Matahari terbenam di ufuk barat Tanah MayaVada tidak lagi membawa kehangatan bagi Kerajaan Damaka. Kerajaan yang dahulu berdiri tegak dengan arsitektur batu hitam yang angkuh dan menara-menara sihir yang menusuk langit, kini tak lebih dari sekadar tumpukan arang dan abu yang mengepulkan asap hitam ke angkasa. Kehancuran Damaka tidak datang dari serangan pedang Naga Bumi milik Dirga, bukan pula dari amukan singa emas Raja Trisura Saka. Kehancuran itu datang dari dalam—sebuah pengkhianatan darah yang lebih panas dari lava gunung berapi.
Makuvan Vutra, putra kedua Raja Mangkura Vutra, telah kehilangan kewarasannya. Terbebani oleh bayang-bayang kegagalan ayahnya dan rasa muak terhadap ambisi buta keluarga kerajaan, ia melepaskan sihir api terlarang yang melahap seluruh isi istana. Ia membantai rakyatnya sendiri, mengubah kota yang padat menjadi kuburan masal dalam satu malam yang mengerikan. Kini, Makuvan sang pangeran pembakar telah menyerahkan diri ke otoritas Kerajaan Buasa, meninggalkan Damaka sebagai tanah tak bertuan yang terkutuk.
Namun, di tengah puing-puing pilar batu yang runtuh dan kayu yang telah menjadi jelaga, sebuah getaran aneh muncul. Dari bawah ruang bawah tanah yang paling dalam, yang tersembunyi di balik segel sihir gelap yang kini telah retak akibat panasnya api Makuvan, muncullah sesosok manusia.
Pemuda itu terlihat berusia sekitar lima belas tahun. Pakaiannya lusuh, compang-camping, dan berbau apek akibat bertahun-tahun terkurung dalam kegelapan. Namanya adalah Ramaka, putra kandung Jendral Abisadria yang keberadaannya disembunyikan dari dunia. Ramaka terlahir dengan bakat sihir yang tidak wajar—sebuah anomali yang bahkan membuat ayahnya sendiri, sang praktisi sihir terlarang, merasa ketakutan.
Selama bertahun-tahun, Abisadria mengurung putranya dalam penjara bawah tanah bersegel khusus, menganggap Ramaka sebagai "senjata yang terlalu berbahaya untuk dilepaskan". Namun, dengan kematian Abisadria di tangan Dirga dan hancurnya segel istana oleh api Makuvan, rantai yang membelenggu Ramaka akhirnya terputus.
Ramaka melangkah keluar dari reruntuhan, menghirup udara luar yang bercampur aroma kematian untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Kulitnya pucat pasi, namun matanya memiliki binar yang mengerikan—binar ungu yang sama dengan mata sihir ayahnya, namun jauh lebih dalam dan jauh lebih pekat.
Ia menoleh ke arah tumpukan abu yang dulunya merupakan takhta Raja Mangkura. Senyum tipis, dingin, dan penuh kebencian tersungging di bibirnya.
"Aku bebas, Ayah," bisiknya dengan suara yang serak dan rendah. "Kau mengurungku karena kau takut aku melampauimu. Dan sekarang kau mati di tangan seorang bocah pembawa pedang dari Buasa."