Langit di atas Kerajaan Buasa tidak lagi berwarna biru ataupun jingga. Atmosfer berubah menjadi ungu pekat yang mengerikan, terbelah oleh retakan-retakan dimensi yang dipicu oleh pelantunan mantra terkutuk. Jendral Abisadria, yang sebelumnya disangka telah menjadi abu, bangkit dari tumpukan puing zirah hitamnya dengan separuh wajah yang telah hancur. Kelicikannya melampaui nalar; ia telah memindahkan inti sukmanya ke dalam Codex Malificum sesaat sebelum serangan terakhir Dirga menghantamnya.
Kini, ia berdiri di atas bukit mayat, memegang lembaran sihir terlarang yang bersinar dengan intensitas yang menyakitkan mata. "Kalian pikir kematian adalah akhir bagiku?" raung Abisadria. "Aku adalah jembatan menuju kehampaan!"
Dengan satu pekikan mantra terakhir, tanah di tengah medan laga meledak. Dari lubang hitam yang menganga, merayap keluar makhluk-makhluk yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Monster Iblis Abyss—makhluk bertubuh setinggi menara dengan ratusan mata merah dan kulit yang meneteskan cairan korosif.
Pengorbanan yang Keji
Garda, salah satu pimpinan Gardapati, berdiri terpaku dengan tangan gemetar. Ia menyaksikan pemandangan yang paling mengerikan sepanjang karier militernya. Setiap kali Abisadria membalik halaman lembaran sihirnya, jiwa-jiwa prajurit yang tewas di medan perang—baik dari pihak Damaka maupun Buasa—terisap masuk ke dalam pusaran energi ungu tersebut.
"Dia tidak hanya memanggil iblis," bisik Garda dengan nada ngeri. "Dia menumbalkan arwah rekan-rekan kita untuk memberi makan monster-monster itu!"
Monster-monster itu mulai mengamuk. Mereka tidak membedakan kawan atau lawan. Prajurit Damaka yang tersisa menjerit saat tubuh mereka dicabik oleh cakar-cakar hitam dari dimensi lain. Kerajaan Buasa, yang baru saja merayakan kemenangan sesaat, kini berada di ambang kehancuran total. Bangunan-bangunan megah mulai runtuh dihantam oleh ekor monster raksasa.
Kebangkitan Terakhir Dirga dan Para Gardapati
Dirga menoleh ke belakang. Di sana, di bawah naungan panji yang robek, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Kakek Antara dan ayahnya terbaring diam. Darah mengalir dari luka-luka mereka yang dipicu oleh serangan kejutan Abisadria saat mereka lengah. Napas mereka tersengal, lemah, dan penuh dengan racun sihir yang mulai menggerogoti nyawa.
"Ayah... Kakek..." suara Dirga tercekat.
Akara merangkak mendekat, pedang birunya sudah retak. "Dirga, jangan biarkan pengorbanan mereka sia-sia. Jika kita tidak menghentikan Abisadria sekarang, seluruh dunia akan menjadi meja perjamuan bagi iblis-iblis ini!"
Amarah yang murni, lebih panas dari api Naga Bumi manapun, meledak dalam dada Dirga. Ia berdiri, menggenggam gagang pedangnya hingga jemarinya memutih. Di sekelilingnya, Boma dan Gardapati yang tersisa berkumpul. Meski tubuh mereka penuh luka dan zirah mereka hancur, mata mereka menyala dengan tekad yang sama.
"Gardapati! Prajurit Buasa!" teriak Dirga, suaranya menggelegar melampaui raungan iblis. "Hari ini kita tidak bertarung untuk raja atau tanah. Kita bertarung untuk jiwa-jiwa yang telah dikhianati! Hancurkan monster itu, dan bawa kepala Abisadria ke hadapanku!"