9 Nyawa

Sekarmelati
Chapter #2

Bab 2. Mot

Mot kecil, enam tahun. 


Semua orang di pasar memanggilnya Mot, padahal ia lahir dengan nama Ahmad. Seharusnya Mad lebih sesuai untuknya.

Ia tidak ingat kapan orang mulai memanggilnya dengan nama itu. Sebenarnya ia juga tidak terlalu tahu apa artinya. Mungkin mereka mengejeknya karena sejak kecil ia selalu belepotan ketika makan. 

Mot memang biasanya makan cepat-cepat dan berantakan jika lapar. Lelehan saus, kecap, atau sebutir nasi kerap melekat di pipinya. Cemot. Ibu selalu tertawa sambil menunjuk pipinya yang kotor. Ia terpingkal-pingkal begitu keras sampai-sampai pedagang di lapak lain ikut menertawakannya. Semua tertawa kecuali Mot. Ibu sudah berhasil membuatnya merasa seperti anak kucing yang dipungut dari jalanan: buruk, kurus, dan kotor. 

Dan tiba-tiba saja semua orang ikut memanggilnya dengan julukan yang sama. Lama-kelamaan tidak ada yang ingat siapa nama aslinya. 

...


Hari ini mereka datang kesiangan karena Ibu harus mengobati kucing-kucing yang sakit sebelum berangkat. Padahal semua bahan jualannya sudah siap dan ditata dalam keranjang plastik yang diikat di belakang sepeda mini butut. Alih-alih bergegas menyongsong rejeki di pagi hari, Ibu malah membuang waktunya dengan duduk santai di depan kandang dan mulai merawat kucingnya satu per satu dengan telaten. 

Rumah mereka sesak dengan kandang-kandang kucing yang didapat ibu entah dari mana. Jerujinya penuh karat dan nyaris rapuh. Kerusakan kecil dapat ditambal seadanya. Satu kandang berukuran sedang diisi dengan dua-tiga ekor kucing, tentu bukan jumlah yang ideal. Kandang itu jadi mirip penjara yang menyesakkan. Kotoran tampak lengket melekat pada lantai kandang yang jerujinya mulai lapuk tergerus air kencing. 

Mot mungkin masih kecil, tapi ia paham satu hal: kucing lebih baik tinggal di alam bebas. Terkurung di dalam kandang kecil dan bau tidak akan mengasah insting mereka sebagai hewan liar. Mereka bahkan tidak bisa sekadar meregangkan tubuh saking sempitnya. Kucing-kucing itu akhirnya tidak melakukan apa-apa selain tidur dan makan. 

Mot pernah mencoba menghitung. Di dalam kamarnya saja, ada empat kandang berisi anak-anak kucing. Sementara di ruang tengah, ada beberapa kandang yang ukurannya lebih besar dan menampung kucing dewasa. Seekor induk kucing dengan lima bayinya menempati kandang lain. 

Setelah jumlah kucing-kucing di rumahnya terus bertambah, Mot tidak sanggup lagi menghitung. Tidak semua kucing itu berada di dalam kandang, sebagian besar bertebaran di lantai, bergelung di atas ubin yang kusam. 

Dari sekian banyak kucing yang dimiliki ibunya, ada seekor yang menarik perhatian Mot. Kucing itu berbulu hitam dengan mata kuning kehijauan. Kucing itu dibiarkan bebas berkeliaran di dalam rumah. Ketika Mot tidur, ia selalu bergelung di kakinya. Meski tahu kalau Mot tidak terlalu menyukai kucing, tapi binatang itu seolah tidak peduli. Ia tetap kembali dan menempel di kaki Mot meski beberapa kali Mot menendangnya menjauh.

Setelah Ibu menyelesaikan urusannya, barulah mereka berangkat. Ibu menuntun sepeda yang sarat muatan sementara Mot berlari-lari kecil di sampingnya. Kadang ia berhenti untuk meraih kerikil atau benda apa pun yang menarik perhatiannya lalu kembali menyusul ibunya. Ia berjalan tersaruk-saruk dengan sandal kebesaran. Kausnya melorot hingga ke bahu. Badannya memang kurus kecil, lebih kecil dari anak laki-laki sebayanya. 

Pasar sudah ramai ketika ia mulai menata meja kecilnya. Baskom berisi rebusan sayur diletakkan di tengah dan stoples plastik rempeyek ditaruh di sebelahnya. Tangan Mot masih menggenggam erat ujung baju ibunya. Ibu mencampur bumbu pecel dengan air matang lalu mengaduknya hingga kekentalannya sempurna. Ia lalu membuka tutup stoples dan mengambil satu rempeyek untuk Mot. 

Mot duduk di atas dingklik sambil mengunyah potongan lontong dan rempeyeknya bergantian. 

Seorang ibu tua dengan tas penuh belanjaan memesan dua porsi pecel untuk dibawa pulang. Pembeli pertama mereka hari ini. Biasanya Ibu akan melebihkan dua potong rempeyek sebagai bonus. 

Lihat selengkapnya