Blurb
Senjanya yang biasa jadi jauh dari tenang. Mot duduk di atas tembok penuh retak dengan segelas kopi panas di tangan. Sejujurnya, ia tidak tidak punya rencana setelah ini. Tapi mustahil ia mengunci perempuan itu di kamar selamanya.
Disedotnya rokoknya dalam-dalam lalu mendesis bersamaan dengan asap yang menguar dari sela bibir. Telinganya berusaha mengabaikan suara teriakan dan lolongan putus asa yang masih terdengar. Tidak ada yang lebih menjengkelkan dari seseorang yang tidak bisa diam.
Ia menjentikkan abu rokok ke tanah lalu menyesap kembali kopinya.