A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #4

3. KOTA KRUISPUNT

Di atas Hutan Mati, langit menggantung rendah seolah siap runtuh menimpa ujung-ujung pohon pinus.

Arkan berjalan di antara Kael dan Wesi. Setiap kali sepatu kulitnya menghantam lumpur, lapisan tanah liat dan darah kering mengubahnya menjadi menjadi bongkahan kaku yang menggesek kulit kakinya setiap langkah.

Nila terkulai di punggung Arkan, napasnya tipis dan pendek, sesekali merintih kecil ketika langkah Arkan terperosok ke dalam lubang akar, tulang mereka beradu.

Kael berjalan di samping Arkan, matanya menatap lurus ke depan. Mantel hitam menutupi tubuh bagian bawahnya. Arkan melirik ke arah bahu dan dada Kael. Uap topis mengepul di rona merah kulitny. Bekas luka parah akibat hantaman monster setinggi tiga meter tadi malam lenyap. Tidak ada jahitan atau bekas parut. Arkan membuang muka.

"Berhenti," langkah Kael terhenti. 

Arkan berhenti, otot bahunya gemetar menahan beban Nila. Mereka berdiri di bawah batang pohon tumbang yang menghitam karena jamur. 

Wesi jatuh berlutut. Ia menunduk, cairan kuning pahit memyembur dari mulutnya membasahi akar pohon.

Nila membuka matanya sedikit. "Monster itu... kenapa dia tidak mengejar?" Suaranya pecah di tengah kalimat. Napasnya menyentuh tengkuk Arkan,

Suara lonceng besi di kejauhan yang berdenting pelan. 

Kael memeras rambutnya yang lepek, air mengalir melewati tengkuknya, jatuh menetes ke tanah. Matanya menatap ke arah jalur gelap yang baru saja mereka lalui. "Karena ada yang membunuhnya."

Wesi meludah, punggung tangannya menyeka sisa cairan kuning dari mulutnya. Ia mengangkat wajahnya yang pucat, menatap Kael, matanya membesar. "Maksudmu... sesuatu yang lebih besar dari benda itu?"

"Bukan sesuatu," suara Kael hampir tenggelam oleh deru angin hutan. "Seseorang. Monster setingkat itu dipenggal dengan satu gerakan bersih. Tidak ada sisa pertarungan yang lama. Hanya satu tebasan."

Kael berdiri, menatap kabut bergerak tertiup angin. "Jika aku bisa hidup tanpa harus berpapasan dengan orang itu, aku lebih pilih begitu. Sekarang jalan. Kita tidak boleh berada di tempat terbuka saat kabut ini hilang."

Dua jam kemudian, lumpur hitam yang kenyal berganti menjadi jalur tanah padat, Arkan menatap bekas roda kereta kuda yang dalam. Bau bangkai Gris-hound tercium dari selokan jalan, dikerubungi lalat-lalat hutan sebesar jempol. Ia menoleh ke tiang-tiang lonceng anti-monster berdiri tegak setiap seratus langkah. Besinya berkarat, permukaannya ditumbuhi lumut kerak yang tebal, lonceng itu berdentang lemah setiap kali angin menyentuh bandulnya.

Di kejauhan, tembok batu Kota Kruispunt berdiri seperti tebing buatan yang membelah dunia. Menara-menaranya yang tinggi tampak seperti tombak yang menusuk langit, cahaya merah samar di puncaknya. 

Kereta pemburu melintas di samping mereka. Kereta dari kayu ek hitam yang diperkuat dengan lempengan besi. Dua ekor kuda beban menarik kereta, uap panas keluar dari kedua mulut kuda.

Arkan menatap taring di balik jeruji besi kereta, masih berlumuran lemak mayat. Lalu, menoleh ke tumpukan peti kayu kecil di samping jeruji. Tatapannya berhenti di segel lilin hitam kerjaan. 

Para pemburu di atas kereta menatap mereka. Seorang pria dengan bekas luka bakar di lehernya, meludah ke arah kaki Arkan. "Lihat pemburu liar ini. Bau mereka lebih busuk dari monster yang mereka buru."

Arkan menoleh ke sisi kereta di depannya, matanya menatap lambang izin berburu tergantung di sisi kereta. Tangannya mencengkeram erat tali pengikat Nila di punggungnya. 

"Tolong! Di sana!" Suara teriakan dari kejauhan melengking memecah keheningan fajar. 

Sekelompok warga sipil terkepung di tikungan jalan. Lima ekor Gris-hound, anjing-anjing tanpa kulit, susunan gigi jarum mencuat keluar dari gusi, mengitari mereka. Salah satu monster itu merobek betis pria tua yang mencoba melindungi seorang anak kecil.

Para pemburu di atas kereta melambatkan jalannya. 

Lihat selengkapnya