7 Rumah Mirah

Anggi Gayatri Purba
Chapter #7

MENJADI KUCING

Bab 7 MENJADI KUCING

   Ketika Mirah membuka mata, dunia sudah tampak berbeda. Lebih rendah. Lebih abu-abu. Ia mencoba mengangkat tangan untuk mengucek mata. Sebab seumur hidup dia tidak pernah buta warna. Namun ketika Mirah mencoba menggunakan jari telunjuknya, yang tampak malah bulu putih abu-abu seperti warna bulu kucingnya. Mirah menelentangkan telapak tangannya, yang tampak masih bantalan kaki merah muda yang berbulu pinggir-pinggirnya, bukan telapak tangan manusia! Mirah mencoba menyentuh kedua pipinya. Dan wajahnya ternyata juga berbulu, bahkan berkumis! 

   Jantung Mirah mulai berdentang-denting tak keruan. Mungkinkah ia ... sekarang menjadi kucing? Ia mencoba berjalan dengan dua kaki, tetapi rasanya lebih susah daripada berjalan dengan empat kaki. Pelan-pelan, Mirah melihat ke bawah tubuh. Sekarang ia punya empat kaki kecil. Punya ekor kemoceng. Dan ketika ia melihat ke cermin di lemari, seekor kucing putih abu-abu menatapnya balik. Ia kenal betul kucing itu. Sangat mengenalnya. Seperti separuh jiwanya. "Moon?" panggil Mirah. Tapi yang keluar dari mulutnya bukanlah suara manusia. Melainkan suara kucing, "Meong?"

   Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan paruh baya yang selalu kuncir satu bau rumput pagi hari muncul. Mirah mengenal wajah itu. Mak. Perempuan itu berhenti begitu melihat kucing di atas tempat tidur. Matanya membesar. "Moon?"

   Mata Mirah berbinar. Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakannya. Tentang rumah-rumah. Tentang orang-orang yang pernah ia masuki. Tentang keluarga yang tidak pernah benar-benar menjadi keluarganya. Tentang dirinya sendiri yang selama ini mencari tempat untuk pulang. Namun ia hanya bisa menggerakkan ekornya. Mak mendekat. Tangannya menyentuh kepala Moon. "Ke mana saja kamu?"

   Mirah memicingkan mata. Untuk pertama kalinya, dia merasa ingin terus dielus oleh Mak. 

---

   Entah karena sekarang menjadi kucing entah karena cuaca yang mendung sejak kemarin, Mirah tak pernah tidur dengan begitu nyaman di rumah ini. Ia membuka mata di atas bantal yang dulu sering dipakainya tidur ketika masih menjadi Mirah. Hujan baru saja berhenti. Dari luar jendela, tetes air masih jatuh dari ujung talang, satu-satu, anak tk yang baru belajar menghitung. Untuk beberapa detik, Moon hanya diam. Kemudian ia mengangkat kepalanya. Bulu abu-abunya. Kaki kecilnya. Ekor yang bergerak sendiri ketika ia terkejut. Ia benar-benar telah menjadi Moon. Bukan Mirah. Bukan Nadia. Bukan Ramek. Tapi Moon.

   Ia melompat turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Di lorong, bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma bawang goreng dari dapur. Rumah itu terasa begitu hangat hampir-hampir membuat Mirah menangis. Ia melewati ruang tamu. Di sana ada sofa lama yang kainnya mulai pudar. Meja kecil dengan taplak bunga yang tidak pernah diganti. Kalender yang tergantung miring. Sertifikat juara lomba novel nasionalnya yang tetap berdebu. Semuanya masih ada. Rumah itu masih ada. Ia berlari ke dapur. Mak sedang menggoreng telur. Perempuan itu menoleh ketika mendengar suara kakinya. "Moon."

   Mirah berhenti. Sudah lama sekali ia tidak mendengar namanya dipanggil dengan suara seperti itu. Mak mengambil sedikit ikan dari piring, meniupnya agar tidak panas, lalu meletakkannya di mangkuk kecil. "Kamu lapar ya?"

   Mirah menatap mangkuk itu. Ia ingin menjawab. Ingin mengatakan bahwa ia telah pergi ke enam rumah. Bahwa ia sudah menjadi perempuan-perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Bahwa ia tahu rasanya menjadi ibu yang kehilangan anak, perempuan yang terjebak dalam hubungan beracun, ayah yang menyimpan dosa keluarganya. Namun yang keluar hanya "Meong."

   Mak tertawa. "Masih cerewet." Ia mengusap kepala Moon. Mirah memejamkan mata. Tangannya tidak ada. Yang ada hanya kepala kecil yang dibelai telapak tangan Mak. Aneh. Sewaktu menjadi Mirah dia selalu risih ketika Mak mengelus kepalanya. Ketika menjadi kucing Mirah malah merasa ketagihan.

