“Kenapa lama sekali?”
Arthur berhenti. “Memang aku seperti kau tidak punya pekerjaan selain mengerjakan tugas siswa lain.” Arthur tertawa sinis lalu berkata, “Buktikan padaku kalau kau punya buktinya.”
Elisa mendesis sambil mengecek handphonenya. “Sialan, kenapa aku harus mengeluarkan video menjijikan itu sih!” Ia kemudian memamerkan video dimana Arthur melakukan hal paling mesum yang sekaligus membuat perut Arthur mual.
Mual itu benar-benar tidak terkendali sekarang. Perutnya begitu melilit hingga mau tidak mau ia terpaksa memutahkan isi perutnya. Elisa merasa sedikit kasian dengan reaksi lelaki itu. Tapi ia tetap harus bersikap tega agar Arthur memenuhi apa yang dia inginkan.
“Bisa-bisanya kau muntah dengan kelakuanmu sendiri.”
Kalimat itu benar-benar menyakiti perasaan Arthur. “Kelakuanku?” Wajah lelaki itu mengeras. “Berikan video itu padaku.”
“Aku akan berikan jika kau sudah memenuhi semua syarat-syaratku!”
“Bukankah sudah kukatakan iya ingin menjadi pacarmu?”
“Memang aku bodoh. Kau bisa saja pura-pura lupa setelah mendapatkannya.”
“Aku bukan orang yang seperti itu.”
“Benarkah?” tatapan Elisa tampak mengejek. “Kau harus penuhi setiap syarat-syaratku. Setelah 6 bulan kita pacaran dan kau sudah memenuhi semua syarat-syaratku aku akan menghapusnya. Bagaimana? Tidak-tidak aku akan memberikan handphone ini padamu. Jadi kau tidak perlu khawatir aku mengcopynya atau apapun.”
Arthur terdiam sesaat. “Kau tidak akan mengcopynya di komputer atau emailmu kan?”
“Tidak-tidak, aku melihatnya saja sudah jijik. Lagi pula aku tidak punya komputer.”
Arthur berpaling dengan nada rendah penuh kekalahan dia berkata,”kalau begitu sebutkan syarat-syaratmu.”
“Pertama selama pacaran kita harus berkencan minimal empat kali dalam seminggu. Tidak masalah tempatnya dimana. Tapi kita harus berkencan. Kita akan berkencan di hari Selasa, Jumat, Sabtu, dan jelas Minggu. Di hari Minggu kita harus 12 jam bersama.”
Arthur menatap tidak percaya pada Elisa. “Kau pikir aku tidak punya kegiatan selain di belajar? Semua orang tau betapa aktifnya aku di kegiatan luar akademik.”
“Itu urusanmu. Aku tidak peduli..”
“Kau…”
“Apa? Mau aku sebarkan videomu?”
“Kau akan masuk penjara jika menyebarkannya!”
“Tidak masalah. Aku rasa tempat ini dan penjara juga sama aja.” Sesaat keheningan menyertai mereka. Lalu kembali di pecahkan oleh pernyataan Elisa selanjutnya. “Selanjutnya, karena kita pacaran kita harus punya bukti bahwa kita pacaran. Dalam 6 bulan kita harus punya 60 barang pasangan. 50 foto pasangan di box ataupun di handphone masing-masing. Dan