Bab 2 Tiba-Tiba Jadi Ibu
Mirah terbangun di atas sebuah ranjang empuk putih gading yang perlahan menelan kesadarannya. Ranjang ini jelas bukan tempat tidur pegas yang sudah penyet tengahnya dan penuh bekas ompolnya dulu. Mirah menyibak rambut, memperhatikan sekeliling. Dinding dan langit-langit kamar ini dicat pink muda dengan paduan warna taupe di batas-batasnya. Ditambah lampu modern kuning hangat yang tergantung di tengah plafon, Mirah semakin yakin kalau ini memang bukan kamar tikus seperti yang ada di rumahnya.
Merasa masih bermimpi, Mirah kembali memejamkan mata. Saat berbaring, ranjang itu seolah sedang memeluk tubuhnya erat-erat. Mirah merasa tenggelam dalam lautan awan. Sudah lama gadis itu tak pernah merasakan tidur senyaman ini. Namun baru berapa detik terlelap, mimpi Mirah langsung runtuh. Anak laki-laki tadi menarik kakinya dari bawah ranjang.
"Mami! Mami! Bangun!" Anak itu merengek sambil memekik.
"Kafka?" tanya Mirah tak percaya.
"Mami, ayo ke Playtopia, Mami udah janji!"
"Mami?" Mirah lekas-lekas menatap cermin di meja riasnya. Mata kuning topaz, alis serangga beriring dan hidung bangir itu adalah milik sepupunya Kheyra!
"Mami! Mami! Mami budek ya? Kafka bilang ayok ya ayok!"
Belum sempat mencerna semuanya, darah Mirah tiba-tiba menggelegak. Anak itu ... cucu paling dimanja Tante Kolilah ... anak yang pantang dimarahi ... anak yang haram disentuh walaupun nakalnya diluar nalar ... anak yang dianggap keluarga Tante Kolilah sebagai titisan dewa ... anak yang selama ini dididik dengan parenting no no no no ala Kheyra, sang mommy goals-nya mama-mama muda ... anak yang membuat Mirah harus selalu mengalah jika dia menginginkan hot wheels koleksinya ... Kali ini Mirah harus mendidiknya dengan parenting ala zaman voc.
"Mami ayoklah Mami! Mami! Ayoklah! Ayok! Ayok! Ayok!" Kafka terus merengek sambil menarik-narik tangan Mirah kuat-kuat.
"Diam!" bentak Mirah yang sudah gerah. Namun Kafka tak mau berhenti. Anak itu memukul, mencengkeram, bahkan menggigit lengannya. Sampai-sampai Miraf refleks mendorongnya hingga terjatuh di lantai marmer. Bukannya diam, Kafka malah semakin menjadi-jadi. Dia menangis, merengek, berguling-guling bahkan melempari alat make up di meja rias sampai pecah. Bahkan para asisten yang muncul di depan pintu pun tak berani menyentuhnya. Kali ini kesabaran Mirah sudah kerontang. Ia mengunci pintu, menangkap Kafka, lalu memukul bokongnya dengan gantungan baju.
"Siapa yang ngajarin ngomong sama orang tua begitu, hah?" Mata Mirah melotot.
"Ampun Mami! Ampun! Sakit Mami!"
"Kamu nggak pernah diajarin ya! Masih kecil gak tau sopan santun!"
"Ta-tapi Mami nggak pernah marahin Kafka ... Papi juga ... Nenek juga ... Opung juga .... Kenapa Mami jadi jahat?" Mata Kafka berkaca-kaca.
Mirah menghentikan pukulannya. Ia baru sadar, ibu Kafka yang asli adalah Kheyra. Sepupunya itu selalu mengagungkan anak laki-laki. Apalagi mertuanya. Katanya sebagai penerus marga. Kheyra juga semakin disayang ketika melahirkan cucu laki-laki. Sampai-sampai Kafka harus diperlakukan seperti anak emas yang tidak boleh dipukul atau dimarahi. Kalau lututnya lecet karena jatuh, tanahnya yang salah. Kalau tumitnya kejedut pintu, pintunya yang salah. Kalau sampai sekarang belum bisa membaca, gurunya yang salah. Bahkan mungkin kalau dia tenggelam pun, airnya yang salah.
