Bab 8 RUMAH YANG TERSISA
Bau obat adalah hal pertama yang dikenali Mirah. Bukan bau dapur Mak. Bukan kopi Bapak. Bukan bau tanah setelah hujan yang biasa menyelinap dari halaman belakang. Obat. Kemudian suara mesin yang berbunyi teratur di dekat kepalanya. Tit. Tit. Tit. Mirah mencoba membuka mata. Cahaya putih menyambutnya terlalu terang. Ia segera memejamkannya lagi. Tubuhnya terasa berat seperti dipinjamkan kepada orang lain terlalu lama. Ia mencoba menggerakkan tangan. Jari-jarinya bergerak. Mirah terdiam. Tangan. Ia masih memiliki tangan.
Ia mengangkatnya perlahan. Kulit manusia. Kuku manusia. Bekas luka kecil di dekat ibu jari yang ia dapat ketika memotong bawang bertahun-tahun lalu. Ia menyentuh wajah. Hidung. Bibir. Rambut. Tubuhnya sendiri. Mirah. Ia kembali menjadi Mirah. Air mata menggenang begitu saja. Bukan karena sakit. Karena lega. Setelah menjadi begitu banyak orang, akhirnya ia kembali menjadi dirinya sendiri. Ia membuka mata sekali lagi. Seseorang duduk di samping ranjang. Lelaki itu menunduk dengan kedua tangan terkatup. Rambutnya berantakan. Matanya merah. Ada bayang-bayang gelap di bawah mata yang membuat wajahnya terlihat lebih tua. Mirah mengenal wajah itu. "Fatah ...." Suara Mirah begitu kecil sampai hampir tenggelam dalam bunyi mesin.
Fatah mengangkat kepala. Untuk beberapa detik ia hanya menatap. Kemudian matanya membesar. "Kak?"
Mirah tersenyum. Fatah berdiri terlalu cepat sampai kursinya bergeser. "Kak Mirah?" Ia meraih tangan Mirah. Hangat. Nyata. Mirah menatap tangan adiknya yang menggenggam tangannya erat-erat. "Kamu ...." Tenggorokannya terasa kering.
Fatah menekan tombol di samping tempat tidur. "Dokter! Kakak bangun." Mirah memandang wajahnya. Ada sesuatu yang salah. Ia belum tahu apa. Tetapi tubuhnya tahu lebih dulu. "Fatah."
"Iya."
"Sudah berapa lama?"
Fatah tidak langsung menjawab.
"Berapa lama aku tidur?"
Fatah menunduk. "Beberapa minggu."
Mirah terdiam. Beberapa minggu. Ia mengingat Moon. Mak. Bapak. Rumah. Renovasi. Kolam. Semua datang bersamaan seperti potongan-potongan film yang diputar terlalu cepat. "Mak?"
Fatah diam.
Mirah mengerutkan kening. "Mak mana?"
Fatah mengusap wajah. "Mak..." Ia berhenti.
Mirah menunggu. "Mak di mana?"
Fatah menunduk lebih dalam. Dada Mirah mulai terasa sesak. "Bapak?" Tidak ada jawaban."Fatah." Suara Mirah mulai bergetar. "Bapak di mana?"
Fatah mengangkat wajah. Matanya basah. Dan dalam satu tatapan itu, Mirah sudah mengetahui sesuatu yang tidak sanggup dikatakan adiknya. "Jangan."
Fatah menggenggam tangannya lebih kuat. "Kak..."
"Jangan bilang."
"Mereka kecelakaan." Dunia Mirah berhenti. Ia menatap Fatah. Tidak berkedip. "Siapa?"
"Mak sama Bapak." Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak ada suara petir. Tidak ada musik. Tidak ada apa pun yang membuat kematian terdengar besar. Hanya bunyi mesin di samping ranjang. Tit. Tit. Tit. Mirah menatap langit-langit. Mak. Bapak. Tidak mungkin. Bukankah baru semalam ia tidur di samping Mak? Bukankah Bapak masih duduk di teras? Bukankah Fatah baru saja menggendongnya sebagai Moon? Ia masih bisa mengingat tangan Mak yang mengusap kepalanya. Masih bisa mendengar suara Bapak yang mengomel agar ia tidak tidur di kursi. Masih bisa merasakan dada Fatah ketika menggendongnya. Semua itu terasa begitu dekat. Terlalu dekat untuk disebut kenangan. "Kapan dimakamkan?"
Fatah menunduk. "Empat hari lalu." Mirah menatapnya. Empat hari. Ia baru saja kembali. Terlambat empat hari. Atau mungkin lebih. Terlambat untuk apa pun.
---
Setelah dokter datang dan memeriksanya, Fatah kembali duduk di samping ranjang. Mirah tidak banyak bicara. Ia hanya memandang jendela. Di luar, langit mendung. Hujan turun tipis. "Fatah."
"Kamu nggak kerja?"
"Kerja Kak, cuma ... sesekali Fatah minta tolong Tante Kolilah atau Kheyra yang datang buat bantu jagain Kakak."