7 Rumah Mirah

Anggi Gayatri Purba
Chapter #5

AKU BUKAN NADIA SI PSIKOPAT

Bab 5 AKU BUKAN NADIA SI PSIKOPAT


   Mirah terbangun karena suara bor. Bukan suara yang keras. Dengungnya datang dari balik dinding, naik-turun seperti lebah yang terperangkap di dalam rumah. Ia membuka mata dengan kepala berat, menatap langit-langit yang separuh sudah dibongkar. Ada bekas rembesan di sudut plafon. Cat mengelupas. Sebagian dinding telah dikupas sampai bata. Bau semen dan kayu basah memenuhi kamar. Mirah mengerjap. Ini bukan rumah Pakde. Bukan rumah Nenek Salma. Bukan rumah mana pun yang pernah ia tempati. Ia mengangkat tangan untuk mengusap wajah. Tangannya bukan tangannya. Jari-jarinya lebih panjang. Kukunya dipoles warna merah tua. Ada gelang tipis di pergelangan tangan.

   Mirah langsung duduk. Di sebelahnya, seorang laki-laki masih tidur membelakanginya. Rambutnya berantakan. Kaos hitamnya kusut. Satu tangan tergeletak di atas bantal. Mirah mengenal wajah itu. Fatah. Adiknya. Ia mundur sampai punggungnya menempel ke dinding.

   "Fatah?"

   Laki-laki itu bergerak. Matanya terbuka sedikit. "Kamu kenapa?"

   Mirah menutup mulut. Fatah mengangkat tubuh, lalu menatapnya dengan wajah mengantuk. "Kambuh lagi?"

   Mirah tidak menjawab.

   Fatah menghela napas. "Aku kira malam ini kita sudah selesai dengan drama seperti ini."

   Drama?

   Fatah bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya. "Aku ke bawah."

   "Fatah."

   Ia berhenti di ambang pintu.

   Mirah ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Bahwa ia kakaknya, Mirah. Bahwa ada sesuatu yang salah. Tapi wajah Fatah terlihat lebih mengerikan dari harimau sumatera.

   Fatah menatapnya beberapa detik, lalu berkata datar, "Kalau mau marah, jangan sekarang. Aku capek."

   Pintu tertutup. Mirah menatap pantulan dirinya di kaca lemari. Wajah seorang perempuan menatap balik. Perempuan yang tidak dikenalnya. Rambut sebahu. Mata tajam. Bibir tipis. Ada tahi lalat kecil di bawah mata kiri. "Nadia." Nama itu muncul begitu saja di kepalanya. Mirah terdiam. Ia tidak tahu dari mana nama itu datang, tetapi tubuh ini seperti menyimpannya di setiap lipatan ingatan. Nadia. Pacar Fatah. Mirah terduduk di tepi tempat tidur. "Kenapa harus Fatah?" Ia menatap langit-langit seolah rumah bisa menjawab. Tidak ada jawaban. Hanya suara bor dari balik dinding.

---

   Dari kamar, Mirah mulai mengumpulkan potongan-potongan kehidupan Nadia. Ponsel di atas meja menjadi petunjuk pertama. Layar terbuka dengan sidik jari. Puluhan pesan masuk. Sebagian besar dari Fatah. Pesan terakhir dikirim pukul dua lewat tiga belas menit dini hari. 

«Aku sudah bilang jangan tunggu aku.»

 Pesan berikutnya. «Jangan telepon terus.»

Lalu

«Nadia, aku serius.»

Dan terakhir:

«Aku capek.»

