Tidak banyak kegiatan setelah Marni pensiun. Hiruk-pikuk di pagi hari semasa ia masih bekerja sebagai guru SD sudah lama berlalu. Biasanya ia bangun sebelum Subuh dan mulai menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua anak mereka.
Sekarang waktu terasa berjalan begitu lambat. Suaminya sudah meninggal lima tahun lalu. Anak-anaknya juga dewasa dan berkeluarga, keduanya mengikuti suaminya dan tinggal di luar kota. Sebenarnya anak-anak menawarkannya untuk ikut pindah dan tinggal bersama mereka, tapi Marni menolak dengan halus. Ia ingin menikmati masa tuanya sendirian. Paginya terasa lebih damai sekarang. Tidak ada yang terburu-buru minta makan. Tidak ada yang panik karena terlambat berangkat ke sekolah.
Selepas pensiun, barulah ia bisa menikmati hari-harinya. Tinggal seorang diri membuatnya lebih santai. Ia tidak harus memasak dalam porsi besar seperti dulu. Sekarang ia lebih memilih untuk membeli makanan jadi agar lebih praktis. Memasak hanya dilakukannya ketika ingin saja.
Salah satu favoritnya adalah lontong pecel racikan ibunya Mot. Menurutnya, rasa pedasnya pas dan masih bisa dinikmati. Sebungkus lontong pecel dan beberapa potong kue basah sudah cukup untuknya. Ia tidak bisa lagi makan banyak-banyak.
Setiap kali ia membeli pecel, Marni selalu melihat Mot di sana, tidak jauh dari ibunya.
...
Sebagai pendidik selama puluhan tahun di sekolah dasar, Marni merasa miris ketika melihat Mot belum bersekolah tapi ia juga sudah melihat banyak fakta pahit: tidak semua orang tua bisa membiayai sekolah anak-anaknya. Untuk makan sehari-hari saja mereka harus bekerja lebih keras.
Sekolah Negeri adalah pilihan terbaik. Orang tua hanya perlu membeli seragam dan buku di awal masuk saja, dan tidak perlu membayar SPP setiap bulannya. Meski sudah ada kemudahan seperti itu pun ternyata masih terasa berat bagi sebagian orang. Saran Marni juga tidak lantas membuat Mot langsung bisa sekolah. Harus ada yang membantu, semacam menanamkan modal di awal. Tentu Marni tidak berharap modal itu akan kembali.
...
Marni menghirup kopinya. Menjadi guru memang harus banyak berhemat. Almarhum suaminya dulu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Di tengah ekonomi yang sulit dan gaji yang tidak seberapa, keduanya tetap menyisihkan sebagian uang mereka untuk ditabung. Dan sekarang tabungan itu sudah lebih dari cukup untuknya. Lagi pula Marni juga masih mendapat uang pensiun dari mendiang suaminya.
Hari ini ibunya Mot sudah janji akan datang ke rumah. Marni sudah menyiapkan sejumlah uang. Di atas amplop ia menulis dengan huruf latin yang indah: dana untuk seragam dan buku-buku Mot.
Sejenak ia diam, keningnya berkerut. Siapa nama asli Mot?
...
Mot, tujuh tahun.
Mot tidak mengira kalau ternyata ibunya mendengarkan saran Ibu Marni. Beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ketujuh, Ibu membawanya ke sebuah Sekolah Dasar Negeri yang letaknya tidak jauh dari pasar.