9 Nyawa

Sekarmelati
Chapter #1

Bab 1. Prolog : Bayi-bayi kucing

BAYI-BAYI KUCING


Mot bisa mengenali suara bayi kucing yang lapar tanpa harus melihat wujudnya. Telinganya sudah terbiasa mendengarnya, dari jarak jauh sekalipun. Bayi-bayi kucing itu berisik sekali. Jika kehilangan induknya, mereka akan menjerit-jerit tak putus-putus sampai sang induk kembali. Sambil menyusu, kaki-kaki kecil mereka menendang-nendang tidak sabaran. Lalu ada aroma khas yang berasal dari bau kotoran yang lengket dan masam dari air susu.

Ia menemukan bayi-bayi itu di bawah gerobak penjual air sehari sebelumnya. Empat ekor anak kucing berwarna oranye tidur bergerombol mencari kehangatan. Sempurna! pikirnya ketika melihat anak kucing itu. Mot lalu mengambil kardus bekas, mengisinya dengan kain-kain sisa dan gumpalan koran. Ia mengangkat kucing-kucing itu dengan cara mencubit tengkuknya dan memindahkannya satu per satu ke dalam kardus. Mot lalu mendorong kardus itu dengan kakinya, menyembunyikannya ke dalam kolong. 

Angin malam meniup tengkuknya. Mot berjalan melewati lorong-lorong temaram. Lantai pasar masih berupa tanah keras berundak-undak. 

Sejenak kakinya berhenti di perempatan lorong pasar. Mot menoleh ke kanan, ke arah bagian depan pasar, tempat ibunya biasa berjualan lontong pecel setiap harinya. Meski matanya merah karena masih mengantuk, ia selalu ikut berjualan. Ia tidak punya pilihan lain. Lebih baik berada di pasar daripada berdiam di rumah yang pengap karena bau kotoran kucing. 

Mot kembali berjalan. Malam ini adalah waktunya untuk bergerak. Tekanannya makin tak tertahankan. Ide gila di dalam kepalanya itu sudah mengganggunya belakangan ini. Setiap hari ia memikirkannya. Ia jadi gelisah dan sulit tidur. 

Tengah malam sudah dekat. Suara geluduk terdengar di kejauhan. Hujan bisa turun kapan saja. Mot mulai berdebar-debar. Perempuan yang ditunggunya mungkin tidak datang. Sudah terlalu larut untuk keluar rumah. Meski dari hasil pengamatannya, perempuan itu punya nyali karena terbiasa di luar rumah seorang diri di dalam gelap malam. 

Mot berdiri tegak dalam kegelapan. Menit-menit menegangkan berlalu. Ternyata ada baiknya juga ia menunggu. Tubuhnya yang semula kaku perlahan mencair. Napasnya pun tak lagi memburu. 

Kesabarannya membuahkan hasil. Suara sepeda motor yang ia hafal betul pemiliknya terdengar mendekat. Mesin motor dimatikan. 

Mot maju dan berhenti di sudut gelap. Seekor kucing tiba-tiba meloncat dari atas rombong, membuatnya terkejut setengah mati. Mot mengumpat dalam hati, menggeram pada sang kucing yang sempat menoleh ke arahnya sebelum kemudian berlari-lari menuju ke depan pasar, mendekati motor yang baru tiba. 

Mot terus memperhatikan setiap gerak-gerik perempuan itu dari tempatnya bersembunyi. Perempuan itu memanggil-manggil sambil mendecakkan lidah. Bagaikan terhipnotis, kucing-kucing bermunculan dari segala penjuru, dari balik rerumputan dan dari sela-sela bangunan pasar.

Mot bersandar ke dinding, mengintip sekilas. Jantungnya kembali berdebar kencang. 

Malam ini angin bertiup terlalu keras. Rambut perempuan itu berkibar hingga berantakan. Ia menegakkan punggung, lalu mengikat rambutnya ke atas. Beberapa kucing menggesek-gesekkan tubuh ke kakinya, sedangkan sisanya hanya mengeong-ngeong dengan ribut sambil terus menjaga jarak dan bersikap waspada. Bahkan seekor kucing garong yang terkenal sebagai preman pasar pun tidak malu meminta-minta makanan. 

Mot mengernyitkan alis. 

Setelah semua kucing pasar berkerumun di sekitar kakinya, perempuan itu mengeluarkan botol bekas kopi literan berisi makanan kucing dari dalam tasnya. Ia membungkuk dan mulai menuang isi botol ke tanah.

Kucing-kucing itu berhenti merengek dan mulai mengunyah dengan lahap. Perempuan itu lalu menyiapkan mangkuk-mangkuk plastik dan mengisinya dengan air. Mangkuk-mangkuk itu diletakkan di antara kucing-kucing yang sedang asyik makan. 

Lihat selengkapnya