7 Rumah Mirah

Anggi Gayatri Purba
Chapter #3

Empat Istri Empat Dapur

Bab 3 Empat Istri Empat Dapur

   Mirah bangun karena bersin. Begitu membuka mata, hidungnya langsung diseruduk wangi bawang goreng. Sesaat kemudian, macam-macam bau lain ikut meramaikan kamarnya yang kini tampak lebih kecil dan pengap. Aroma santan yang hampir mendidih, ikan asin yang baru diangkat dari wajan, sambal terasi yang sedang diulek dan suara spatula yang beradu dengan panci, bertalu-talu dari empat arah berbeda.

   Mirah mengucek. Badannya terasa ngilu dan pegal-pegal, seperti habis kerja 24 jam. Begitu bergeser sedikit, seprai motif bunga kembang sepatu itu juga ikut bergeser. Beberapa kapas mencuat dari kasurnya yang bolong. Mirah terbelalak. Dinding kamarnya bukan lagi pink muda lembut dengan cahaya kuning muda dari lampu minimalis. Tapi hijau pucat dan terkelupas. Di kamar ini hanya ada satu ranjang kapuk kecil, lemari kayu mini dan sebuah nakas yang mulai lapuk. Di sudut-sudutnya terdapat ember plastik untuk menampung bocor kecil, tas-tas lusuh, dan kardus mi instan yang sudah penyok.

   Menyadari kejanggalan itu, Mirah buru-buru merangkak ke depan cermin berembun yang tergantung di sebelah pintu. Mirah terbelalak. Yang menatapnya balik bukanlah Kheyra, melainkan seorang gadis remaja berkulit kayu manis. Usianya sekitar 18 tahun. Rambutnya dipotong sebahu. Di bibirnya tampak bekas jahitan seperti bekas sumbing. Ada bekas luka kecil yang membelah juga di alis kirinya.

   Belum sempat Mirah menyadari siapa dirinya sekarang, seorang perempuan berkerudung lebar membuka pintu paksa. 

   "Hafsah! Belum bangun juga?" tanya perempuan itu cemas. "Nggak biasanya kamu belum bangun jam segini," lanjutnya lagi. "Kamu sakit?"

   Perempuan berwajah lesu itu mengulurkan punggung tangannya ke dahi Hafsah.

   Mirah sempat mengelak. Tapi perempuan itu malah makin mendekat.

   "Agak panas. Tapi ndak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri," ujarnya lagi. "Sudah, cepat mandi, nanti langsung kasih makan ayam sama kambing lalu cuci baju sama piring bekas masak di dapur sebelum ayah kamu bangun."

   "Ha?"

   "Kok masih bengong Mirah, ayo cepat." 

   Mirah terpaksa beranjak karena dipaksa perempuan bermata sayu itu. Baru pindah entah ke rumah siapa, dia malah dikasih tugas seabrek. Namun karena tidak mau terus disuruh, Mirah pun keluar kamar. Kamarnya ternyata terletak dekat dapur. Pantas saja sejak pagi dia sudah mencium aroma masakan yang berbeda-beda. Di ruang makan, sekelibat dia melihat seorang perempuan bergamis merah muda dan jilbab yang serupa sedang menata meja makan. Senyumnya merekah seolah sangat antusias. Mirah seperti pernah mengenali wajah itu. Wajah itu sering memberi salam tempel ketika lebaran ke rumah Pakde Hasyim! 

   Mirah ingat betul kalau Pakde Hasyim adalah abang kandung Mak. Katanya dia punya empat istri. Tapi selama berkunjung ke rumah Mirah, hanya Bude Bainalah yang paling sering dibawa-bawa. Karena itu dia tidak kenal pada perempuan di kamar tadi. Yang dia ingat hanya Bude Baina saja. Sebab Bude Baina terkenal sering bagi-bagi duit, wajahnya campuran arab dan eropa, wangi parfumnya juga tak hilang-hilang dari pikiran Mirah, wangi bunga kala lili yang menyengat.