   Mirah membaca semuanya dua kali. Tidak ada satu pun pesan yang terdengar seperti percakapan pasangan yang sedang baik-baik saja. Ia membuka galeri. Foto Nadia dan Fatah memenuhi layar. Mereka berdua di kampus. Di depan panggung teater. Di sebuah kedai kopi. Di pantai. Di dalam mobil. Ada foto mereka mengenakan pakaian teater, berdiri berdampingan dengan beberapa mahasiswa lain. Tanggal foto pertama membuat Mirah berhenti. Semester satu. Berarti hubungan mereka sudah berlangsung bertahun-tahun. Mirah menggeser foto berikutnya. Fatah sedang tertawa. Nadia mencium pipinya. Foto berikutnya. Mereka bertengkar. Foto berikutnya. Fatah tertidur di bahu Nadia. Lalu semakin ke bawah, foto-foto itu berubah. Fatah semakin jarang tersenyum. Nadia semakin sering memotret dirinya sendiri. Mirah membuka percakapan lama. Ia membaca sekilas. Semakin lama, semakin tidak nyaman. Di mana kamu? Kenapa lama balasnya? Siapa perempuan itu? Aku tahu kamu bohong. Kalau kamu pergi sekarang, jangan pulang. Lalu beberapa menit kemudian: Aku takut kehilangan kamu. Mirah menurunkan ponsel.

   "Astaga." Jadi inilah Nadia. Bukan sekadar perempuan pencemburu. Ia bahkan belum tahu separuhnya. Namun sebelum sempat mencari lebih jauh, terdengar ketukan. Fatah masuk membawa dua gelas kopi. Ia meletakkan satu di meja. "Minum."

   Mirah menatap gelas itu. "Untukku?" Fatah tertawa hambar. "Biasanya kamu marah kalau aku bikin tanpa tanya."

   Mirah mengangkat alis. "Kenapa?"

   Fatah memandangnya aneh. "Karena kamu bilang kopi bikin kamu susah tidur."

   "Ya sudah. Aku minum."

   Fatah duduk di kursi. Mereka terdiam. Biasanya, mungkin Nadia akan memulai pertengkaran. Mirah tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya Fatah membuka suara. "Aku minta maaf soal tadi malam."

   "Tadi malam kenapa?"

   Fatah menatapnya. "Serius?"

   Mirah buru-buru menyeruput kopi. "Pusing. Lupa."


   "Kita memang sudah lama begini. Aku capek bertengkar setiap hari."

   Kata-kata itu tidak terdengar seperti keluhan. Lebih seperti pengakuan seseorang yang sudah terlalu lama ditunda. Fatah menatap lantai. "Awalnya kamu enggak seperti ini. Dullu kamu bisa ketawa kalau aku pulang telat. Sekarang telat sepuluh menit saja kamu bisa bikin satu kampus tahu."

   Mirah hampir tersenyum. Entah kenapa, kalimat itu terdengar sangat seperti Fatah. "Kenapa kamu masih bertahan?" tanyanya.

   Fatah menatapnya. Pertanyaan itu membuatnya lama terdiam. "Karena aku masih ingat Nadia yang dulu."

   Mirah menahan napas.

   "Dulu kita ketemu di teater. Semester satu. Kamu yang ngajak aku ikut latihan." Fatah tersenyum tipis. "Kamu bahkan lebih galak waktu itu."

   Mirah ikut tersenyum kecil.

   "Terus?"

   "Terus kamu berubah."

   "Jadi sekarang kamu mau putus?"

   Fatah mengusap wajah. "Aku enggak tahu."

   Jawaban itu lebih menyakitkan daripada iya.

   "Aku cuma tahu aku sudah capek."

   Mirah menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak bangun di tubuh Nadia, ia merasa sedikit kasihan kepada laki-laki di depannya. Bukan karena Fatah adalah adiknya. Melainkan karena untuk pertama kalinya ia melihat Fatah dari luar dirinya sendiri. Fatah tidak sedang mencari alasan untuk pergi. Ia sedang mencari alasan untuk tetap tinggal.

---

   Siang harinya, pekerja renovasi kembali masuk. Dinding ruang keluarga dibongkar. Lantai lama sudah diangkat. Kabel listrik bergelantungan dari plafon. Mirah berdiri di tengah kekacauan itu sambil memperhatikan sebuah gambar rancangan rumah yang ditempel di dinding. Rupanya rumah ini sedang direnovasi cukup besar. Ruang keluarga akan diperluas. Dapur dipindahkan. Kamar utama diperbesar. Ada ruang kecil di belakang yang akan dijadikan ruang kerja. Mirah menatap gambar itu. Rumah ini sedang dipersiapkan untuk sesuatu. Mungkin pernikahan. Mungkin kehidupan bersama. Ia belum tahu. Fatah datang membawa dua piring nasi. "Jangan berdiri di situ. Nanti kena debu."

