HARI KETIADAAN
Jika kau membaca ini, maka artinya aku pernah hidup. Mungkin tidak lama. Mungkin tidak gemilang. Tapi sungguh-sungguh hidup.
Sejak dua ribu lima ratus tahun yang lalu, seorang manusia yang telah tercerahkan duduk di bawah pohon Bodhi dan mengucapkan kalimat yang mengguncang dunia; “Kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, bahkan kematian adalah penderitaan.”
Kalimat itu tidak sekadar ajaran; ia adalah gema abadi dari keberadaan itu sendiri. Dan sejak saat itu, manusia dengan segala akalnya, ilmu, dan peradaban, terus berusaha membantahnya. Namun setiap kali kita mencoba melawan, hidup selalu menemukan cara untuk membuktikannya kembali.
Penderitaan adalah bayangan yang selalu berjalan di belakang kita. Ia hadir di setiap kelahiran dan perpisahan, di setiap keberhasilan yang ternyata tidak memuaskan, di setiap tawa yang diam-diam menyembunyikan tangis. Kita membangun kota, menyalakan lampu, mengidupkan rasa sakit, tetapi penderitaan selalu menemukan pintu masuknya yang baru. Tidak pernah ia benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk, berpindah wajah, bersembunyi di balik kata “progres”, kesuksesan”, atau “kebahagiaan”.
Aku telah gagal. Berkali-kali. Gagal menjaga jemariku, memelihara kepercayaan, merawat cinta, ataupun menjadi manusia yang sempurna. Aku gagal atas segalanya. Tapi dari kegagalan-kegagalan itulah aku mulai belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan dalam konser, sekolah, atau agama. Bahwa hidup tidak menuntut kesempurnaan. Hidup hanya ingin kita hadir.
Aku menyadarinya pada pertunjukan terakhirku, ketika denting piano menggema lembut di atas panggung. Suara tuts yang kacau itu seperti suara waktu yang menua di dalam dada. Segala hal terasa begitu jauh… dunia, suara orang, bahkan diriku sendiri. Dan di tengah gema itu, aku mendengar bisikan samar dari dalam hati; “Bukankah ini yang disebut penderitaan?”
Bukan penderitaan yang berteriak, bukan luka yang berdarah, tapi sesuatu yang halus dan tenang, seperti kabut yang menyelimuti pikiran. Segala hal tampak berjalan, aku adalah pusat perhatian, tetapi aku merasa kosong. Musikku kehilangan simfoni, cahaya panggung terasa dingin, dan tepuk tangan tidak membawa pencapaian. Aku bukan lagi manusia yang hidup… aku hanya bayangan yang bergerak di antara kebisingan.
Maka aku mulai bertanya. Apakah yang rusak adalah hidup ini, atau caraku memahaminya?
Aku menghabiskan terlalu banyak waktu menunggu alasan untuk hidup, jawaban dari Tuhan, dan sorak dari manusia. Tapi ternyata, keajaiban itu bukanlah jawaban. Keajaiban adalah saat aku bangun, dan memutuskan tetap ada.