BOOK 1 : PEMBURU DARAH

Ribuan tahun kemudian.
Aoma besi dan tanah busuk mengudara di Hutan Pinus Utara. Kabut tebal menggantu rendah sisa hujan, menempel di zirah kulit yang lembab. Lumut hitam menempel di sebagian akar pohon, membentuk pola seperti urat yang menjalar ke dalam tanah.
Bekas sayatan cakar hitam terlihat mengering seperti luka lama di beberapa pohon pinus. Tidak ada hewan yang tinggal terlalu lama di Hutan Pinus Utara. Sekawanan burung menghindari hutan pinus utara yang menjadi sarang Darah liar.
"Jangan terburu-buru kontrak, Arkan!" teriak Kael. Suara itu bergetar, air liur kental menetes ke zirah kulitnya.
Suara robekan kain dan daging terdengar dari belakang Arkan. Tubuh Kael melesat di antara batang pohon, ia berubah ke bentuk manusiaserigala. Otot bahunya membesar dua kali lipat hingga merusak jahitan bajunya, telinganya meruncing, kuku-kukunya memanjang hitam dan tajam. Uap hangat keluar dari sela giginya setiap kali ia bernapas. Bau bulu basah dan tanah tercampur dengan aroma darah memenuhi udara.
Arkan berguling di antara akar pohon yang licin, menghindari sabetan ekor monster yang menyerupai gumpalan daging busuk, dipenuhi duri tulang. Kapak pendek di tangannya bergetar hebat karena hantaman sebelumnya. Sabuk kulit di pinggang Arkan dipenuhi botol-botol kecil penyegel Darah.
"Aku tidak butuh Darah, Kael. Aku hanya butuh makhluk ini mati!" Arkan menendang batang pohon, ia terbang ke udara. Tangannya menahan getaran gagang kapak. Ia mengayunkan kapak ke sendi kaki belakang monster itu.
Krak.
Suara tulang patah terdengar. Monster itu limbung, luka di kakinya berdenyut. Daging yang terbelah bergerak seperti cacing basah, merayap perlahan mendekati tubuhnya.
"Nila, kunci!" seru Kael, cakarnya mencengkeram leher monster itu.
Nila berdiri sepuluh langkah di belakang mereka. Wajahnya pucat, matanya menyala merah tipis, tanah di bawah makhluk itu tiba-tiba melunak seperti rawa, mengisap kaki-kakinya yang tersisa. "Sekarang! Aku tidak bisa menahannya lama-lama!" teriak Nila. Suaranya serak.
Wesi melompat dari dahan pohon, meluncur turun seperti meteor. Pedang dua tangannya membelah udara, menebas lurus dari punggung hingga ke perut monster itu. Cairan merah kental menyembur, membasahi wajahnya. Monster itu melolong. Isinya berdenyut liar, dagingnya merambat, menyambung kembali bagian yang terpisah
"Arkan, selesaikan!" Kael mengerang. "Intinya belum keluar."