   Mirah bergeser. "Rumah ini direnovasi karena apa?"

   Fatah berhenti. "Kamu lupa juga?"

   Mirah mengangguk. Fatah menatapnya lama. "Karena kita mau tinggal di sini setelah menikah."

   Mirah tersedak. "Menikah?"

   Fatah tertawa kecil. "Kamu yang paling ribut soal rumah ini."

   Mirah menatap ruangan yang setengah jadi. Perutnya terasa mual. Menikah. Dengan Fatah. Adiknya sendiri. Tubuhnya memang bukan tubuhnya. Tetapi pikirannya masih milik Mirah. "Enggak usah sekarang," katanya cepat.

   Fatah mengernyit. "Kenapa?" "Rumahnya belum selesai." "Justru itu."

   "Pokoknya jangan bahas."

   Fatah tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak tadi pagi, senyum itu terlihat tulus. "Oke."

   Mirah menunduk. Ia berharap renovasi ini cepat selesai. Semakin cepat rumah ini selesai, semakin cepat ia keluar dari sini. 

---

   Hari-hari berikutnya membuat Mirah semakin bingung. Ia mencoba menghindari Fatah. Fatah justru semakin mendekat. Ia tidak lagi memaksa. Tidak menuntut. Tidak bertanya kenapa Nadia berubah. Ia hanya mulai melakukan hal-hal kecil. Membawakan sarapan. Menjemput ketika hujan. Mengingatkan obat ketika Nadia pusing. Bahkan suatu malam, ketika Mirah sedang duduk sendirian di teras, Fatah datang membawa jaket.

   "Pakai."

   "Aku enggak dingin."

   "Sudah." Ia menyampirkan jaket itu ke bahu Mirah. Perempuan itu langsung menegang. Fatah mundur. "Kenapa?"

   "Enggak apa-apa."

   "Kamu aneh akhir-akhir ini."

   "Aneh bagaimana?" 

   Fatah tersenyum. "Enggak tahu. Kamu seperti Nadia yang dulu."

   Mirah menelan ludah. Ia tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan. Fatah memandang halaman yang sebagian sudah dipenuhi material bangunan.   "Aku sempat berpikir kita enggak akan sampai sejauh ini."    

   "Sejauh apa?"

   "Sampai aku berhenti marah. Sekarang aku mulai kangen kamu."

   Mirah membeku. Ia ingin berdiri. Ingin lari. Ingin berteriak bahwa perempuan yang dirindukan Fatah tidak sedang duduk di depannya. Tetapi ia hanya bisa menatap halaman. Di dalam kepalanya, satu kesimpulan mulai terbentuk. Fatah mengira Nadia sudah berubah. Dan perubahan itu justru membuatnya ingin kembali. Mirah menghela napas. Ia belum tahu bahwa Nadia sebenarnya adalah perempuan yang jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat dari pesan-pesan di ponsel. Ia juga belum tahu bahwa dirinya sedang berjalan memasuki kehidupan yang telah dibangun seseorang dengan kebohongan, kecemburuan, dan obsesi. Untuk sementara, Mirah hanya tahu satu hal. Ia harus membuat Fatah menjauh. Secepat mungkin. Masalahnya, ia belum tahu caranya. Dan lebih buruk lagi, Fatah tampaknya justru mulai jatuh cinta lagi kepada Nadia.

---

   Perubahan Fatah tidak terjadi sekaligus. Mula-mula hanya berupa hal-hal kecil yang hampir tidak layak disebut perubahan. Ia tidak lagi pulang dengan wajah tegang. Tidak lagi menyembunyikan layar ponsel. Tidak lagi menghela napas setiap kali Nadia bertanya sesuatu. Bahkan ketika Mirah tidak bertanya sama sekali, Fatah justru mulai bercerita. "Besok aku ada rapat sama anak-anak kantor."

   Mirah yang sedang menyisir rambut menoleh. "Kantor apa?"

   Fatah mengangguk. "Kamu lupa lagi?"       

   Mirah buru-buru menggeleng. "Enggak. Cuma..." Ia mencari kata yang aman. "Sudah lama?"

