Aku kembali menatap langit yang mahaluas.
“Jika Kau Tuhan yang penuh kasih, kenapa aku harus merasa sehancur ini? Kenapa semua doa hanya menggema di kepalaku sendiri? Kenapa aku merasa Kau hanya ada di dalam kitab, bukan di hidupku?! Jangan suruh aku bersyukur, melihat hikmah, apalagi diam! Karena diam adalah hal yang hampir membunuhku lebih cepat!”