7GK

Hargo Trapsilo
Chapter #30

Perpisahan #30

Angin bertiup kencang di atas balkon tinggi Istana Kerajaan Buasa, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa kejayaan masa lalu. Di tengah aula besar, sebuah monumen megah berdiri kokoh: patung emas Raja Trisura Saka dalam wujud Singa Emas yang mengaum. Lambang kehebatan sang raja yang meninggal sesaat setelah peperangan berakhir itu kini menjadi saksi bisu bagi takhta yang telah beralih tangan. Raja Trisura telah mengerahkan seluruh napasnya demi memutus ambisi Mangkura Vutra, meninggalkan warisan kedamaian yang dibayar dengan nyawa.


Putri Rara Saka kini telah mengenakan mahkota. Namun, keagungan sebagai Ratu tidak mampu menghapus kegundahan hatinya. Di sudut ruangan, Dirga berdiri tertunduk. Statusnya sebagai Gardapati terasa bagaikan jurang yang membentang luas. Ia merasa tidak layak mencintai matahari yang kini bersinar di atas singgasana.


"Aku harus pergi, Ratu," ucap Dirga pelan, suaranya parau. "Tugas Gardapati untuk melindungimu dalam perang telah usai."


Namun, Rara Saka bukan hanya seorang Ratu; ia adalah wanita yang memiliki api yang sama dengan ayahnya. Ia turun dari takhtanya, mendekati Dirga, dan menatap matanya dengan tajam. "Kau tidak akan melangkah keluar dari gerbang istana ini sebelum kau menikahiku, Dirga. Kerajaan ini butuh seorang ayah bagi calon penerusnya, dan aku... aku butuh kau."


Pernikahan agung pun digelar sebagai penawar duka bagi rakyat Buasa. Selama beberapa tahun, kedamaian menyelimuti istana. Dirga dan Rara dikaruniai dua putra yang menjadi cahaya baru di tanah MayaVada. Buana, sang sulung, lahir dengan tatapan mata yang dalam dan bijaksana, calon Raja yang kelak akan memimpin dengan kecerdasan. Setahun kemudian, lahir Cakrawala, putra yang mewarisi kelembutan wajah ibunya namun memiliki bakat sihir yang luar biasa.


Namun, darah petualang yang mengalir dari Kakek Antara dan ayahnya, Nossa, tidak pernah benar-benar padam dalam diri Dirga. Ia adalah elang yang terkurung dalam sangkar emas. Suatu malam, saat bulan purnama bersinar redup, Dirga menatap kedua putranya yang terlelap. Ia mengeluarkan sebuah kalung permata biru yang bersinar samar.


"Buana, jika kau merindukanku, bicaralah pada permata ini. Suaraku akan selalu ada di sana," bisiknya sembari mengalungkan permata itu ke leher sang putra mahkota.


Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun bagi istrinya, Dirga melompat keluar dari jendela tinggi istana. Ia menghilang ke dalam kegelapan hutan, memilih menjadi pengembara bebas dan pembuat senjata pedang di penjuru dunia, mencari arti eksistensi yang tidak bisa ia temukan di balik tembok istana.


Lihat selengkapnya