Sembilan

ken fauzy
Chapter #14

RYU

“Hahaha, akhirnya lo datang lagi, gue udah bilang lo ga akan bisa lepas dari gue.”

Orang yang mengatakannya terlihat senang, ia seorang pria yang usianya sekitar 50 tahunan, bertubuh kurus dengan tulang mata cekung dan sorot yang tajam. Orang itu mendekat merangkul bahu Ryu. “Ryu, lo tau ga, lo itu yang terbaik yang pernah gue punya, penjualan lo sangat bagus dan cepat… gue sangat terkesan…tapi kemarin – kemarin saat lo bilang mundur karena hutang lo sudah lunas, gue menyayangkan itu, buat apa lo mundur? Apalagi Ibu lo lagi sakit, lo pasti butuh duit dan ga gampang cari kerja di jaman sekarang kan?” ujar pria itu menepuk – nepuk bahu Ryu. 

Ryu teringat kembali waktu silam. Beberapa bulan setelah ayahnya meninggal, mereka didatangi orang – orang yang bermaksud menyita rumah mereka. Ibu sudah menangis sembari memegangi dadanya. Gie terus menenangkan ibunya sedang Ryu berusaha sebisa mungkin bernegoisasi meminta waktu lagi untuk bisa membayar tagihan hutang yang ditinggalkan ayahnya. Akhirnya berkat kegigihan Ryu, rumah mereka tak jadi disita dan mereka diberi waktu.

“Dengan apa kita harus membayarnya Ryu?” tanya ibu setelah semua penagih hutang itu pergi. Gie yang saat itu masih di sekolah menengah pertama hanya bisa menatap kakaknya. Ryu tersenyum, “Tenang Bu, Ryu akan cari cara…Gie lo jaga Ibu ya…gue keluar bentar.” Gie mengangguk.

Ryu melangkah keluar rumah menyusuri trotoar. Berkali – kali ia mengusap wajah dan mendesah gelisah. Sebetulnya, ia sendiri pun belum memiliki cara bagaimana untuk bisa mendapatkan uang sebesar itu dalam jangka waktu yang pendek. Otaknya terus berputar mencari jalan, ia tidak ingin rumah itu disita dan membuat ibu serta adiknya terusir. Bila itu terjadi, di mana mereka akan tinggal? Apalagi ibunya sedang sakit. Ryu ingat Siwon, Siwon pasti akan membantunya meminjamkan uangnya, tapi ia tak mungkin merepotkan Siwon lagi terlebih setelah Siwon telah banyak membantunya sejak kepergian ayahnya.

Ryu terus berjalan tak berhenti, ia tak tahu lagi harus kemana.

Tiba – tiba dari arah berlawanan Ryu melihat seorang pemuda sedang berlari terengah – engah ke arahnya sedang di belakangnya seorang pria bertubuh besar dan kekar sedang mengejarnya. “Hey, tangkap dia! Dia maling!” teriak pria bertubuh kekar itu. Melihat hal itu membuat Ryu tak tinggal diam, ia segera menghalangi laju pemuda yang berlari itu dengan menubruknya. Mereka berdua terjatuh, tapi pemuda itu dengan cepat berdiri lagi sembari mengeluarkan pisau lipatnya.

“Mundur lo! Jangan ikut – ikutan!” teriaknya pada Ryu dengan menyabetkan pisaunya. Ryu dengan cepat berkelit menghindari sabetannya, lalu menangkap tangan pemuda itu serta menghantamkan lututnya pada tangan pemuda itu hingga berderak membuatnya berteriak kesakitan hingga melepaskan pisaunya. Kemudian Ryu memiting tangan pemuda itu hingga bahunya keseleo. Pemuda itu berlutut meringis sakit memegangi bahunya, tak lama pria berbadan besar dan kekar yang mengejarnya telah datang, dengan marah ia mendaratkan pukulannya hingga membuat pemuda tadi jatuh pingsan.

Si pria berbadan kekar kemudian memeriksa kantung – kantung celana dan jaket pemuda yang tak sadarkan diri itu, Ryu terus memperhatikan. Muncul seorang pria paruh baya yang menyusul datang, ia menghampiri pria kekar itu seraya bertanya, “Ada?” Pria kekar itu mengangguk dan menunjukkan gepokan – gepokan uang yang baru diambilnya dari kantung jaket tadi.

Lihat selengkapnya