“Hidup bukan tentang mencari makna, tapi memberi makna.”
***
“Duduk di sini,” kata Teo sambil membuka kain kecil dan meletakkannya di pundakku.
Aku menurut, duduk di kursi makan yang ia tarik ke tengah ruang tamu. Ia berdiri di belakangku dengan gunting dan sisir yang tidak terlalu profesional, tapi cukup mengintimidasi. Aku bisa melihat pantulan bayangannya dari kaca besar yang ia pindahkan dari kamar.
“Kau yakin dengan ini?” gumamku datar.
“Tidak juga,” jawabnya cepat. “Tapi aku ingin mencoba.”
Dia mulai menyisir rambutku yang sudah lama tidak disentuh. Gerakannya hati-hati, perlahan, seperti menyisir kenangan yang sudah menggumpal jadi kusut.
“Aku dulu selalu iri rambutmu lebih lurus dari punyaku,” katanya.
Aku mendengus pelan.
“Melodi sepertinya punya rambut sepertimu. Lembut sekali. Baru tumbuh beberapa helai, tapi dia senang disentuh kepalanya. Seperti kau dulu.”
Aku hanya memandang pantulannya di cermin. Raut mukanya sangat serius.
“Kau tahu, sepertinya aku tahu bagaimana perasaanmu saat menekan tuts piano pertama kali,” lanjutnya. “Waktu mendengar Melodi menangis untuk pertama kali, rasanya seperti lagu. Seperti nada yang membuat dunia berhenti sejenak.”
Gunting bergerak di telingaku. Lembut. Tidak berisik. Aku menutup mata. Membiarkan semuanya terjadi.
“Dia membuatku merasa utuh lagi, Noel. Bukan sebagai orang dewasa yang tahu segalanya. Tapi sebagai seseorang yang harus belajar ulang jadi manusia.”
Aku membuka mata, merasakan beberapa helai rabut jatuh melewati pipiku, seperti waktu yang dibiarkan berlalu.
“Ayah kirim hadiah kemarin.” Dia terus bicara. “Jam tangan mahal. Tanpa catatan. Tanpa suara. Hanya benda dan diam. Sepertinya aku tahu kenapa Ayah membawamu, bukan diriku saat orang tua kita bercerai. Kalian sangat mirip.”
Aku menatap tajam melalui cermin. “Kenapa? Kau iri denganku yang tumbuh dalam kekayaan yang hening? Harusnya kau ikut kami agar bisa menggunakan uang Ayah dengan leluasa sepertiku. Sebenarnya kalau kau bicara dengan Ayah, dia akan mempermudah persalinan bayimu.”
Dia mendengus, menghentikan gerakannya sejenak. “Aku dan Ayah tidak cocok. Dan aku juga bukan pria penggila uang. Aku tidak butuh warisan Ayah. Ambillah uangnya sesukamu.”
Aku tersenyum tipis. “Dia tidak mengirim apa pun untuk bayimu?”
Teo kembali memotong rambutku. “Tentu dia kirim. Perlengkapan bayi. Tapi kurasa semua itu saran dan pilihan sekretarisnya.”
“Sebenarnya dia hanya ingin mengucapkan selamat padamu. Aku yakin Ayah memikirkan lama hadiah jam itu untukmu. Pakailah,” selorohku.
“Hmm…” Dia menghela panjang. “Kita memang keluarga paling aneh.”
Aku kembali diam. Membiarkannya memutar kepalaku ke kiri dan ke kanan seperti profesional.
“Oh ya, Noel…” Dia kembali bicara. “Di balik jam tangan itu juga terukir kata, ‘BE FAMILY’. Kurasa dia sedang memperingatkanku agar tidak bercerai sepertinya. Dan aku tidak akan pernah bercerai… karena aku tahu bagaimana hidup kita ketika mereka bercerai. Ah, sialan!”
Aku tertawa pendek.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah balkon. Suara benda jatuh, lalu gesekan seperti kuku yang terpeleset di lantai. Suara “Mrroawr!” yang panjang dan menyalahkan siapa pun yang bukan dirinya.
Teo menoleh cepat. “Apa itu?”
“Kucing tetangga,” jawabku malas.
Teo menghala napas panjang lalu bergegas ke arah balkon. Pintu kaca dibuka dengan tergesa. “Astaga! Kau membuat semuanya berantakan! Apa ini kucing milik anak yang tinggal di sebelah?”
Aku hanya mengangguk.
Kulihat Moa duduk di pojok, wajahnya tanpa rasa bersalah, di sebelah pot tanaman sukulen yang kini terguling. Tanah tercecer, kelopak hijaunya sobek, dan sisa pasir yang entah dari mana. Matanya memandang Teo seolah-olah berkata, “Kau yang salah meletakkan potnya.”
“Ini kucing atau dinosaurus?” gerutu Teo berlanjut.
Seolah dipanggil oleh semesta, suara ketukan kecil terdengar dari pintu depan. Teo lantas berbalik dan pergi membuka pintu.
Sang pemilik kucing masuk dengan wajah polos dan sedikit takut melihat Teo. “Om… Kurasa kucingku masuk ke rumah Kak Noel lagi.”
Teo memasang wajah separuh bingung, separuh ingin tersenyum. “Ya. Dia barusan menggulingkan pot. Lagi praktek jadi ninja sepertinya.”