7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #35

Keheningan

“Keheningan bisa membawamu pada kesepian juga kesadaran.”

***

 

Sunyi. Aku tak mendengar apa pun. Anehnya, tidak ada pikiran yang datang. Bukan karena aku sudah tenang. Tapi karena mungkin aku sudah terlalu hancur untuk berpikir. Lalu tiba-tiba, sesuatu di dalamku mulai berbisik. Bukan kata-kata, bukan pula suara. Hanya sesuatu yang lebih dalam dari bunyi.

Keheningan.

Aku pikir keheningan adalah ketiadaan. Tapi ternyata, keheningan adalah isi yang tak bisa ditulis. Suara yang tidak memerlukan pita suara. Kehadiran yang tak perlu disambut. Saat dunia berhenti bicara, ternyata bukan dunia yang diam, tapi aku yang akhirnya bisa mendengar. Mendengar hati sendiri, tanpa distraksi maupun ambisi.

Dan aku sadar selama ini aku terlalu sibuk berisik. Aku memukul tuts-tuts piano, berharap dunia mendengarku. Aku membacakan filsafat seperti mantra yang bisa menembus patahku. Aku berteriak pada Tuhan, berharap langit memberi jawaban. Tapi sekarang, tidak ada apa-apa. Dan untuk pertama kalinya, itu tidak menakutkan.

Mungkin inilah yang dimaksud orang-orang bijak itu. Mungkin inilah “Zazen” yang dibicarakan para biksu.

Secara harfiah Zazen (Zen) adalah menditasi duduk, yaitu cara membiarkan jiwa duduk dalam diam, hingga ilusi tentang ego dan waktu luruh. Diam adalah bentuk kebangkitan paling halus. Diam adalah sumber kekuatan besar. Dalam Zen, keheningan bukan kekosongan, tapi kesadaran murni. Tidak ada kata, analisis, ataupun upaya menjelaskan, karena setiap kata adalah penghalang dari kini yang sejati.

Mungkin inilah kontemplasi yang disebut Augustinus[1]. Dalam Confessiones, Agustustinus menulis tentang “hati yang gelisah sampai terdiam dalam Tuhan”. Diam, baginya, adalah tempat bertemunya luka dan pengharapan.

Mungkin inilah yang disebut dalam filsafat modern. Bagi Heidegger[2], keheningan adalah saat ketika manusia menyadari keberadaannya secara otentik. Ia menulis bahwa “bahasa bisa menipu, tapi diam bisa mengungkapkan yang tak terkatakan”. Dalam keheningan, Dasein (keberadaan manusia) berharap langsung dengan waktu, kefanaan, dan ketiadaan makna eksternal. Lalu Kierkegaard[3] menyebut keheningan sebagai “luka rohani yang tak bisa disembuhkan dengan kata-kata”. Bagi Kierkegaard, kadang justru dalam keheninganlah manusia menggugat Tuhan paling dalam.

Atau mungkin hanya aku, dan tubuhku yang memilih untuk tetap ada. diam. Tapi ada. Karena di balik semua teori dan sejarah hidup yang remuk, aku masih punya satu hal yang tidak bisa diambil siapa pun, yaitu keberadaanku dalam keheningan ini.

Keheningan ini bukan berarti pasrah. keheningan adalah titik nol, tempat jiwa tidak lagi berteriak, tidak lagi melawan, hanya menerima kenyataan tanpa syarat

Akhirnya kusibak selimut. Aku duduk sebentar di tepi kasur, memijat kepalaku. Meyakini bahwa aku masih ada.

Aku bangkit menuju ruang tamu. Rak yang kuhancurkan surah rapi, buku-buku filsafat yang kulempar telah kembali ke tempatnya, dan trofi-trofi telah berjejer meski sebagian telah tergores, patah, bahkan pecah. Vinyl yang ada di pojok telah disingkirkan.

Dengan lemah aku melangkahkan kaki ke dapur. Aku mengisi air dan melihat meja bar sudah tersaji makanan. Roti yang gosong, telur yang hancur, dan sosis dipotong asal. Ada catatan kecil di toples mayones.

“Makanlah.

Aku akan kembali nanti.

Kakakmu.”

Kutarik kursi dan duduk. Kupandangi makanan itu seperti makanan pertamaku. Dibuat tidak sempurna dan gosong, tapi aku tahu, ada banyak cinta di dalamnya.

Lama aku duduk di sana. Tak juga kusentuh makanan itu, bukan karena gosong, tapi aku sedang menelaah empati. Keberadaan Teo dalam makanan ini adalah penyembuhan itu sendiri.

Akhirnya kuraih roti setengah gosong itu, dan kugigit. Sedikit pahit, tapi aku bisa merasakan kehidupan. Lalu kulahap juga telurnya, kuhabiskan makanan itu dalam diam. Tak ada kata yang keluar, atau air mata yang menetes karena perasaan. Sekali lagi, hanya keheningan jiwa. Dan untuk pertama kalinya, aku mencuci piring.

Waktu terus belalu. Cahaya matahari di lantai yang menerobos dari jendela bergeser secara perlahan.

Aku duduk di sofa sambil memeluk lututku. Pandanganku kosong ke arah TV yang bahkan tidak menyala. Tubuhku kaku. Tulang-tulangku seperti tenggelam ke dalam busa tua sofa ini. Aku pikir aku telah menjadi bagian dari furnitur.

Jam dinding tetap berdetak. Detik pertama, kedua, kelima, keseratus. Aku mendengarnya, tapi tidak menghitung. Karena waktu telah berhenti menjadi pengukur hidup, dan hanya menjadi bunyi. Dulu detak itu sangat mengganggu. Berisik dan membuatku takut.

Aku sudah melampaui marah. Sudah melewati sedih. Yang tersisa hanya mati rasa. Dan ternyata, menjadi kosong bukan seperti mati. Lebih buruk. Karena setidaknya orang mati tahu bahwa hidupnya sudah berakhir.

Lihat selengkapnya