   "Heh! Ngapain bengong disitu! Belum mandi, masih belekan udah mau makan aja, sana!" usirnya lagi.

   Mirah terperanjat. Bude Baina yang selama ini punya citra lemah lembut dan soleha pun pudar. Ia hanya masih kebingungan, mengapa semua orang di rumah ini tampak tidak menyukainya. Mirah pun bergegas keluar rumah, mencari-cari kandang ayam dan kambing yang disuruh perempuan di kamar tadi.

   Begitu keluar rumah, mata Mirah semakin melotot. Rumah itu tidak terdiri dari satu bangunan, tapi empat dengan ukuran yang berbeda. Masing-masing punya dapur. Masing-masing punya teras. Masing-masing punya jemuran. Di tengah halaman berdiri sebuah pendopo beratap limas. Di sanalah seorang laki-laki bertubuh besar duduk di kursi rotan. Korannya terbuka lebar. Secangkir kopi mengepul di sampingnya. Seorang perempuan berjilbab sorong warna kulit sedang memijit bahunya. Tak lama datang Bude Baina membawa pisang goreng. Belum sempat meletakkan piring, perempuan lain yang berwajah lebih tua muncul membawa bubur kacang hijau. Perempuan terakhir, yang tadi pagi menyuruh Hafsah mandi tampak siaga mengipas-ngipas lalat yang bahkan belum sempat hinggap di sana. Tak satu pun berbicara. Hanya senyum-senyum memandangi wajah Pakde yang menuruh Mirah seperti wajah bapak-bapak pada umumnya.

   "Hafsah," panggil Pakde Hasyim.

   Mirah celingak-celinguk. Dia hampir lupa kalau sekarang namanya Hafsah.

   "Hafsah!" panggil Pakde Hasyim lagi setengah berteriak. Kali ini lelaki itu menurunkan koran. Matanya seperti pisau daging yang menancap ke ulu hati Mirah. "Ke sini."

   Mirah berjalan pelan. Semakin dekat, semakin terasa kalau sorot matanya bukan mata seorang ayah. Lebih mirip mandor yang sedang memeriksa buruh.

   "Jam berapa sekarang?"

   Mirah melirik perempuan di kamarnya tadi seolah sedang meminta bantuan. Namun dia diam saja. Mirah kemudian melirik ke arloji bling-bling warna emas yaang dipakai Bude Baina, barulah dia tahu.

   "Setengah delapan."

   "Terus kenapa baru bangun? Kau kira makanmu datang dari langit?"

   Mirah menggaruk tengkuk. Dalam hati ia bergumam, Wah lebih galak dari Opung Tiurma.

   Pakde Hasyim melipat korannya.

   "Kandang kambing sudah dibersihkan? Sumur sudah disikat? Daun-daun belakang sudah disapu?"

   Mirah hanya mampu menggeleng kecil. Pakde mendecak. "Lihat."

   Ia menunjuk ke arah seorang pemuda bertubuh tegap yang baru turun dari mobil pick-up. "Itu abangmu." Pemuda itu membawa beberapa karung cabai dan sayuran untuk di setor ke penampung. "Itu hasil ladang kita. Kakak-kakakmu semua dagang di pasar dari pagi. Di rumah ini, semua bekerja."

   Tatapan Pakde kembali jatuh pada Mirah. "Cuma kau yang seperti benalu." Kalimat itu meluncur begitu saja seolah jatuh dari perosotan, tepat ke ulu hati Mirah.

   Mirah menunduk. Entah mengapa dadanya ikut sesak. Padahal kata-kata itu bukan ditujukan kepada dirinya. Melainkan kepada Hafsah.

   "Pak." Suara perempuan yang wajahnya selayu sayur sawi tadi memecah suasana. "Biarkan dulu Hafsah sarapan, tadi pagi badannya panas."

   Pakde menoleh. "Panas?" Manusia kan memang kodratnya berdarah panas. Kecuali dia ular atau hewan melata, baru badannya dingin. Memangnya Hafsah anakmu itu ular, Delimah?" 

