Gie menatap teman – teman motornya.
“Gimana Gie? Ini ga bisa dibiarkan,” cetus salah seorang dari mereka, yang lainnya menganggukkan kepala. “Temen kita udah digebukkin masa kita diam aja sih!” teriak yang lain diikuti teriakan – teriakan marah lainnya juga. “Tenang! Kita ga bisa sembrono!” tukas Gie, “Gue juga marah karena temen kita digebukkin begitu, tapi kalau kita membalas, mereka juga akan membalas, dan itu akan terus terjadi sampai ada yang tewas! Dan kalau sudah ada korban, polisi akan terlibat, apa kalian mau masuk penjara?!”
“Gie, kita memilih lo jadi ketua, karena kita yakin lo punya nyali!” teriak salah satu temannya lagi. Gie menghela nafas.
“Ok! Kalau itu yang kalian mau, tapi konsekuensinya harus kita tanggung bersama! Siap ga kalian?” seru Gie.
“Siap Gie!” seru teman – temannya bersamaan.
“Ok tunggu di sini,” ucap Gie lalu masuk ke dalam rumah sedang teman – temannya segera melompat ke atas motor – motor mereka bersiap. Gie masuk ke dalam kamarnya dan dari kolong tempat tidurnya ia menarik sebuah kotak lalu membukanya. Tampak sebuah pisau berburu di dalam kotak tersebut. Gie mengambilnya lalu keluar kamar.
“Gie…”
Gie menghentikan langkah kakinya ketika mendengar namanya dipanggil lirih. Ia menoleh dan dilihat, ibunya sedang berdiri di depan pintu kamarnya. “Gie, mau kemana?” tanya ibu lemah. Gie segera menyembunyikan pisau itu di balik punggungnya. “Gie mau ke rumah teman dulu Bu,” jawab Gie tersenyum lalu mendekati ibunya, mencium tangan dan kening ibunya.
“Jangan berbohong sama Ibu Gie…” ujar ibu.
Gie tersenyum lagi, berkata lembut pada ibunya, “Gie akan baik – baik saja Bu, nanti malam juga udah pulang kok, nanti kita makan malam bareng ya?”
Kemudian Gie pergi. Sang ibu hanya bisa memandang punggung anaknya itu hilang di balik pintu lalu mendengar raungan – raungan mesin motor yang menyala dan pergi menjauh. Ibu duduk di pinggir ranjangnya, hatinya gelisah, hatinya mengatakan sesuatu yang buruk akan menimpa anak bungsunya itu.
Di luar rumah, tampak Ryu dan Siwon baru datang dari sekolah, mereka mengerutkan keningnya melihat Gie bersama teman – temannya pergi memacu motor mereka dengan cepat. “Buru – buru amat, pada mau kemana mereka ya?” celetuk Siwon. Ryu segera masuk ke dalam rumah diikuti Siwon, menghampiri ibunya di kamar.
“Ada apa Bu? Kok wajah Ibu tampak cemas?” tanya Ryu.