Langit di atas dataran tinggi Oksidiana seolah terbelah. Debu-debu vulkanik menari di antara hawa panas yang dipancarkan oleh Pedang Naga Bumi Api milik Dirga dan hawa dingin menggigit dari Pedang Naga Bumi Biru milik Akara. Di tengah-tengah bentrokan elemen itu, Jendral Abisadria berdiri dengan luka menganga di kedua lengannya. Darah hitam pekat menetes, namun matanya tidak menunjukkan ketakutan—hanya kegilaan yang murni.
"Kalian pikir... hanya karena tanganku lumpuh, kehendak kegelapan akan terhenti?" suara Abisadria parau, menyerupai gesekan batu nisan.
Dengan gigi yang mengatup rapat menahan sakit, Abisadria menggunakan sisa tenaga di jemarinya yang gemetar untuk merobek segel pada gulungan kulit kuno yang tergantung di pinggangnya. Itu adalah Lembaran Sihir Terlarang: Codex Maleficum*. Begitu gulungan itu terbuka, cahaya ungu yang memuakkan memancar keluar, menelan cahaya matahari.
Bangkitnya Kutukan Kuno
"Dirga, mundur!" teriak Akara. Ia mengayunkan pedang birunya, menciptakan dinding kristal es setinggi tiga meter untuk melindungi mereka.
Namun, Abisadria mulai merapalkan mantra dalam bahasa yang sudah punah ribuan tahun lalu. "O’ghul asht-mora, k’tahl nerish!"
Udara di sekitar sang Jendral mendadak menjadi berat. Lembaran sihir itu melayang di hadapannya, membalik halamannya sendiri dengan kecepatan luar biasa seiring dengan energi sihir yang menyedot vitalitas dari tanah di bawah kakinya. Tanaman di sekitar mereka layu dalam sekejap, dan tanah retak-retak seolah-olah nyawa bumi sedang diperas keluar.
Meskipun tangannya terluka parah, energi dari lembaran tersebut bertindak sebagai prostetik gaib. Lengan bayangan berwarna hitam keunguan muncul dari punggung Abisadria, menggantikan fungsi tangannya yang lumpuh. Dengan satu lambaian tangan bayangan itu, dinding es Akara hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu beku.
"Ugh!" Akara terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam pilar batu.
Dirga, yang napasnya tersengal-sengal dan keringat bercampur darah menetes dari dahinya, mencoba bangkit. Pedang Naga Bumi Api miliknya masih membara, namun apinya meredup—tanda bahwa stamina penggunanya berada di titik nadir.
"Jangan menyerah, Akara!" Dirga berteriak sembari memacu langkahnya. Ia menerjang maju, meninggalkan jejak kaki hangus di tanah. "Abisadria, ini berakhir di sini!"
Adu Kekuatan di Ambang Maut
Abisadria tertawa dingin. Dengan bantuan lembaran terlarang, ia melepaskan gelombang Sihir Gravitasi Hitam. Dirga merasa seolah-olah ada gunung yang mendadak menimpa pundaknya. Langkahnya melambat, lututnya menghantam tanah hingga retak.
"Kelelahan adalah musuh alami pahlawan, Dirga," ejek Abisadria. Ia mengangkat tangan bayangannya, dan dari lembaran sihir itu meluncur tombak-tombak energi gelap yang tak terhitung jumlahnya. "Kalian hanyalah debu dalam sejarah yang akan kuhapus."
Tepat sebelum tombak-tombak itu menghujam Dirga, sebuah kilatan biru melesat. Akara telah bangkit, matanya bersinar dengan aura dingin yang murni. Ia mengaktifkan teknik pamungkasnya: Zero Absolute Domain.