   "Ndak, ndak Pak. Maaf." Perempuan bernama Delimah itu langsung tunduk, tak berani menatap mata Pakde Hisyam lagi.

   "Kalau begitu jangan ikut campur."

   Delimah menurut. Ia kembali ke dapur. Tidak membantah. Tidak menangis. Seolah sudah hafal kapan harus berhenti berbicara. Mirah memperhatikannya. Ada sesuatu yang aneh. Perempuan-perempuan di rumah ini tidak tampak seperti satu keluarga. Mereka lebih mirip penghuni empat negara yang dipaksa tinggal di halaman yang sama. Dan Pakde Hasyim ... adalah satu-satunya raja bagi mereka.

   "Dan Hafsah, jangan ke dapur sebelum kerjaan kamu beres."

   Mirah hanya manggut-manggut, walau masih tak paham mulai darimana dia harus mengerjakan semuanya. Tak ada standar operasional perusahaan yang pasti di rumah Pakde ini.

---

   Ketika sampai di meja makan, Mirah hanya kebagian beberapa potong sayur sawi bening di mangkuk kaca dan sepotong telur dadar berbentuk segitiga sama kaki yang telah cobel pinggirnya. Padahal kalau Mirah tak salah ingat, tadi pagi dia sempat mencium bermacam-macam aroma masakan. Entah itu bau santan opor ayam yang semerbak atau wangi sambal belacan yang membuatnya menelan ludah.

   Di sebrang kursinya, dua orang anak kecil ketawa-ketiwi memperhatikan gerak-geriknya. Lalu salah seorang dari mereka mengulurkan sepotong paha bawah ayam goreng yang sudah hampir habis dagingnya.

   "Buat Kak Hafsah, biar pernah makan ayam." Anak itu tersenyum, lalu tertawa lagi bersama anak lain di sampingnya.

   Anak perempuan itu juga ikut-ikutan. Dia meletakkan tulang ikan ke dalam piring Hafsah sembari berkata, "Biar pernah makan ikan. Hihihihi."

   Mirah mengepalkan kedua tangannya menahan geram. Entah di rumah Kheyra atau di rumah Pakde, kenapa dia harus terus dibully anak kecil? pikirnya sambil memutar mata, mengira akan mendapat jawabann dari dinding. Meski begitu, mau tak mau Mirah tetap mengunyah sawi dan telur dadarnya serta menyingkarkan tulang ayam dan ikannya tadi.

---

   Waktu jam makan siang, herannya meja itu sudah kembali diisi lauk-pauk hangat. Ada gulai kepala ikan kakap, ayam bakar, ikan nila asam manis dan telur balado. Pakde Hasyim yang baru saja duduk di kursi paling puncak langsung diserbu istri-istrinya.

   Istri pertama, yang terlihat hampir seusia Pakde datang membawa kopi. Bude Baina, istri kedua yang paling dikenal Mirah ikut menyuguhkan teh manis hangat. Perempuan lain yang selalu berjilbab sorong meletakkan segelas jus alpukat. Dan yang keempat, ibu Hafsah hanya datang membawa segelas air putih tawar.

   "Bapak minum kopi aja dulu," kata istri pertama.

   "Jangan, Pak." Istri kedua buru-buru menyelanya. "Mbak Alma lupa? Kata dokter kemarin asam lambung Bapak naik, masa dikasih kopi lagi," cibir Bude Baina.

   "Tapi dari dulu Bapak paling suka kopi. Segelas aja, dokter juga bukan Tuhan," bujuk Bude Alma lagi.

   "Eh, tunggu dulu, Mbak Alma jangan egois, kalau Bapak sakit kita semua yang repot. Mending minum teh hangat saja," sela Bude Baina lagi.

   "Panas-panas gini minum teh hangat. Lihat tuh keringat Bapak udah ngucur," sambung istri ketiga. 

