Bab 4 Nenek 20 Miliar
Hal pertama yang dirasakan Mirah ketika membuka kedua matanya adalah nyeri di kedua lutut. Hal kedua adalah sakit pinggang. Dan hal ketiga yang langsung membuat telinga Mirah berdengung adalah teriakan seorang perempuan muda yang mengetuk-ngetuk pintunya entah sejak kapan.
"Mak! Mak sudah bangun?"
Mirah mencoba duduk. Tetapi pinggangnya terasa seperti engsel pintu gudang yang sudah berkarat. Dimana setiap kali dibuka akan mengeluarkan bunyi decit yang bikin ngilu telinga. Apalagi ketika hendak melangkahkan kaki menuju pintu, lututnya langsung berdenyut, tumitnya pun jadi kram.
"Mak!" Perempuan itu muncul di ambang pintu sambil membawa baskom cucian. Usianya sekitar dua puluh sembilan tahun. Rambutnya disanggul seadanya. Namun wajahnya terasa seperti telah lama dikenal Mirah.
"Mak kok lama kali bangunnya sih! Baju Dara yang kemeja belum dicuci, mau dipakai interview besok. Kalau nggak dicuci-cuci kapan keringnya?" hardik perempuan itu.
Mirah menatapnya heran. Perempuan itu mengerutkan kening. "Kenapa Mak masih bengong?"
Mirah tidak menjawab. Ia menoleh ke cermin di samping lemari. Wajah seorang perempuan tua menatap balik kepadanya. Rambut putih menyembul dari balik kerudung tipis. Kulit pipinya mengendur. Ada garis-garis halus di sekitar mata. Mirah memegang pipinya. Perempuan di cermin melakukan hal yang sama. Mirah pelan-pelan mengingat wajah ini. Wajah tetangga di depan rumahnya, Nek Salma yang selalu ramah dan sering menyapu halaman setiap kali Mirah pulang kerja. Ia menarik napas berusaha tenang. Tapi kemudian sesuatu membuncah keluar dari tenggorokannya.
"Aaaaaaaaaa!" Mirah berteriak lebih kencang dari dari putaran kipas usang di atas plafon kamarnya. Rumah baru. Tubuh baru. Kali ini tubuh seorang nenek.
"Mak kenapa?"
Mirah menoleh. "Kamu siapa?"
"Mak? Aduh, jangan demensia dulu Mak! Perempuan itu memandangnya dengan curiga.
"Mak? Kamu anak saya?"
"Mak jangan bercanda deh."
"Nama kamu?"
Dara mendecakkan lidah. "Dara loh Mak, anak bungsu. Jangan bilang Mak lupa pernah ngelahirin Dara."
"Dara ... Dara yang pernah minggat sama pacarnya karena nggak direstuin nikah sama mokondo itu?"
Wajah Dara tampak kesal. Sementara Mirah mendadak menutup mulutnya. Ia hanya mencoba memastikan apa perempuan di depannya itu benar anak bungsu Nek Salma seperti yang digosipkan orang-orang atau tidak.
"Mak kan udah janji nggak akan ngungkit-ngungkit masalah ini lagi kalo Dara mau pulang," rengek perempuan itu cemberut.
"Oh iya ... iya belakangan ini Mak sering lupa, maafin Mak ya Dara," balas Mirah spontan. "Sekarang tolong bantu Mak ke kamar mandi, kaki Mak nyeri," pinta Mirah yang mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu tampak berpikir panjang, sedetik kemudian wajahnya menunjukkan rasa jijik. Lalu dia berkata, "Aduh Mama sendiri aja deh, Dara lagi masak sarapan di dapur, takut gosong."
Dara pun pergi meninggalkan baskom cucian berisi beberapa potong baju kotor di sebelah Mirah. Mirah masih berdiri di depan cermin. Ia belum tahu keluarga macam apa yang sedang menunggunya di rumah ini. Tetapi dari cara Dara bicara kepada Nek Salma, ia sudah tahu satu hal. Ia tidak terlalu disayangi.
---
Mirah keluar kamar sambil berjalan tertatih. Matanya menyapu setiap ruangan yang dilewatinya untuk menjemur beberapa potong baju Dara tadi di halaman. Entah mengapa pula Mirah rela mencucikan baju perempuan tadi. Entah karena melihat lagaknya seperti nyonya besar entah karena terpaksa menyalurkan kasih sayang yang terpendam di tubuh Nek Salma untuk anaknya. Di ruang depan terdapat kursi kayu berat dengan bantalan yang sudah menipis. Jendela-jendela tinggi membuka halaman yang dipenuhi tanaman tua. Dindingnya kusam, tetapi masih kokoh. Rumah itu tampaknya membutuhkan perbaikan. Cat mengelupas di beberapa tempat. Plafon menguning. Di bagian belakang, ember diletakkan di bawah titik bocor.