"Tok! Tok!"
"Bu Kheyra, maaf, ada Opung Tiurma di ruang tamu. Mau jemput Kafka main katanya."
"Opung Tiurma? Gawat!" Mirah berpikir sebentar, mencoba mengingat siapa itu Opung Tiurma.
"Opung! Opung! Tolong!" Kafka tiba-tiba saja berteriak sekencang-kencangnya seperti tawanan perang yang disiksa di drama-drama kolosal favorit Mirah.
Melihat gelagat Kafka yang penuh perjuangan menjumpai Opung, Mirah langsung ingat jika Opung Tiurma adalah mertua Kheyra. Walau terlambat, Mirah langsung berusaha membujuk Kafka sambil sesekali menutup mulutnya yang lebar, tapi malah kena gigit lagi.
"Argh!" Kafka!"
Namun Kafka sudah berlari ke depan pintu dan membuka kuncinya dengan tergesa-gesa. Setelah pintu terbuka, Kafka langsung mengapitkan kedua tangan mungilnya ke badan Opung Tiurma. Perempuan berwajah ibunda tiri Cinderella itu memperhatikan gantungan baju yang jatuh tepat di bawah ranjang. Sepersekian detik kemudian, matanya menancap ke wajah bingung Mirah.
"Kau apakan pahompuku?" Nada Opung Tiurma datar, tapi seperti batang mawar, ada duri-durinya.
"Nggak ada inang."
"Terus kok bisa nangis dia sampek sekarat kayak gini? Tengok, sampek sesak-sesak napasnya."
"Alah aktingnya itu dia inang. Kupukul dikit aja tadi, karena nggak sopan ngomong sama orang tua." Mirah membalas santai. Di kepalanya, terbayang suasana ketika dulu di pesta pernikahannya Kheyra, mama muda sosialita itu tampak tertawa hangat bersama Opung Tiurma dengan begitu akrab. Sampai-sampai Tante Kolilah pernah bercerita jika Kheyra tak mau makan selain masakan mertuanya, saking lengketnya.
"Kan bisa diajarin baik-baik, kenapa harus sampek dipukul? Kalo nggak sanggup merawat sama mengurus anak, biar dicarikkan mamak baru untuk si Kafka ini," kata Opung Tiurma ketus.
Jleb!
Mirah terdiam beberapa detik. Kata-kata mertuanya barusan terasa seperti gigitan semut rangrang yang sewarna dengan bibir tipisnya. Darah Mirah kembang kuncup. Napasnya naik turun. Tapi dia juga belum tahu pasti mengapa Opung Tiurma berkata begitu padanya. Bukankah hubungan Kheyra dan mertuanya sudah seperti ibu dan anak kandung yang digembar-gemborkan Tante Kolilah? Mirah hanya pernah bertemu sekali di pesta pernikahan Kheyra dulu. Apa jangan-jangan ...
"Cemana? Kok diam aja kau? Nggak suka?"
"Bukan begitu inang. Si Kafka ini kalo nggak dipukul nggak jera," pancing Mirah terus terang.
"Heeh bujanginam menjawab pulak kau. Asal kau tau ya Kheyra. Kau itu berharga karena ada si Kafka ini sebagai penerus marga. Tanpa dia nggak laku kau di keluarga kami, ingat itu!" Opung Tiurma memiring-miringkan bibir tipisnya karena geram.
"Tapi ...."
"Udah! Ayok Kafka, tinggal sama Opung aja, daripada disini habis kau disiksa!"
"Inang ... tunggu!" Kheyra berlari sampai ke lantai satu, namun langkah Opung Tiurma yang nenek-nenek malah lebih cepat. Kafka masih sempat menatapnya sendu dari balik jendela Avanza sebelum tertutup sepenuhnya. Mirah berhenti di depan pintu utama. Ia sama sekali tak berniat mengejar. Kalau mau bawa ya bawa saja, selamanya juga nggak apa-apa, hihi. Biar nenek sihir itu yang urus. Mira tertawa dalam hati. Saat hendak berbalik ke kamar, seorang wanita tak dikenal menghampirinya dari arah dapur.
"Bu Kheyra! Bu!"
"Ya, ada apa?"
