Ryu melirik jam pada pergelangan tangannya.
Hampir tengah malam tapi di teras rumahnya masih tampak ramai orang, dan di pekarangan rumahnya masih banyak motor – motor yang terparkir. Ia menggeleng pelan seraya melangkah masuk teras.
“Hai Kak! Baru pulang?” seru suara seseorang padanya di antara ramainya orang yang berbicara. Ryu menoleh dan melihat adik laki – lakinya sedang tertawa padanya. Ryu menggerakkan jari telunjuknya memberi tanda pada adiknya itu untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Adiknya mengikuti.
“Gie, lo lihat dong sudah jam berapa ini? Suruh teman – teman lo pulang, lo kan tahu, besok kalian masih harus masuk sekolah dan Ibu sedang sakit, beliau lagi tidur, butuh tenang, suara kalian berisik, bisa menganggu Ibu juga tetangga tahu,” kata Ryu pada adiknya.
Gie, adiknya mengangguk, “Ok Kak, nanti teman – teman, Gie suruh pulang…tenang aja Kak.” Ryu mengingatkan, “Nantinya jangan kelamaan, daripada dibubarin sama Pak RT malah lebih repot dan ga enak loh.” Gie nyengir, mengerti maksud kakaknya itu lalu ia keluar rumah.