Siwon mengangguk pelan.
Melihat gadis ini sepertinya tak bermaksud jahat, Siwon mulai bisa meredakan rasa takutnya. “Mungkin benar lo memang malaikat (Gadis itu mendengus) ok, ok, hilangkan kata mungkin…iya, lo memang malaikat…terus turun ke bumi…ta, tapi…apa hubungannya sama gue?” tanya Siwon menggaruk pantatnya.
“Ya karena hubungannya sama kamulah, maka aku ada di sini…” jawab gadis itu, lalu menghilang dan muncul di ujung kamar, duduk di atas meja belajar Siwon.
“Jadi lo kesini cuma untuk gue? Kenapa gue sampai sebegitu pentingnya, hingga lo diutus ke bumi hanya untuk gue?”
“Pertama – tama, kamu ga penting – penting banget sih buat aku…tapiii, karena aku diutus untuk mendampingi kamu, maka ya aku harus menurut tanpa banyak tanya,” jawab gadis itu dan menghilang lagi. Siwon menatap kamarnya berkeliling mencari gadis itu. Tiba – tiba gadis itu sudah muncul di ruang tengah, duduk di sofa depan televisi.
Siwon melangkah keluar kamar seraya berkata kesal, “Bisa ga kalau kita lagi ngobrol itu jangan hilang muncul hilang muncul kayak perasaan ke mantan gitu? Pusing tahu.”
Gadis itu nyengir, menjawab, “Oh ok, baiklah.” Siwon duduk di kursi seberang gadis itu lalu bertanya melanjutkan keingintahuannya.
“Tadi lo bilang, lo diutus untuk mendampingi gue? Mendampingi semacam konsultan gitu?” gadis itu mengangguk. “Tapi mendampingi untuk apa?”
“Ingat waktu kamu ke dokter gigi?”
Siwon mengangguk.
“Apakah kamu tahu saat kamu di dokter gigi itu, kamu sempat mati?”
“Hah?” Siwon melonjak dari kursinya.
“Saat kamu dibius, dokter itu memberikan bius terlalu banyak hingga menghentikan jantungmu selama sembilan menit.”
Siwon menutup mulutnya terkejut.
“Tapi saat itu kamu diberi kesempatan untuk hidup lagi, diberi kebisaan juga sekaligus diberi tugas untuk menolong orang - orang, dan aku diutus untuk mendampingi apakah kamu bisa menyelesaikan tugasmu itu.”
Siwon menggeleng belum mengerti.