7 Rumah Mirah

Anggi Gayatri Purba
Chapter #1

Hierarki Tubuh Ayam

Bab 1 Hierarki Tubuh Ayam

   

   Di rumah Mirah, setiap potongan ayam sudah ada pemiliknya masing-masing. Mak selalu mengambil bagian leher dan ceker, Bapak paling suka dada, sementara adiknya, Fatah dari kecil sudah membikin hak paten kalau pentung paha adalah miliknya. Katanya tulangnya bisa dipegang seperti tangkai permen. Mirah sendiri memilih sayap bukan supaya bisa terbang. Waktu kecil, Mirah pernah melihat induk ayam membentangkan sayap di tengah hujan untuk menaungi anak-anaknya. Dari jauh, sayap itu terlihat lebih besar dari bagian tubuh lainnya. Di kepala Mirah kecil sudah terbayang dia akan makan bagian yang paling berdaging. Tapi ketika ayam itu dimasak, sayapnya malah menyusut karena bulu-bulunya tercerabut. Mirah sempat bersungut, tetapi karena sudah telanjur menyukai daging sayap yang dibalut kulit gurih itu, Mirah tak pernah ganti selera lagi.

   Dulu Mak selalu menyisihkan sayap ayam untuk Mirah. Dulu sekali, saat rambutnya masih selalu kuncir kelapa, saat Mirah selalu juara satu, saat Mirah punya gaji pertama di usia dua puluh satu dan membawa sekotak ayam bakar madu. Sekarang Mak tak lagi menyisihkan apa-apa. Mirah dapat potongan acak. Kadang dapat bagian kepala, kadang punggung kadang brutu. Sayap hampir tak pernah singgah ke piring Mirah. Seperti hari ini.

   Mirah keluar kamar sambil merapikan rambutnya yang masih berantakan. Ia belum sempat duduk ketika Mak memanggil dari dapur.

   "Mirah, angkat ayamnya!" perintah Mak layaknya Manager Kopdes.

   "Shiiiaaap!" balas Mirah sambil memberi hormat pada Mak.

   "Jangan main-main Mirah, kamu pikir Mak bendera apa?" 

   Mirah hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari meletakkan empat potong ayam goreng tadi di atas piring. Sementara adiknya, Fatah yang baru datang dengan kemeja selicin belut langsung duduk seolah ingin dilayani. 

   "Nih, kesukaanmu," kata Mak sambil meletakkan sepotong sayap ke piring Fatah. Fatah langsung mengunyah sayap rempah kecokelatan itu tanpa rasa bersalah. Mirah menatap wajah Fatah seperti tikus yang tidak pernah makan daging, tulangnya pun tak luput digerogoti. 

   Tak lama Bapak datang sambil mengelap keringat yang mengucur dari dahinya.

   "Nah, dada buat Bapak. Lagi-lagi Mak menaruh potongan ayam ke piring orang-orang rumah kecuali dia. Lalu Mak menoleh ke arah pintu.

   "Pak, masuk dulu! Sini, sarapan dulu sebelum lanjut kerja."

   Salah seorang tukang yang membantu renovasi lantai mengangguk malu-malu.

   "Ambil pahanya saja, lebih banyak dagingnya, lebih banyak tenaga," jelas Mak tersenyum.

   Kini di atas piring tersisa sepotong sayap bumbu rempah ketumbar yang masih panas. Mirah sudah siap-siap mengambil potongan terakhir itu ke dalam piringnya. Ia tahu Mak pasti menyisakan bagian itu untuknya. Sejak kecil Mak tahu dia paling suka sayap. Sebab bagi Mirah sayap itu punya tiga bagian. Ketika dimakan dia merasa ayamnya lebih lama habis. Namun saat tangannya baru menyentuh piring, Mak buru-buru menggesernya.

   "Yang ini jangan."

   Mirah mengangkat kepala.

   "Buat bekal Fatah. Nanti dia lembur, nggak sempat cari makan. Kamu ngalah ya?"

   "Oh ...." Tangan Mirah berhenti beberapa detik di udara sebelum berpindah ke piring telur dadar yang tinggal setengah.

   Tidak ada yang merasa ada janggal. Semuanya berlangsung seperti pagi-pagi sebelumnya. Di luar, bunyi palu kembali terdengar.

   Srrtt.

   Srrtt.

   Srrtt.

   Di luar, lantai rumah itu sedang diperbaiki supaya lebih tinggi. Gaji pensiun Bapak juga sudah naik. Ternak ayam Mak pun lumayan banyak. Fatah sendiri diangkat jadi manager di perusahaan food and beverages Jepang. Hanya Mirah sendiri yang merasa dirinya tidak berkembang.

---

   Sebenarnya Mirah pernah membuat keluarganya bangga. Enam tahun lalu, namanya diumumkan sebagai juara satu lomba novel nasional. Bapak bahkan membingkai sertifikatnya dengan kayu paling mahal. Mak juga mengundang anak yatim buat syukuran. Tetangga yang tidak dikenal pun datang mengucapkan selamat.

   "Wah, Nak Mirah hebat ya, bisa jadi penulis terkenal."