   "Maaf, mungkin Mbak-Mbak semua lupa, kata Dokter Bapak juga harus jaga gula darah, kurangin yang manis-manis," balas Delimah sembari meletakkan segelas air putih ke depan Pakde.

   Pakde pun meminum air itu sambil manggut-manggut. Di kepalanya, Delimah adalah sosok istri yang paling pengertian. Sayang, anak satu-satunya malah Hafsah, gadis sumbing remaja jelek yang tidak pintar dan tidak bisa diandalkan.

   "Pak, makan dulu. Nanti masuk angin." Istri pertama langsung menarik piring itu sedikit.

   "Jangan banyak gorengan. Kolesterol Bapak tinggi."

   "Ini ubi, bukan ayam."

  "Digoreng juga, kan?"

   Istri ketiga tertawa kecil. "Iya sih ... tapi masih lebih sehat daripada mulut yang suka menggoreng orang." Senyumnya tetap manis. Tatapannya tidak.

   Mirah hampir tersedak. Astaga, mereka nyindir sambil senyum. Belum selesai. Istri keempat datang membawa semangkuk bubur kacang hijau.

   "Pak, ini yang Bapak minta semalam."

   "Semalam?" Istri kedua mengangkat alis. "Bukannya semalam Bapak di rumah saya?"

Istri keempat baru sadar keceplosan. Pakde berdeham pelan. "Buburnya taruh saja."

   Tak ada yang berani melanjutkan. Namun perang baru saja dimulai. Beberapa menit kemudian Pakde bangkit hendak ke kebun belakang. Keempat istrinya ikut berdiri hampir bersamaan. 

   "Sandalnya, Pak. Topinya, Pak. Payungnya. Obat darah tingginya jangan lupa." Empat tangan terulur dalam waktu bersamaan. Pakde sengaja berhenti. Membiarkan mereka saling mendesak. Sandal jatuh. Topi terlempar. Payung tersangkut di lengan salah satu istri. Obatnya malah tercebur ke kolam ikan. Pakde mendengus. "Bereskan." Ia pergi begitu saja.

   Empat perempuan itu saling menatap. Tak ada yang meminta maaf. Tak ada yang mengalah. Yang satu memungut topi. Yang lain mengambil sandal. Sisanya menyalahkan obat yang tercebur. Mirah berdiri mematung. Dalam hati ia bergumam, "Kalau begini tiap hari, nggak usah nonton sinetron."

   Malamnya di meja makan, perang itu belum selesai. Pakde baru saja mengambil sepotong kepala ikan mas yang digulai Bude Alma. Dia pun tersenyum puas. "Itu ikan dari saya."

   Belum sempat Pakde menggigit. Istri kedua buru-buru mengambil ikan itu. "Yang ini banyak durinya, nih Bapak cobain oseng daging saya dulu, empuk loh Pak," jelas Bude Baina.

   Bude ketiga ikut menyela, "Tiap hari Mbak Baina paksa Bapak makan daging, mau bikin darah tinggi? Bapak itu harus lebih banyak makan serat, kayak sayur asem yang saya buat ini."

   "Mungkin Mbak Citra lupa, asam lambung Bapak baru kambuh, jangan makan yang asem-asem dulu," sambung Bude Delimah.

   Kini di depan Pakde sudah ada tiga piring berbeda. Pakde hanya melirik semua istrinya. Lalu mengambil tempe dan sayur bening saja. Sementara bude-bude yang cari perhatian tadi langsung diam. Mirah menunduk agar mereka tidak melihat bibirnya yang mulai bergetar menahan tawa. Keempat istrinya juga tersenyum, tapi mata mereka murka.

   Selesai makan, Pakde langsung pergi meninggalkan piring kotornya di atas meja, lalu melirik ke arah Bude Baina untuk segera menyusulnya. Melihat itu, Bude Alma tiba-tiba berdiri sambil memukul meja. Bude Citra makan sambil mendenting-dentingkan sendok garpunya di piring kaca dengan sengaja. Sedangkan ibu Hafsah hanya berdiri memandangi punggung suaminya yang semakin jauh. Mirah menghela napas pelan.

