Langit di atas Kerajaan Buasa mendadak berubah rupa. Awan yang semula putih bersih, mencerminkan kedamaian pagi yang fana, perlahan menghitam pekat. Tak lama kemudian, gumpalan awan itu memerah, kental dan kelam, seolah-olah cakrawala baru saja disiram oleh darah para dewa. Angin tidak lagi bertiup lembut; ia berputar liar, membawa aroma abu yang menyesakkan dan bara yang menyengat kulit. Alam seolah-olah sedang menahan napas, gentar menyaksikan kedatangan seorang penguasa yang membawa murka melintasi batas nalar manusia.
Dari balik cakrawala yang terbakar, sebuah kereta terbang melesat bagai kilat, membelah kesunyian yang mencekam. Di atas kereta kencana yang ditarik oleh entitas tak kasat mata itu, berdirilah seorang pria berjubah hitam panjang yang berkibar mengikuti amukan badai. Sorot matanya keemasan, menyala tajam seperti inti api neraka yang paling dalam. Dialah Raja Mangkura Vutra, penguasa Kerajaan Damaka—sebuah nama yang telah lama menjadi bisikan ketakutan, sebuah momok yang digunakan para ibu untuk menakuti anak-anak mereka agar segera tidur.
Hari ini, ia tidak datang sebagai seorang diplomat. Ia tidak datang membawa panji perdamaian. Ia datang sebagai badai pembalasan.
Kereta itu berhenti mendadak di angkasa, tepat di atas jantung ibu kota Buasa. Dengan satu langkah ringan yang menentang logika gravitasi, Mangkura turun dari langit. Kakinya tidak menyentuh tanah; ia melayang beberapa inci di udara, diselimuti oleh aura panas yang begitu masif hingga membuat udara di sekelilingnya bergetar dan membias.
Tatapannya yang dingin menyapu ke arah bangunan-bangunan megah Kerajaan Buasa yang kini tampak kecil dan rapuh. Kerajaan ini telah letih oleh peperangan internal selama bertahun-tahun, dan kini mereka harus menghadapi ancaman yang jauh lebih purba.
“Jadi… ini kerajaan Buasa sekarang yang berani menantang murka Kerajaan Damaka…” gumamnya dingin. Suaranya kecil, namun entah bagaimana, setiap telinga di dalam tembok kota bisa mendengarnya dengan jelas, seolah ia berbisik tepat di samping mereka.
Lalu, tanpa aba-aba—
Tangannya terangkat ke langit. Dalam sekejap, langit yang memerah itu dipenuhi oleh titik-titik cahaya merah yang menyilaukan. Dan hujan itu pun turun. Bukan tetesan air yang membawa kehidupan, melainkan ribuan anak panah api yang meluncur deras seperti amarah yang dipendam selama ribuan tahun.
Jeritan mulai menggema, memecah kesunyian yang sempat membeku. Rumah-rumah kayu dan pasar yang sibuk terbakar dalam sekejap mata. Atap-atap runtuh menimpa penghuninya, kayu-kayu menghitam, dan tanah yang dahulu subur berubah menjadi lautan bara yang mendidih.
“Tolong…! Tolong kami…!”
Namun suara-suara pilu itu tenggelam oleh gemuruh api yang melahap segalanya. Mangkura tertawa. Tawanya dalam, berat, dan penuh dengan penghinaan terhadap kelemahan manusia di bawahnya.
“Teriaklah! Rataplah sepuas kalian!” serunya menggelegar, suaranya merobek langit. “Kerajaan Buasa telah berani menantangku—maka inilah harga yang harus kalian bayar!”
Di bawah kehancuran yang tak terperikan itu, seorang pemuda berdiri terpaku di tengah alun-alun yang kini bersimbah api. Namanya Armada. Debu dan jelaga menempel di wajahnya yang muda, napasnya tersengal-sengal karena asap yang memenuhi paru-parunya. Namun, jika ada yang memperhatikan matanya, mereka tidak akan menemukan ketakutan di sana.
Armada justru menatap ke langit dengan penuh takjub.
“Api itu…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar di tengah kebisingan maut. “Indah… dan mengerikan.”
Dalam lubuk hatinya yang terdalam, sesuatu yang asing mulai bergetar. Sebuah frekuensi yang selaras dengan panas yang membakar kota itu. Itu adalah ketertarikan yang berbahaya, sebuah daya tarik terhadap kehancuran yang seharusnya ia benci.
Namun, tidak semua orang di Buasa menyerah pada keputusasaan.
Dari tengah gerbang Istana Buasa, seorang lelaki tua melangkah maju dengan tenang. Langkahnya stabil, tidak terpengaruh oleh guncangan tanah. Rambutnya memutih bagai salju abadi di puncak gunung, namun punggungnya tegak lurus seperti pilar yang tak tergoyahkan. Di tangannya yang berurat, tergenggam sebuah tongkat batu giok yang memancarkan cahaya biru lembut namun intens.
Dialah Antara Dirga. Sang Penjaga Tua, legenda hidup yang namanya hampir terlupakan oleh sejarah, namun kekuatannya masih berdenyut di dalam tanah Buasa.