   "Sejak lulus kuliah." Fatah tersenyum. "Kamu yang ngajak aku ngelamar ke situ." Mirah terdiam. Lagi-lagi cerita tentang masa yang tidak pernah ia jalani.

   Ia hanya mengangguk, lalu kembali menyisir rambut. Fatah memperhatikannya dari ambang pintu. "Kamu enggak mau tanya aku sama siapa?" 

   "Enggak."

   "Enggak mau tahu ada siapa saja?"

   "Enggak."

   "Enggak mau marah?"

   Mirah menatapnya. "Memangnya kenapa aku harus marah?"

   Fatah tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Lalu pergi.

   Mirah menatap pintu yang tertutup. Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dadanya. Sepertinya ia baru saja melakukan sesuatu yang salah.

---

   Malam itu Fatah pulang hampir pukul sebelas. Mirah masih terjaga di ruang tengah. Rumah yang sedang direnovasi membuatnya sulit tidur. Plastik pelindung masih menutup sebagian lantai. Bau cat menempel di udara. Dari dapur terdengar tetesan air dari keran yang belum selesai diperbaiki. Fatah masuk sambil melepas sepatu. Begitu melihat Mirah, ia berhenti. "Kamu belum tidur?"

   "Belum."

   "Kenapa nungguin?"

   Mirah mengangkat bahu.

   "Dulu kalau aku pulang jam segini, kamu sudah tiga kali telepon."

   Mirah mengernyit. "Serius?"

   "Kadang lebih."

   "Capek?" tanya Mirah.

   "Sedikit."

   "Rapatnya gimana?"

   "Baik."

   "Teater masih sering latihan?"

   "Kadang."

   "Besok aku tunjukkan foto-foto teater kita."

   Mirah langsung menegang. "Enggak usah."

   "Kenapa?"

   "Malas."

   Fatah tertawa. "Dulu kamu bisa berjam-jam melihat foto sendiri."

   "Orang bisa berubah."

   "Kamu berubah."

   Mirah menatapnya. "Kamu enggak marah?"

   "Kenapa harus marah?"

   "Karena aku enggak seperti dulu."

   Fatah tersenyum. "Justru itu." Ia bangkit dan mengambil segelas air. "Kayaknya aku mulai suka kamu yang sekarang."

   Mirah membeku. Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di kepala Mirah, kalimat itu seperti alarm kebakaran.

---

   Besoknya Fatah benar-benar menunjukkan foto-foto lama. Mereka duduk di ruang keluarga yang belum selesai. Dinding baru dicat, tetapi bagian dekat jendela masih dibiarkan terbuka. Cahaya pagi masuk bersama debu halus yang beterbangan. Fatah menggeser layar ponselnya. "Ini pertama kali kita tampil."

   Mirah melihat foto. Nadia dan Fatah berdiri di atas panggung. Nadia mengenakan pakaian hitam. Fatah memakai kemeja putih. Mereka tersenyum. Mirah tidak merasakan apa-apa. Bukan karena foto itu buruk. Justru terlalu indah. Itu kenangan yang seharusnya menjadi milik orang lain.

   "Ini setelah pentas." Foto berikutnya. Fatah tertawa sambil membawa dua botol air. Nadia berdiri di sampingnya. "Ini kamu marah karena aku lupa beli makanan."

   Mirah tersenyum tipis. "Kok kamu masih ingat?"

   "Aku ingat semuanya." Fatah mengatakannya sambil tetap menatap layar.

Mirah menoleh. Ada sesuatu dalam suara itu. Rindu. Bukan rindu kepada Nadia yang sekarang. Rindu kepada Nadia yang dulu. Perempuan yang menurut Fatah sudah lama hilang. Dan tanpa sengaja, Mirah sedang mengembalikannya.

---

   Semakin hari, Fatah semakin dekat. Ia mulai menunggu Mirah bangun. Mengajak sarapan. Membeli makanan kesukaannya. Kadang mengirim pesan dari ruangan lain hanya untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya bisa disampaikan dengan suara. Jangan lupa makan. Pekerjanya sudah datang. Hari ini rumah dicat. Pulang agak malam. Mirah membaca pesan-pesan itu dengan perasaan campur aduk. Dulu ia menganggap Fatah terlalu kekanak-kanakan. Sekarang ia melihat bahwa Fatah hanya punya cara sendiri untuk menunjukkan perhatian. Masalahnya, perhatian itu diarahkan kepada orang yang salah. Suatu sore, Fatah pulang membawa sekantong makanan. "Ini."

