“Njel, ini sudah hari yang ketiga tapi aku belum menemukan lagi roh gelisah!”
Teriak Siwon dari dalam rumah pada Angel yang sedang berada di teras. “Ya berarti bagus dong, belum ada yang akan mati lagi dekat – dekat ini,” jawab Angel lugas. Siwon keluar dari dalam rumah bertelanjang dada dengan mimik kesal, “Ya ga gitu dong Njel, waktuku kan cuma sembilan hari, kalau aku ga tau siapa lagi yang harus ditolong, ntar aku kehabisan waktu.” Angel melirik pada Siwon yang meski terlihat kurus, tapi memiliki dada bidang dan perut yang memiliki enam otot berbaris serta terpampang rapih itu.
“Pakai bajumu dulu baru bicara, sopan dong, ada cewek nih,” cetus Angel.
Siwon nyengir memakai kaosnya yang sedari tadi dipegangnya. “Sisa waktuku tinggal enam hari lagi Njel,” ucap Siwon dan duduk di sebelah Angel, “Sebetulnya, berapa orang sih yang harus aku tolongin selama sembilan hari ini?” Angel memejamkan mata sebentar lalu berkata, “Belum ada kabar lagi dari sana.” Siwon menghela nafas.
“Oya Njel, kemarin, saat aku melihat roh gelisah Jojo, kok aku tidak merasakan pening dan mata yang berkunang – kunang ya? Beda dengan yang lain, itu kenapa Njel?”
“Mungkin karena kamu sudah terbiasa atau mungkin roh gelisah Jojo dimensinya tidak sekuat roh gelisah yang lain…”
Siwon manggut – manggut setelah mendengar penjelasan itu. Waktu berdetak. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Menikmati angin sejuk bertiup di sore hari menjelang malam. Menggoyangkan bulir – bulir rambut dan menebarkan wangi putik sari dari bunga – bunga yang bermekaran di musim panas. Tanpa bicara mereka duduk di kursi kayu di teras rumah. Di hadapan mereka tampak lampu – lampu dari rumah – rumah berlatarkan langit malam yang sedang bersih dari awan sehingga ratusan bintang – bintang berkerlip jelas di atas sana. Siwon melirik Angel yang sedang menatap itu semua.
“Njel, kamu lihat bintang – bintang itu?”
Angel mengangguk.