---

   Bapak sedang duduk di teras ketika Moon menemukannya. Seperti biasa, lelaki itu memegang gelas kopi dan membaca koran yang sebenarnya lebih sering dipakai untuk menutupi wajah ketika mengantuk. Moon melompat ke kursi sebelahnya. Bapak melirik. "Kamu lagi."

   Moon duduk. Bapak kembali melihat koran. Beberapa detik kemudian, tangannya bergerak mengusap punggung Moon tanpa melihat. Gerakannya otomatis. Kebiasaan bertahun-tahun. Mirah menatap tangan itu. Tangan yang dulu sering mengacak rambutnya. Tangan yang pernah membawanya ke dokter ketika demam. Tangan yang pernah memukul meja ketika mereka bertengkar. Tangan yang juga pernah diam-diam meletakkan uang di bawah bantalnya ketika Mirah tidak punya uang untuk membeli sesuatu. Ia baru ingat. Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia anggap sebagai kasih sayang. "Jangan tidur di sini," kata Bapak.

   Moon tidak bergerak. "Nanti bulumu menempel." Moon tetap diam. Bapak menghela napas. "Ya sudah."

   Mirah hampir tertawa. Bapak selalu begitu. Mengomel sedikit, menyerah banyak.

---

   Fatah pulang menjelang siang. Pintu depan terbuka. "Assalamualaikum." Moon langsung berlari. Fatah menaruh tas di lantai. "Moon?"

   Kucing itu berdiri di depan kakinya. Fatah membungkuk. "Kau kok kayak nungguin aku?" Mirah menatap wajah adiknya. Ada sesuatu yang berubah. Fatah terlihat lebih kurus. Lebih dewasa. Entah karena waktu, entah karena Mirah melihatnya dengan mata yang berbeda. Dulu, ketika masih menjadi Mirah, ia selalu melihat Fatah sebagai adik yang menyebalkan. Pemalas. Keras kepala. Terlalu banyak meminta. Terlalu sedikit membantu.

   Sekarang, setelah menjadi Nadia, ia tahu bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang yang tulus seperti adiknya. Setelah menjadi Ramek, ia tahu bagaimana orang tua bisa melakukan kesalahan demi melindungi anak. Setelah menjadi orang lain berkali-kali, ia mulai melihat Fatah bukan sebagai daftar kekurangan. Ia melihatnya sebagai manusia.

   Fatah mengangkat Moon. "Kau tambah berat." Mirah menjilat hidungnya. Fatah tertawa. "Jangan begitu." Moon memukul wajah Fatah dengan telapak kakinya. "Galak." Fatah memeluknya. Mirah mendadak kaku. Bukan karena tidak suka. Justru karena terlalu suka.

---

   Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Tetapi Mirah tidak lagi menjalani rumah itu seperti dulu. Ia memperhatikan semuanya. Mak yang selalu mencicipi masakan sebelum orang lain makan. Bapak yang setiap malam mengecek pintu dua kali. Fatah yang mengaku tidak lapar tetapi diam-diam mengambil lauk paling banyak. Hal-hal kecil itu kini menjadi penting. Mirah bahkan mulai mengikuti Mak ke mana-mana. Ke dapur. Ke halaman. Ke kamar. Sampai Mak suatu hari berkata, "Kenapa sih kamu sekarang nempel terus?"

   Moon duduk di ambang pintu. Mak menggeleng. "Jangan-jangan kamu sakit." Mirah menatapnya. Kalau saja ia bisa bicara, ia ingin bilang ia rindu Mak sepuluh ribu kali.

---

   Suatu sore, Mirah mendengar suara tukang dari halaman. "Besok kita lanjut bagian belakang, Pak." Ia langsung berlari. Renovasi. Benar. Ia hampir lupa. Rumah itu masih direnovasi. Beberapa bagian halaman belakang sedang dibongkar. Tembok kecil sudah diruntuhkan. Material bangunan menumpuk di sudut halaman. Mirah memandang para pekerja dengan perasaan tidak enak. Ia tahu apa artinya. Renovasi selesai berarti ia akan pergi lagi. Kali ini ia tidak ingin pergi. Tidak setelah menemukan kembali rumahnya.

   Malam itu ia duduk di dekat tumpukan material. Ketika semua orang tidur, ia memperhatikan halaman. Ada sepotong plastik pelindung yang tergeletak di dekat semen. Mirah menariknya. Sedikit. Kemudian lebih kuat. Plastik itu terseret dan menjatuhkan beberapa benda. Ia berhenti. Dulu ia mungkin akan tertawa melihat kekacauan kecil itu. Sekarang ia sadar apa yang sedang dilakukannya. Ia sedang menghambat renovasi. Ia sedang berusaha menahan waktu. Moon menatap kekacauan itu. Kemudian ia mendengar suara dari belakang. "Moon?"

Lihat selengkapnya