7 Rumah Mirah

Anggi Gayatri Purba
Chapter #6

DUA MAYAT DI RUANG TAMU

Bab 6 DUA MAYAT DI RUANG TAMU

   Bau besi berkarat, itu yang pertama kali dicium Mirah ketika ia membuka mata entah untuk yang ke berapa kali. Bukan bau cat. Bukan bau semen basah yang biasanya memenuhi rumah-rumah yang sedang direnovasi. Kali ini Mirah tidak terbangun dj atas sebuah ranjang seperti biasa, melainkan sedang berdiri.

   Ia belum sempat memahami apa yang terjadi ketika sesuatu di bawah pandangannya membuat seluruh tubuhnya membeku. Dua orang perempuan dengan mulut berbuih tergeletak begitu saja di ruang tamunya. Yang satu masih sangat muda, perutnya besar dan tubuhnya mungil. Yang satu lagi tampak sudah tua. Garis senyum dan kerut-kerut di ekor matanya diukir dengan jelas. Mirah menahan napas. "Ya Tuhan, apalagi ini ...."

   Suara Mirah terdengar berat seperti suara laki-laki dewasa. Ia menoleh ke lemari kaca besar di ruang tamu. Kaca itu memantulkan bayangan seorang pria berusia hampir lima puluh tahun. Rambut cepaknya mulai memutih. Kumis dan jambangnya tampak lebat di kaca itu. Mirah memperhatikan lengan dan jari-jarinya yang besar. Ada bulu-bulu kasar yang tumbuh di sana. Bayangan di kaca melakukan hal yang sama. Saat itulah Mirah sadar ia sudah berpindah lagi. Tetapi kali ini bukan ke tubuh seorang perempuan. Ia menjadi laki-laki. Dan sebelum sempat mencari tahu siapa dirinya, dua mayat telah menunggunya di ruang tamu.

   "Pa ...." Suara perempuan terdengar dari belakang.

   Mirah balik badan. Seorang perempuan berdiri dekat meja makan. Usianya sekitar pertengahan empat puluhan. Wajahnya basah oleh air mata. Tangannya gemetar.

   "Lestari?" Nama itu muncul begitu saja di kepala Mirah. Entah dari mana. 

   Perempuan itu mendekat. "Mas, jangan panggil polisi." Lestari menggenggam lengannya.

   "Siapa mereka?"

   Lestari tidak menjawab.

   "Siapa mereka, Tari?"

   Perempuan itu menangis lebih keras. "Yang satu Sari." Mirah menatap mayat perempuan muda itu. "Yang satunya ibunya."

   "Kenapa mereka di sini?"

   Lestari menggeleng. "Mau bicara."

   "Ngomong apa?"

   "Tentang Angga."

   Nama itu kembali muncul dalam kepala Mirah. Angga. Anak laki-laki sulung. Dua puluh tahun. Kuliah. Sering pulang larut. Mirah tidak tahu bagaimana informasi itu bisa muncul di kepalanya, tetapi ia mulai memahami kehidupan tubuh yang sekarang ditinggalinya. Ramek. Namanya ramek. Suami Lestari. Ayah Angga dan Naya. Rumah besar yang sedang direnovasi. Dan sekarang dua perempuan mati di ruang tamunya. "Di mana Angga?"

   "Di ... di kamar mandi."

   Mirah kembali memandang mayat dua perempuan tadi. "Ada apa ini sebenarnya!"

   Lestari diam saja. 

   "Kalau mereka datang untuk membicarakan Angga, kenapa mereka mati?"

   Lestari menunduk. "Aku tidak bermaksud ...." Lestari menutup mulutnya sendiri. Mirah menatap kedua mayat itu. Kemudian menatap istrinya.

   "Jelaskan."

   "Aku cuma ingin mereka pulang."

   "Terus?"

   "Mereka tidak mau."

   "Terus?"

   Lestari menangis. "Mereka bilang Angga harus menikahi Sari secepatnya, sebelum perutnya makin besar. Tapu Mas kan tahu anak kita sudah semester akhir, masa belum lulus sudah nikah, sama gadis kampung pula. Mama nggak rela ...." Lestari mulai sesunggukan.

   "Terus kamu bunuh mereka?"

   Lestari mengangguk. "Percayalah Mas, Mama terpaksa demi keluarga kita. Kalau Mamanya Celin tahu Angga selingkuh, kerja sama perusahaan kita bisa batal. Temen-temen sosialita Mama juga bakal hilang semua, Pa."