Namun rumah itu sama sekali tidak tampak seperti rumah orang yang kekurangan uang. Justru sebaliknya. Tanahnya luas. Lokasinya bagus. Bangunannya besar. Dara bahkan pernah menyebut harga rumah itu kepada seseorang di telepon. Dua puluh miliar. Mirah baru mengetahui angka itu ketika sedang sarapan. Dara berbicara sambil membuka ponselnya. "Kalau rumah ini dijual sekarang, mungkin bisa dapat dua puluh."
Mirah berhenti mengunyah. "Dua puluh apa?"
Dara mendengus. "Miliar."
Mirah menatap sekeliling. Dua puluh miliar. Ia hampir tersedak. Rumah ini ternyata bukan sekadar tempat tinggal. Rumah ini adalah harta langka yang diam-diam sudah tertanam di kepala anak-anaknya.
Dara menyendok nasi. "Mak jangan mikir macam-macam." Dara kembali menatap ponselnya. "Kalau laku, Mak juga dapat bagian kok. Rumah ini terlalu besar untuk kita berdua, boros."
Mirah tidak menjawab. Ia memperhatikan perempuan itu. Dara tinggal bersamanya. Dari pakaian, telepon, dan caranya mengatur rumah, Mirah menduga Dara tidak punya pekerjaan yang benar-benar tetap. Tetapi ia bicara seperti pemilik rumah.
"Mak kalau ke rumah sakit jangan sendiri-sendiri lagi. Kalau ada apa-apa di jalan nanti Dara yang disalahin abang sama kakak," celetuk Dara lagi
"Kapan Mak ke rumah sakit?"
Dara menatapnya. "Mak lupa lagi? Kata Dokter kan setiap minggu Mak harus kontrol jantung, tekanan darah, asam urat."
Apa? Aku sudah penyakitan? pekik Mirah dalam hati.
Dara menghela napas. "Mulai sekarang Mak panggil Dara saja kalau mau kemana-mana." Nada suaranya terdengar seperti perhatian. Namun ada sesuatu yang lain di baliknya. Sesuatu yang belum bisa ditangkap Mirah.
---
Saat sedang memijit tumitnya yang meradang, terdengar suara riuh dari pintu depan. Seorang perempuan yang wajahnya mirip Dara tapi agak lebih tua, penuh make up sedang menenteng tas bayi dan beberapa kantong belanjaan muncul. Ia datang membawa dua anak kecil yang langsung berlari masuk tanpa salam. "Nenek!"
Mirah refleks membuka tangan. Anak-anak itu memeluknya. Dari belakang mereka muncul seorang wanita berusia sekitar tiga puluh enam tahun dengan rambut bergelombang yang tampak baru dicurly.
"Mak, titip anak-anak ya."
"Mau ke mana?"
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
Ia sudah mengambil kunci mobil. "Urusan, Mak." Lalu pergi.
Mirah memandang pintu yang tertutup. Dara muncul dari dapur. "Kak Diana pasti mau ketemu calon suaminya yang keempat.
Ia melirik tiga anak kecil yang sudah mengambil mainan dari ruang tengah.
"Entah kali ini bertahan berapa bulan."
Mirah mulai memahami. Diana bukan sekadar sering menikah. Ia juga selalu kembali kepada ibunya setiap kali hidupnya berantakan. Anak-anak dititipkan. Urusan dititipkan. Masalah dititipkan. Ibunya menjadi tempat pulang yang tidak pernah bisa menolak. Tak lama kemudian, suara motor berhenti di halaman. Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Kaosnya kusut. Rambutnya masih basah. Ia langsung membuka kulkas tanpa bertanya.
"Mak, ada uang?"
Mirah menatapnya. "Untuk apa?"
"Mau ketemu orang."
"Siapa?"
"Perempuan."
Dara tertawa dari ruang makan. "Nah, ini baru penting."
Laki-laki itu melirik adiknya. "Aku serius." Ia mengambil botol air. "Aku mau menikah."
Mirah terdiam.
"Menikah? Dengan siapa?"
"Nanti dikenalin."
Mirah menatap laki-laki itu.
Ia belum tahu banyak tentang Dikanya. Tetapi satu hal terlihat jelas. Ia tinggal di rumah ini. Makan di rumah ini. Meminta uang dari ibunya.Dan sekarang ingin menikah.
"Kerjamu?"
Laki-laki itu berhenti minum. "Kenapa?"
"Mak cuma tanya."
"Nanti setelah nikah aku cari."
Dara tertawa. "Jadi sekarang mau menikah dulu baru cari kerja?"
"Memangnya kenapa?"
Mirah menahan napas. Anak ini bukan hanya belum punya pekerjaan. Ia bahkan tidak melihat ketidakpunyaannya sebagai masalah. Ia pergi setelah meminta uang.
Dara memandang punggungnya. "Mak terlalu memanjakan dia."
Mirah menoleh. "Kamu juga."
Dara terdiam. Mirah sendiri kaget mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Namun Dara tidak membantah. Ia hanya membersihkan sisa piring kotor di meja makan.
