A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #5

4. DARAH HITAM

Gedoran di pintu depan The Rusty Marrow terdengar keras. Suara teriakan prajurit Detasemen memerintahkan semua orang tiarap mulai menembus dinding kayu ek yang tebal. Beberapa pemburu liar bergerak ke balik bayangan pilar, pemburu lain menenggak habis bir mereka lalu melompat lewat jendela samping.

Pemilik bar menarik tuas di bawah meja kasir. Rak botol minuman yang berdebu bergeser perlahan, menyingkap sebuah lorong gelap yang sempit.

"Cepat masuk," Matanya melirik ke arah pintu depan. "Kalau mereka menemukan pemburu tanpa izin di sini, tempatku akan dibakar habis."

Kael mengangguk. Ia menarik bahu Arkan, mereka masuk ke dalam lorong, bau limbamb dan darah lama bercampur di udara lorong.

Mereka keluar ke gang belakang distrik pemburu, gerimis tipis membahasi rambut mereka. Obor-obor di dinding luar sudah dipadamkan para penghuni gang. 

Arkan berjalan paling belakang, tangannya menggenggam gagang kapak. Belasan kepala pemburu liar bergerak cepat di depan mereka, Kepala tertunduk, jubah kotor mereka menyapu lumpur.

Arkan menatap seorang Vessel tua bersandar di dinding lembap, memuntahkan darah ke dalam parit. Di sampingnya, seorang perempuan mengikat pembalit di bahu dengan gigi, satu lengannya terpotong bersih hingga bahu. Seorang anak kecil berlari melewati mereka, mendekap dua botol penyegel kosong. 

Langkah mereka terhenti di bangunan kayu tiga lantai. Wesi menatap papan nama The Blind Crow, senyum lebar menampakkan barisan giginya. Bau kayu lembap dan obat luka yang tajam menusuk hidung saat mereka melangkah masuk. Suara tikus mencicit terdengar di balik sudut dinding kayu lobi. 

Kael melempar tiga keping perak ke atas meja kayu yang lengket. Pria bungkuk dengan mata keruh melirik sekilas ke arah Arkan yang berlumuran darah, lalu menyerahkan kunci besi berkarat.

Kael meraih kunci, lalu berjalan menuju tangga ke lantai dua. Mereka berhenti di depan kamar tanpa nomor. 

Wesi berlari ke arah ranjang tua. "Akhirnya bisa tidur dalam kamar lagi." Ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang tampa melepas sepatu bootnya. 

Nila berjalan pelan ke ranjang dekat dinding, ia merebahkan diri, meringkuk memeluk mantelnya erat-erat, tubuhnya sedikit gemetar. 

Arkan berjalan ke sudut kamar, meraih ember air keruh lalu membuang isinya lewat jendela kamar yang pecah. Ia meletakkan kembali ember di sudut kamar, lalu duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang Nila. Ia mengambil sepotong kain kasar, mulai menggosok sisa cairan abu-abu dari mata kapaknya

Kael menarik satu-satunya kursi kayu di kamar, meletakkannya tepat di depan pintu yang terkunci, lalu duduk diam menatap kegelapan.

Kesunyian mengisi kamar. Kelopak mata mereka perlahan turun, hingga menutup sepenuhnya. 

***

Lilin di atas meja kecil mulai meleleh, cahayanya bergoyang tertiup angin yang masuk lewat celah jendela. Suara petir memyambar menyentak Kael dari tidurnya. Pupil matanya menyempit, kukunya memanjang. Ia menatap ketiga anggota kelompoknya dalam diam. Pupil matanya perlahan membulat, kuku tajamnya kembali normal. 

Kael merogoh kantong kecil di pinggangnya, mengeluarkan botol kaca berisi Darah merah hasil buruan semalam. Matanya menatap cairan itu berdenyut pelan di dalam botol. 

Derap kaki kuda di depan penginapan menggetarkan bangunan. Arkan, Nila dan Wesi terbangun, meraih senjata mereka. 

Kael menoleh ke Arkan yang baru terbangun, menyodorkan botol itu ke depan wajahnya. "Kesempatanmu masih ada. Kau melihat sendiri apa yang terjadi di jalan tadi. Manusia biasa hanyalah mangsa."

Arkan meletakkan kapaknya di samping tubuhnya. Ia menatap denyutan merah di dalam botol itu. "Aku masih manusia."

"Kau manusia yang bisa mati hanya karena satu kesalahan kecil," balas Kael. "Dan saat itu terjadi, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa."

Suara air hujan di atas atap kayu terdengar samar. Kael menoleh ke arah Wesi yang terbaring menatap langit-langit.

"Kau mau ini?" tanya Kael.

Lihat selengkapnya