"Bu Kheyra! Bu!" Seorang perempuan berhijab sekitar 25 tahunan berlari dari arah dapur. Napasnya terengah-engah, celemeknya masih penuh tepung.
"Ya, ada apa?"
"Bu ... ini gimana? Opung beneran bawa Dek Kafka?"
"Iya."
"Lho ... kok Ibu malah santai?" Alis perempuan itu semakin bergelombang.
"Emangnya kenapa?"
"Ya Allah ...." Perempuan itu memegang dahinya. "Hari ini kan jadwal pemotretan katalog Little Heavens."
Mirah mengernyit. "Apaan itu?"
Perempuan itu menatap Mirah beberapa detik. Biasanya dulu Bosnya, Kheyra sudah menyiapkan baju-baju modern dan kasual untuk menonjolkan kesan 'pewaris' bagi Kafka sebelum pemotretan. Namun sekarang Kheyra malah tak tahu apaa-apa.
"Bu ... Ibu nggak bercanda kan?"
Mirah ikut terdiam. "Little Have ... apa tadi?"
"Little Heavens, Bu. Brand baju anak punya Ibu."
"Saya punya brand baju anak-anak?"
Perempuan tadi mengangguk.
"Ya sudah, siapin aja baju batman, spiderman atau kartun apalah kesukaannya Kafka," perintah Mirah sambil memijit pelipisnya.
"Tapi Bu, brand baju Kafka semua monokrom, nggak ada gambar kartunnya," jawab perempuan itu lagi takut-takut.
"Hah? Masa anak kecil nggak suka kartun?" Mirah langsung berlari ke lantai dua, membuka walking closet Kafka yang penuh kaus dan kemeja warna netral ala cowok bumi. Bahkan piyamanya juga hanya terdiri dari dua warna polos, yaitu putih dan abu-abu muda.
"Ini ... bukan koleksi baju bapaknya kan?" Mirah yang sudah 30 tahun saja masih suka pakai piyama kuning spongebob dengan motif awan bunga warna-warni khas bikini bottom. Tapi selera baju Kafka sudah seperti om-om old money saja. Dalam hati Mirah bergumam, apa mungkin selama ini dia adalah tante-tante yang norak?
"Bukan Bu, Ibu sendiri yang pilih dan susun baju-bajunya Kafka, nggak boleh warna-warni. Kata Ibu biar jangan kayak orang kampung," jelas perempuan itu lagi.
"Beneran saya bilang begitu?"
Perempuan itu mengangguk lebih cepat. Sorot matanya mulai berembun karena merasa dicurigai Kheyra.
"Hahahaha!" Tiba-tiba Mirah tertawa. Ia ingat betul, dulu sewaktu masih anak-anak, Kheyra sering pakai baju pink neon gambar barbie dan kuda terbang. Lalu pamer pada anak-anak lain yang beli mi pecal dan gorengan Tante Kolilah. Tapi sekarang malah bergaya seperti keturunan bangsawan dari eropa.
"Kenapa Bu?"
"Nggak. Cuma ingat masa lalu. Oh ya dari tadi kita ngomong kamu siapa ya?"
"Saya asistennya Ibu. Nama saya Ulfah."
"Oke, Ulfah, mulai sekarang kamu kalau saya suruh nyetok baju syutingnya Kafka beli yang ada gambar kartunnya."
"Se-serius Bu?"
"Pilih yang gambarnya besar-besar dan tulisannya paling lebar." Mirah tersenyum puas.
"Oh ya Bu ...."
"Apalagi?"
"Jam dua nanti fotografernya datang. Model anak-anak juga sudah berangkat kemari."
"Terus?"
"Maskot utamanya itu Dek Kafka."
"Kenapa harus Kafka?"
Perempuan itu tampak semakin bingung. "Karena Kafka bintang utamanya Bu. Orang-orang pada beli baju Little Heavens cuma karena lihat Kafka yang pakai."
Belum sempat Mirah mencerna semuanya, ponsel di meja berdering, dari Mas Baraq. Mirah mengangkatnya ragu-ragu. Baru saja dia menikmati peran sebagai Kheyra malah diganggu bertubi-tubi.
"Halo Mas?"
"Kamu di mana?" Suara laki-laki di seberang terdengar terburu-buru.
"Di rumah."