---
Entah mengapa, baru saja tadi pagi Mirah berganti tubuh menjadi Nek Salma, sorenya ia sudah menguap-nguap. Ia hanya bersender di leher sofa dari siang hingga mentari turun ke ufuk barat. Saat matanya yang rabun hampir menutup, suara seorang laki-laki dewasa menarik kelopak keriputnya kembali terbuka lebar.
"Mak." Ia mencium tangan Mirah lalu duduk di sebelahnya. "Bagaimana kondisi Mak?" tanya lelaki dengan brewok tipis yang mengitari jambangnya itu.
Dara yang juga baru pulang menjawab dari pintu depan. "Belakangan sering sakit."
Lelaki itu menoleh. "Sering?"
"Beberapa kali ke rumah sakit."
"Kenapa aku nggak dikasih tahu?"
"Abang kan sibuk. Mana pernah punya waktu," ujar Dara sambil membawa teh. Mereka saling pandang. Mirah memperhatikan dengan teliti.
"Memangnya kamu kerja apa?" tanya Mirah.
"Kan, apa kubilang. Mak sudah mau pikun. Bahkan kerja abang juga nggak ingat," celetuk Dara.
"Mak? Aku Darma, anggota dprd loh Mak, sebentar lagi mau mencalon. Mak bilang akan selalu dukung keputusanku, kan? Mak ingat?"
"Terus?"
"Aku butuh dana Mak. Buat nyaleg lagi bulan depan. Jadi ....:
"Jadi apa?"
"Kita jual rumah ini ya Mak."
Mirah mematung. Sekarang bukan tumit, melainkan dadanya yanh berdenyut. Seolah Nek Salma sendiri ingin bilang kalau rumah ini tak boleh dijual. Tapi Mirah tak tahu harus bilang apa.
---
Malamnya, rumah kembali sunyi. Diana sudah pergi. Dika tidur di kamarnya. Darmakembali ke rumahnya. Dara duduk di sofa sambil menelepon. Mirah melewati ruang tengah ketika mendengar suaranya.
"Iya Mak sering ke rumah sakit sekarang. Makanya aku bilang, kalian harus mulai mikir."
Mirah berhenti di lorong. Dara menurunkan suara. "Rumah ini bukan kecil."Mirah tidak bergerak. "Kalau nanti terjadi apa-apa, siapa yang mau urus?"
Jeda.
"Dua puluh miliar itu bukan sedikit."
Mirah menatap punggung Dara. Perempuan itu duduk membelakanginya. Suaranya semakin pelan. "Mak sudah tua. Menurutku kita jangan tunggu sampai terlambat."
Mirah mundur sebelum Dara menyadari kehadirannya. Ia masuk ke kamar. Menutup pintu. Duduk di tepi ranjang. Dua puluh miliar. Empat anak. Seorang ibu tua. Dan sebuah rumah yang terlalu besar untuk ditinggali satu orang. Mirah baru berada di tubuh perempuan itu kurang dari sehari. Namun malam itu ia mulai mengerti sesuatu yang membuat tengkuknya dingin. Dara bukan sedang memberi tahu kakak-kakaknya bahwa ibunya sakit. Ia sedang memberi tahu mereka bahwa waktu mereka mungkin sudah tidak banyak.
---
Besok paginya, Darmadatang lebih awal. Tidak membawa buah. Tidak membawa makanan. Ia membawa seorang laki-laki berkemeja yang terus memperhatikan dinding, jendela, dan halaman rumah. Mirah memperhatikannya dari kursi ruang tengah.
"Siapa?"
"Teman," jawab Darma.
Laki-laki itu tersenyum sopan. "Pak Hendra, Mak."
Mirah mengangguk. Pak Hendra tidak duduk lama. Matanya terus berkeliling. "Bagian atap belakang pernah bocor?"
Mirah mengerutkan kening. "Kenapa? Anak saya bilang rumah ini sudah lama tidak diperbaiki." Mirah menoleh kepada Darma."Memangnya kenapa?"
"Mak, jangan tegang begitu."
Laki-laki itu tersenyum lagi. "Saya cuma melihat-lihat." Mirah tidak menyukai caranya memandang rumah. Seperti seorang pembeli yang sedang memilih barang. Setelah beberapa menit, laki-laki itu pamit. Begitu pintu tertutup, Mirah langsung bertanya.
"Dia siapa sebenarnya?"
Darmamerapikan manset kemejanya. "Orang yang biasa membantu urusan properti. Untuk apa?"
Ia menarik napas. "Mak, kita harus mulai memikirkan rumah ini."
"Memikirkan apa?"
"Kalau rumah ini tetap seperti sekarang, lama-lama rusak." Mirah menunjuk atap. "Rumah ini belum roboh."
"Belum sekarang, tapi nanti, Mak udah semakin tua."
Ia tidak menyukai cara mereka mengatakan kata itu. Tua. Seolah-olah usia adalah sebuah surat pemberitahuan bahwa seseorang harus segera menyerahkan barang miliknya.
"Mak masih bisa mengurus rumah ini."
"Sampai kapan?"
Mirah diam.
Darmasegera melunakkan suara. "Jangan salah paham. Saya cuma khawatir."