   "Sudah malam masih rebutan bapak-bapak." Mirah terkikik pelan. Ia baru hendak masuk ke rumah ketika seorang gadis seusianya berbisik dari belakang.

   "Kaget ya?"

   Mirah menoleh. Gadis itu tampak seperti putri bangsawan Darasti China zaman dulu. Kulitnya putih pualam, matanya sipit almond dan senyumnya manis jambu air. Baru kali ini Mirah melihatnya di rumah Pakde. Dia baru keluar kamar sambil menggandeng laptop.

   "Sedikit."

   "Biasalah."

   "Memangmya setiap hari begitu?"

   Gadis itu mengangguk. "Kalau Ayah lagi batuk, mereka berebut bikin wedang jahe." "Kalau Ayah sakit kepala, empat-empatnya rebutan mijat." "Kalau Ayah bilang pengin rendang ...." Ia tertawa kecil. Besok rumah ini bau rendang semua."

   Mirah ikut terkekeh. "Lalu ... Ayah pilih yang mana?"

   Gadis itu mengangkat bahu. "Kadang ke tempat Bunda, besoknya ke kamar Bude Baina. Baru beberapa hari kemudian ke kamar Bude Citra. Kalau ketiganya lagi ngambek, baru ke kamar Bude Delimah. Masa kamu lupa? Kamu kan di rumah ini bertahun-tahun."

   "Memangnya kamu kemana?" tanya Mirah penasaran.

   "Aku disekolahin di luar kota. Kata Bunda biar jadi 'orang'." Semua anak Ayah juga disekolahin di sana."

   "Terus aku? Kenapa nggak?"

   Senyum gadis itu menghilang.

   "Karena Bude Delimah."

   "Ibuku kenapa?"

   "Bude Delimah sering sakit-sakitan."

---

   Besok paginya, Mirah sudah mulai sedikit mengerti tentang jobdesknya. Mulai dari memberi makan ayam, mengurus kambing, mencuci baju dan mengasuh dua sepupu kecilnya kembarnya, anak Bude Citra. Belum juga siang, Mirah sudah merasa mau pingsan. Di rumah seluas ini, hanya dia yang dijadikan pembantu. Gadis semalam bercerita kalau kakaknya sudah menikah dan membuka pesantren, dia sendiri disekolahkan di luar kota lengkap dengan fasilitas asrama anak orang kaya. Anak Bude Baina, satu-satunya anak laki-laki Pakde sedang kuliah kedokteran di fakultas yang sama dengan adik Kheyra. Sementara dua anak kembar Bude Citra juga bersekolah di sekolah yang sama dengan gadis kemarin. Dua lagi yang kecil-kecil tinggal di rumah. Katanya lagi, Hafsah adalah satu-satunya anak Bude Delimah, karena setelah kelahiran Hafsah, Bude Delima sudah lima kali keguguran. Padahal Pakde sangat mengharapkan anak laki-laki lahir lagi dari perutnya. Dari situlah Pakde menganggap kalau lahirnya Hafsah menghalangi jalan keluar bagi adik laki-lakinya yak tak pernah lahir.

---

   Menjelang sore, halaman kembali sibuk. Empat dapur mengeluarkan aroma yang berbeda. Dua sepupunya sudah mandi. Ayam-ayam mulai masuk kandang. Kambing-kambing juga sudah dikurung dalam kandang.

   "Bu ...."

   Perempuan itu tersenyum tipis. "Ada apa?"

   "Kenapa Ayah selalu marah sama Hafsah?"

   Tangan perempuan itu berhenti. Ia menunduk beberapa saat sebelum menjawab.

   "Karena Hafsah lahir perempuan."

   Mirah mengernyit. "Cuma itu?"

   Perempuan itu menggeleng pelan. "Dulu waktu mengandung Hafsah, semua orang bilang perutku runcing. Kata mereka pasti laki-laki."

   "Lalu?"

Lihat selengkapnya