7GK

Hargo Trapsilo
Chapter #28

Kematian Raja Mangkura Vutra #28

Medan pertempuran di perbatasan Kerajaan Buasa yang tadinya merupakan lautan darah dan teriakan kesakitan, mendadak berubah menjadi panggung bagi kekuatan yang sudah dianggap dongeng. Prajurit Damaka, yang terkenal dengan kedisiplinan dan sihir hitam penghancurnya, kini tercerai-berai. Di bawah komando Boma, para Gardapati Kerajaan Buasa mengamuk layaknya badai yang tak terbendung. Armor hitam prajurit Damaka hancur berkeping-keping di bawah hantaman gada dan tebasan pedang pasukan Buasa yang mendapatkan kembali semangat tempur mereka.


Namun, pusat dari segala perhatian adalah duel di jantung medan laga. Di sana, Raja Trisura Saka tidak lagi berdiri sebagai pria tua yang sekarat karena kutukan. Ia telah bermetamorfosis sepenuhnya. Aura emas yang menyilaukan menyelimuti tubuhnya, membentuk siluet Singa Emas Legendaris. Rambutnya yang memutih kini berkilau layaknya helai-helai emas, dan matanya memancarkan otoritas purba yang membuat nyali siapapun yang menatapnya menciut.


Raja Mangkura Vutra terengah-engah. Wajahnya yang semula penuh kesombongan kini pucat pasi. Ia merapalkan mantra tingkat tinggi, memanggil Lidah Api Hitam Gehenna yang mampu melelehkan baja dalam sekejap. Namun, Trisura hanya menggerakkan tangannya sedikit—sebuah gerakan malas namun penuh tenaga dalam—dan api hitam itu padam tertiup angin yang dipicu oleh auranya.


"Tidak mungkin! Kekuatan ini... seharusnya sudah mati bersama leluhurmu!" teriak Mangkura frustrasi.


Di kejauhan, Antara, kakek Dirga, berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Senyum tipis terukir di wajahnya yang keriput. "Keindahan yang murni," bisiknya pelan. "Singa Buasa tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya menunggu mangsa yang cukup berani untuk membangunkannya."


Kerjasama Cahaya dan Api

Mangkura Vutra yang semakin terpojok mencoba melakukan serangan terakhir yang membabi buta. Ia menghantamkan tongkat sihirnya ke tanah, memicu gempa kecil dan mengeluarkan duri-duri hitam dari bawah kaki Trisura. Namun, sang Raja Singa melompat dengan kelincahan yang mustahil bagi ukurannya, mendarat dengan dentuman yang menggetarkan bumi.


Dirga, yang melihat celah di pertahanan Mangkura, tidak tinggal diam. Meski tubuhnya terasa berat dan setiap napasnya terasa seperti menghirup bara api, ia memaksakan sisa-sisa energi dari Pedang Naga Bumi Api miliknya.


"Baginda Raja! Izinkan aku memberikan sentuhan akhir!" seru Dirga.


Raja Trisura melirik sedikit, memberikan anggukan kecil. "Lakukan, anak muda. Mari kita tunjukkan padanya bahwa kegelapan tidak punya tempat di bawah matahari kita."


Dirga melesat. Ia tidak lagi menyerang secara frontal, melainkan bergerak berputar mengikuti ritme serangan Raja Trisura. Saat Trisura melepaskan raungan yang melumpuhkan saraf motorik Mangkura, Dirga menyerang dari sisi buta. Pedang naga apinya membara merah putih, menyayat udara dengan suara mendesis.


“Teknik Naga Bumi: Tebasan Matahari Terbit!”

Lihat selengkapnya