“Musik adalah bahasa roh yang membuka rahasia kehidupan.”
***
Aku berlari kencang dengan setelan jasku. Langkahku bergema di trotoar kota yang berdebu dan sibuk, menabrak waktu yang tak ingin menungguku. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16.05. Aku terlambat. Mungkin semuanya sudah selesai. Mungkin aku hanya pengecut yang ingin berpura-pura sempat.
Tapi kakiku tak berhenti. Aku tahu betul apa yang membawaku ke sini—keinginan, penyesalan, ketakutan, dan sisa nyali yang tiba-tiba hidup kembali. Atau sekadar…
AKU INGIN HIDUP.
Tubuhku terasa berat, seperti membawa semua kenangan yang tak pernah sempat kubuang. Jantungku berdetak seperti alarm yang tak bisa dimatikan. Napasku kering. Jasku mulai basa oleh keringat. Tapi aku terus berlari.
Saat dipersimpangan, aku berhenti sebentar. Napasku tercekat. Sebuah truk melintas kecang dari sisi kiri. Mataku menatap lampu lalu lintas yang merah menyala. Dunia terasa diam sebentar. Angin seperti berhenti. Aku mendengar bisikan samar di kepalaku, “Ini bisa jadi akhirnya.”
Tapi aku tidak mau itu jadi akhirku. Saat lampu berubah hijau, aku langsung kembali berlari. Menyeberang dengan cepat. Tak peduli pada klakson, atau teriakan, atau pada tubuhku sendiri yang nyaris roboh. Aku hanya tahu satu hal.
Aku harus sampai.
Gedung besar itu berdiri dengan megah. Sederhana, tapi menjulang tinggi. Seolah ingin menantang langit sendiri. Aku menyusuri lorongnya dengan cepat. Di sana ada spanduk besar bertuliskan ‘KOMPETISI BIOLA NASIONAL’. Langkahku menggema di lantai ubin, napasku terseret. Udara di dalam terlalu dingin dibanding luar. Tapi itu tidak membekukan tekadku.
Dan di sana, di ujung lorong yang panjang, kulihat dia. Pita merah yang selalu menempel di rambut panjangnya. Eva. Dia berdiri di depan pintu besar yang mengarah ke panggung utama, membawa biolanya. Gaunnya merah gelap, seperti senja yang nyaris tenggelam. Namun wajahnya…
Entah aku yang terlalu lelah berlari atau mataku yang mulai rabun. Aku tidak bisa mengingat wajahnya.
Untuk sesaat, waktu berhenti. Tidak melihat pintu. Tidak melihat diriku sendiri. Hanya melihat dia. Dan senyumnya.
Aku terperangah, nyaris tersungkur di hadapannya. “Apa… aku terlambat?”
Eva menatapku sebentar, lalu menggeleng. “Tidak,” katanya pelan, sambil tersenyum. “Ayo!”
Tanpa ragu, dia mendorong pintu besar itu. Suara engselnya berat, seperti membuka masa lalu, kesalahan, luka, harapan, dan kemungkinan.
Di dalam, cahaya panggung menyala. Dan untuk pertama kalinya, aku masuk. Bukan sebagai seseorang yang sempurna. Tapi sebagai seseorang yang ingin mencoba lagi.
Sejenak, aku menjadi kalut saat melangkah ke ruang konser itu. Aromanya masih sama, kayu tua, debu halus yang tersapu cahaya, gema samar dari langkah-langkah masa lalu. Tapi kini, ruangan itu terasa lebih besar. Atau mungkin… akulah yang mengecil. Pandanganku hanya tertuju pada satu titikk.