   Mirah bebar-benar merasakab kepalanya berdenyut. Baru kali ini dia diharuskan mengatasi masalah kriminal yang bukan masalahnya. Karena tak mau ambil pusing, Mirah pun memutuskan untuk menelepon polisi dan membiarkan Lestari menanggung perbuatannya.

   "Nggak! Kamu udah membunuh orang-orang nggak bersalah Tari. Aku nggak bisa bantu, aku mau telepon polisi."

   Lestari terbelalak. "Ja ... ngan!" 

   Ketika Mirah sedang mencari ponsel, terdengar suara anak gadis yang berlari ke arahnya. "Tunggu! Kalau Papa laporin Mama, Naya bakal bunuh diri!" Gadis itu mengarahkan pisau dapur yang siap menggorok lehernya. 

   "Buat apa Naya hidup lagi kalau nggak ada Mama! Bisa-bisanya Papa lebih milih dua orang kampung ini daripada Mama! Dimana otak Papa!" Gadis itu bertubuh kurus tapi bentakannya sangat memekakkan telinga.

   Karena tak ingin melihat mayat baru lagi, Mirah pun menurut. "Iya, Papa nggak jadi laporin. Udah buang pisaunya."

   Naya pun menghambur ke pelukan Lestari.

   "Terus gimana sama dua mayat ini? Mau dikemanain?"

   Lestari yang tadinya semringah kini memucat. Ia memjit alisnya sebentar sebelum kemudian tumbang di antara mayat Sari dan ibunya.

---

   Lestari sedang menyiram bunga ketika seorang perempuan berdiri di depan pagar. Perempuan itu tampak ragu untuk mengetuk. Di sampingnya ada seorang gadis muda yang sejak tadi menundukkan kepala. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, dan satu tangannya terus menekan bagian bawah perutnya meskipun belum ada perubahan besar yang bisa terlihat dari luar. Lestari mematikan keran. "Siapa?"

   Perempuan yang lebih tua maju selangkah. "Maaf, Bu. Kami mau bertemu Angga."

   Lestari mengernyit. "Angga? Anda siapa?"

   Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Rukmini. Gadis di sampingnya bernama Sari. Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Lestari. Ia belum pernah mendengarnya. Ia menatap Sari dari ujung kepala sampai kaki. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari gadis itu. Pakaiannya sederhana, sandal jepitnya sudah kusam, dan rambutnya diikat seadanya. "Angga ada di dalam." Lestari membuka pagar. "Masuklah." Mereka mengikuti Lestari menuju ruang tamu.

   Sari duduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Rukmini justru terlihat lebih tegang daripada anaknya. Lestari menawarkan minum. "Teh atau air putih?"

   "Air putih saja," jawab Rukmini.

   "Baik." Lestari pergi ke dapur.

   Begitu sendirian, Sari berbisik, "Bu, kita pulang saja."

   Rukmini menggeleng. "Kita sudah sampai."

   "Tapi saya takut."

   "Takut apa?"

   Sari tidak menjawab. Lestari kembali membawa dua gelas air. Ia meletakkannya di meja. "Angga sebentar lagi turun."

   Sari mengangguk. Lestari duduk di hadapan mereka. "Maaf, saya belum pernah bertemu kalian sebelumnya."

   Rukmini mengangguk. "Kami juga belum pernah bertemu Ibu."

   Lestari tersenyum. "Jadi ada apa?"

   Rukmini menatap Sari. Sari mengangkat wajah. "Saya hamil anak Angga."

Kalimat itu sederhana. Tetapi Lestari merasa seperti baru saja mendengar suara benda pecah. Tangannya yang semula berada di atas lutut berhenti bergerak. Ia memandang Sari. Kemudian Rukmini. Lalu kembali kepada Sari. "Maaf?"

   "Saya hamil, Bu."

   Lestari tidak langsung menjawab. Ada banyak hal yang muncul di kepalanya sekaligus. Angga. Celine. Pernikahan. Keluarga sahabatnya. Masa depan anak laki-lakinya. Semuanya bergerak begitu cepat, tetapi wajah Lestari tidak menunjukkan satu pun dari itu. Ia justru mengambil napas perlahan. "Sejak kapan?"

   "Sudah dua bulan."

   "Angga tahu?"

   Sari mengangguk. "Tahu."

Lihat selengkapnya