   "Kak Mirah, kalau nanti novelnya difilmkan ajak aku ya, jadi patung juga boleh yang penting masuk tv!" sela salah seorang anak tetangga.

   Mirah memercayainya. Ia semakin rajin menulis setiap hari dan mulai mengirim naskah kesana-kemari lagi. Namun lama-lama keberuntungan Mirah mulai luntur. Setelah bekerja, dia jadi kurang konsentrasi. Naskah-naskahnya seperti nasi basi. Lalu Mirah mulai kalah. Namanya bahkan tidak masuk nominasi. Lalu kalah lagi. Enam tahun kemudian, bingkai sertifikat itu masih tergantung di ruang tamu. Hanya saja sekarang tertutup kalender dan sarang laba-laba.

   "Mirah!" 

   Suara Mak memecahkan lamunnya.

   "Tolong lihat ikan di dapur!"

   Mirah langsung berlari. Sayang, Mirah bukan Hokage keempat yang dijuluki "Si Kilat Kuning' yang bisa pindah dalam sekedip mata. Dia terlambat. Ikan-ikan gembung itu kini sudah gepeng dan hitam. Bau gosong menyeruak dari wajan sampai ke halaman belakang tempat Mak menjemur kain.

   "Aduh ...." Mirah buru-buru mematikan kompor, lalu menghela napas panjang

   "Kamu ngelamun lagi?" Mak tiba-tiba sudah muncul di belakangnya.

   "Ta-tadi Mirah lagi catat ide cerita buat lomba, kalau ngggak dicatat takutnya lupa," jawab Mirah tertunduk.

   "Cerita lagi cerita lagi." Mak menghela napas. "Emangnya cerita itu bisa bikin kita makan?"

   Mirah tidak menjawab.

   "Kamu udah dewasa Mirah, berhenti ngayal dan fokus cari kerja bisa? Kasian adikmu si Fatah banting tulang sendiri."

   "Kalo gitu ambil aja nih tulang Mirah buat bantuin Fatah," jawab Mirah kesal. Kalau dia melakukan kesalahan, Mak pasti akan meremehkan bakatnya dan memaksanya kerja menopang perekonomian keluarga. Padahal dulu waktu Bapak baru pensiun, dia sendiri yang jadi tumpuan, sebab Fatah masih sekolah. Dulu Mak juga santai-santai saja Fatah memganggur. Sekarang apa salahnya gantian? 

---

   Di tengah bumi yang keropos digigiti matahari, sebuah mobil hitam berkilau parkir di halaman rumah Mirah.

   "Assalamualaikum!" 

   Suara mendayu itu lagi! Dari kecil Mirah selalu merasa pemilik suara itu berasal dari Nenek Kabayan seperti di dalam dongeng. Suara nenek tua pelumat anak-anak kecil. Bahkan sampai umur Mirah 30-an pun, ia masih enggan berjumpa suara itu. Lalu, saat gadis bergelar 'lajang abadi' itu hampir bertapa kembali di atas kasurnya, Mak langsung melontarkan titah. "Mirah! Bikin es teh manis dulu!" 

   Mirah terpaksa menjalankan titah. "Kalau buat teh, airnya harus mendidih. Gulanya satu sendok cukup, takut diabetes." Saat melewati dapur, Mirah sempat melihat Si Nenek Kabayan datang bersama dua anaknya. Di belakangnya berdiri dua sepupu Mirah. Kevin, anak emas yang sering dibangga-banggakan karena masuk kedokteran. Dan Kheyra, anak perempuan satu-satunya yang 'berhasil' menikahi anak bupati, sekarang pemilik bakery terbesar di kota Mirah.

   "Wah, lagi renovasi apa ini?"

   "Mau tinggikan lantai, kalau hujan sering banjir," jawab Mak.

   "Oh, sudah tahu kawasan ini sering banjir, tapi masih betah juga, puluhan tahun loh. Mbak nggak ada niat mau pindah? Kalau mau di cluster perumahan kami ada yang kosong tuh." Tante Kolilah terus bertanya hal yang itu-itu saja sejak puluhan tahun yang lalu. 

   Mak hanya menjawab, "Rumah ini banyak kenangannya, lagian lebih dekat ke kantornya Fatah."

   "Oalah cuma kenangan, toh. Kirain ada peninggalan kerajaan Majapahit yang berharga. Aku sih kasih saran saja Mbak, anakmu kan udah pada kerja, ya kumpul-kumpullah biar bisa pindah." Tante Kolilah duduk di ruang tamu sambil membawa kotak kue merek bergengsi yang sering di-review para influencer.

   "Iya ini juga lagi rencana pindah," jawab Mak datar.

   "Oh ya? Kok Mbak nggak bilang-bilang? Kemana? Kalo bisa jangan jauh-jauh ya Mbak, sampai ke pedalaman pedesaan gitu, jalannya banyak yang rusak. Nanti mobil kami bisa lecet."

   "Tenang aja Lilah, kamu nggak perlu naik mobil, tapi naik roket, kami kan pindahnya ke planet lain."

Lihat selengkapnya