A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #3

2. GUA BATU

Akar pohon raksasa melilit mulut gua seperti jemari kering. Kael masuk lebih dulu, bahunya menyentuh dinding batu yang sempit. Suara hujan di belakang mereka terdengar jelas, menghantam batang pohon pinus mati. Di kejauhan, cahaya merah dari menara pengawas perbatasan terlihat samar di balik kabut, suara lolongan terdengar bersahutan.

Mata Kael menyipit, pupil mata bulatnyanya berubah menjadi garis vertikal, ia menyisir area dalam gua, kakinya menendang sisa-sisa kayu bakar yang sudah lapuk. Tatapannya berhenri di sudut dinding, sebuah simbol kapak silang terukir kasar pada batu.

Wesi melemparkan tas besarnya hingga berdentum. Ia menghempaskan punggung ke dinding batu yang lembap. "Gua sialan. Bau pesing serigala."

Kael menoleh sebentar, gigi taringnya memanjang.

Nila masuk terakhir, langkahnya terseret. Ia menyandar pada akar pohon, tangannya mencengkeram dinding batu. Wajahnya pucat pasi, sisa darah mengering di sudut matanya.

Wesi memantik api kecil. Ia mengeluarkan pisau berkarat, lalu menempelkan mata pisaunya ke nyala api hingga logam itu memerah.

Arkan menarik Nila duduk di atas tumpukan jerami kering di sudut gua. Nila menjatuhkan tubuhnya. Arkan menyodorkan botol air kayu ke mulut Nila. Nila membuka mulutnya, meneguk habis air dari dalam botol.

Kael berdiri di tengah gua, Cahaya bulan masuk lewat celah akar dan retakan batu. Tangannya menarik kain pakaiannya yang sudah hancur di bagian bahu. Otot-ototnya mulai menyusut, memar merah di kulitnya perlahan memudar.

Wesi melirik Kael. "Suatu hari nanti kau bakal pulang telanjang." Jemarinya memutar pisau. "Mungkin aku harus mulai menagih biaya sewa celana."

Kael menarik sobekan celananya. "Sekalian bikin yang banyak, dan lebih kuat kainnya."

Nila menatap memar di kulit Kael yang sudah menghilang. "Kalau saja aku dapat Darah perubahan, mungkin aku tidak akan menyusahkan setiap kali kita selesai bertarung." Uap panas keluar dari sela bibirnya yang pucat. "Kekuatan manipulasi tidak cocok buat orang sepertiku yang staminanya payah."

Kael merogoh kantong kecil di pinggangnya. Ia mengeluarkan botol kaca berisi Darah Merah pekat. Darah itu berputar perlahan, menabrak dinding kaca seolah mencari celah untuk keluar. Arkan menatap sebentar ke botol lalu membuang muka.

"Monster tadi hampir jadi Monster Asli." Kael menatap botol itu. "Darahnya pekat."

Wesi mendekat, bayangan botol kaca terpantul di pupil matanya, setengah wajahnya gelap terhalang bayangan dari cahaya api. "Kalau kita jual di kota perbatasan, kita bisa makan daging segar dan bir enak seminggu penuh." Ia menatap bagian bawah botol kaca, cap lilin hitam milik militer masih menempel setengah robek.

"Kalau kita tidak dirampok tentara atau bandit di jalan," timpal Nila pelan. Suaranya serak. "Darah itu menarik perhatian banyak lalat."

Kael menggeser botol itu ke arah Arkan. "Ambil."

Arkan menoleh. "Sudah kukatakan. Simpan saja."

"Ototmu tidak akan berguna kalau lawanmu monster tingkat tinggi, Arkan!" Kael menaikkan nada suaranya. "Kau hanya manusia. Sekali sabet, kau mati. Selesai."

"Masih lebih baik daripada jadi budak benda hidup itu," sahut Arkan. Matanya melirik pantulan cahaya merah dari botol, memancar di kulit tangannya. "Kalian membiarkan parasit tinggal di dalam jantung kalian sendiri."

Nila membuka matanya yang merah, jemarinya meremas jerami kering di bawah tubuhnya hingga berderit. "Kau bicara seolah Darah ini memilih jadi seperti ini. Kami hanya wadah, Arkan. Tanpa kami, benda ini hanya monster. Tanpa benda ini, kami hanya mangsa."

Wesi terdiam, matanya menatap api unggun yang mulai mengecil. "Kalian ingat Jargo?"

Kael menoleh. Nila menunduk.

"Pemburu veteran paling hebat yang pernah kukenal," lanjut Wesi. Suaranya merendah, nyaris tenggelam oleh letupan bara api unggun, abu panas memercik ke tanah. "Terlalu sering menggunakan kekuatan Darah. Suatu pagi, dia bangun tapi tidak bisa bicara. Kulitnya jadi keras seperti kerak pohon. Dia mulai menggeram ke arah istrinya sendiri."

Krak. Bunyi kayu patah di tumpukan api unggun terdengar saat Wesi mengambil salah satu kayunya.

"Kami harus menusuk jantungnya saat dia mulai memakan tangan temannya sendiri. Darah itu mengambil alih seluruh kepalanya. Dia bukan lagi Jargo."

Lihat selengkapnya