   Mirah melihat isinya. "Apa?"

   "Martabak."

   "Aku enggak pesan."

   "Aku tahu."

   "Terus kenapa beli?"

   "Karena kamu suka."

   Mirah terdiam. Fatah membuka kotaknya. "Masih suka, kan?"

   Mirah mengangguk. "Masih."

   "Syukurlah." Fatah tersenyum. Ia mengambil sepotong, lalu menyodorkannya.

"Ini."

   Mirah langsung mengambilnya sendiri. "Enggak usah."

   Fatah tertawa. "Kamu kenapa sih?"

   "Kenapa?"

   "Setiap aku dekat, kamu seperti mau kabur."

   Mirah menatap martabak di tangannya. "Perasaanmu saja."

   "Enggak." Fatah menatapnya. "Kamu memang menghindar."

   Mirah tidak menjawab.

   Fatah perlahan mendekat. Tangannya terangkat hendak menyentuh rambut Mirah. Refleks, Mirah menepis tangannya.

   Fatah terdiam. Mirah juga. Keduanya saling menatap. "Maaf," kata Fatah.

   Mirah menelan ludah. "Jangan terlalu dekat."

   Fatah terlihat terluka. "Kenapa?"

   Mirah tidak mungkin mengatakan alasannya. Karena wajah yang sedang memandangnya adalah wajah adiknya. Karena tangan yang hampir menyentuh rambutnya adalah tangan yang pernah ia cubit ketika Fatah masih kecil. Karena ia tidak pernah membayangkan suatu hari harus berpura-pura menjadi perempuan yang dicintai Fatah. "Aku cuma belum terbiasa," katanya.

   Fatah mengangguk. "Oke."Ia mundur. Tidak memaksa. Mirah justru merasa lebih bersalah.

---

   Malamnya, Mirah duduk di kamar sambil memandangi wajah Nadia di cermin. "Masalah." Ia menunjuk pantulannya. "Ini masalah besar." Fatah semakin dekat. Kalau terus begini, hubungan mereka bisa kembali. Dan itu tidak boleh terjadi. Ia harus membuat Fatah menjauh. Tetapi bagaimana?

   Mirah membuka ponsel Nadia. Kali ini ia membaca lebih dalam. Ada percakapan dengan Fatah yang membuat bulu kuduknya meremang. Jangan bertemu perempuan itu lagi. Kenapa kamu hapus pesan dariku? Aku tahu kamu pergi ke mana. Kalau kamu enggak jawab teleponku, aku datang. Lalu ada satu pesan yang membuat Mirah berhenti. Aku bisa bikin kamu kehilangan semuanya kalau kamu meninggalkanku. Mirah menatap layar lama. "Edan." Ia baru sadar. Nadia bukan sekadar pencemburu. Nadia memang mengendalikan Fatah. Ia membuat Fatah takut. Mungkin selama ini Fatah bukan bertahan karena cinta. Mungkin ia bertahan karena tidak tahu bagaimana cara keluar. Mirah menutup mata. Kalau begitu, cara paling mudah membuat Fatah menjauh adalah menjadi Nadia lagi. Ia harus menakutinya.

---

   Pagi berikutnya Mirah memutuskan untuk mencoba. Fatah sedang sarapan. Mirah duduk di depannya. "Kamu tadi malam sama siapa?"

Fatah mengangkat kepala. "Teman."

   "Teman siapa?"

   "Anak teater."

   "Perempuan?"

   Fatah diam. Mirah menunggu.

   "Kenapa?"

   "Jawab."

   Fatah mengerutkan dahi. "Perempuan."

   Mirah mengangguk pelan. "Namanya?"

   "Salsa."

   Mirah langsung teringat nama itu. Salsa. Perempuan yang pesannya pernah muncul di ponsel Fatah. "Kenapa dia menghubungimu?"

Lihat selengkapnya