Istana Kerajaan Buasa yang biasanya megah kini tampak seperti labirin penuh duka. Aroma kemenyan dan sisa-sisa energi hitam menggelayuti langit-langit aula utama, tempat di mana Raja Trisura Saka terbaring layu. Tubuhnya yang dahulu perkasa kini tampak seperti kerangka yang hanya dibalut kulit pucat, sementara urat-urat berwarna ungu gelap menjalar dari jantung hingga ke lehernya—sebuah tanda nyata dari kutukan Nenek Mirvana yang mematikan.
Dirga melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Jubahnya koyak di beberapa bagian akibat sisa pertarungannya dengan Jendral Abisadria. Di belakangnya, Raja Mangkura Vutra, Gardapati, dan barisan pejuang terbaik Kerajaan Buasa bersiaga dengan senjata terhunus, menjaga setiap sudut ruangan dari kemungkinan serangan mendadak para pengikut kegelapan yang masih tersisa.
Putri Rara Saka berlari menyongsong Dirga, matanya sembab namun memancarkan harapan besar. "Dirga! Kau datang... Kakek Antara berkata hanya kau yang bisa memutus rantai ini."
Dirga mengangguk mantap. "Waktunya tidak banyak. Kekuatan Jendral Abisadria mungkin sudah melemah, tapi sumber kegelapan yang mengakar pada tubuh Baginda Raja harus diputus sekarang juga."
Ritual Pembersihan Cahaya
Dirga mendekati ranjang peraduan Raja Trisura Saka. Hawa dingin yang tidak alami memancar dari tubuh sang Raja, sebuah manifestasi dari kebencian Nenek Mirvana yang telah meresap selama bertahun-tahun. Dirga memejamkan mata, memanggil getaran dari inti bumi yang kini menyatu dalam sukmanya setelah melewati berbagai cobaan berat.
Ia meletakkan telapak tangannya tepat di atas dada Raja Trisura. Seketika, kilatan cahaya emas bercampur putih bersih meledak dari sela-sela jarinya.
"Dengarkan suaraku, wahai kegelapan yang mencuri nafas kehidupan!" seru Dirga dengan suara yang bergetar penuh otoritas. "Atas nama keseimbangan alam dan darah suci yang mengalir di tanah ini, aku perintahkan kau: Enyah!"
Asap hitam mulai keluar dari pori-pori kulit Raja Trisura. Suara jeritan melengking yang hanya bisa didengar oleh mata batin bergema di seluruh ruangan—itu adalah manifestasi suara Nenek Mirvana yang mencoba bertahan. Kutukan itu melawan, mencakar-cakar energi Dirga, namun kekuatan baru Dirga yang telah mencapai tahap Manunggal Cahaya terlalu kuat untuk dilawan oleh sihir hitam yang sudah lapuk.
Perlahan tapi pasti, warna ungu gelap pada urat-urat Raja Trisura memudar, berganti dengan rona merah kehidupan. Napas sang Raja yang tadinya pendek dan berat kini mulai teratur.
Bangkitnya Sang Singa Tua
Tiba-tiba, mata Raja Trisura Saka terbuka lebar. Sorot matanya yang semula redup kini menyala bagaikan obor yang baru saja disulut. Getaran energi yang sangat dahsyat terpancar dari tubuhnya, membuat Gardapati dan para prajurit di belakangnya terpaksa mundur beberapa langkah karena tekanan aura yang luar biasa.
"Kutukan itu... sudah hilang," bisik Raja Trisura Saka. Suaranya tidak lagi lemah; itu adalah suara guntur yang mengguncang dinding istana.
Ia bangkit dari tempat tidurnya. Meskipun tubuhnya masih terlihat kurus, kekuatan gaib yang kembali mengisi sel-sel tubuhnya membuatnya tampak lebih perkasa dari siapapun di ruangan itu. Ia menoleh ke arah Dirga dan memberikan anggukan hormat yang singkat namun penuh makna.