Cahaya matahari yang pucat menembus jendela pecah The Blind Crow, Bau arang dan logam yang ditempa dari distrik bawah tercium hingga ke dalam kamar. Suara roda kereta monster yang berat melindas batu jalanan beradu dengan teriakan para pedagang yang mulai membuka lapak di trotoar berlumpur.
Di dalam kamar, Wesi terbungkus selimut kusam dan bau apek. Satu kakinya menjuntai ke lantai, masih lengkap dengan sepatu bot yang penuh sisa tanah kering. Tangannya mendekap kantong emas hasil jual Darah kemarin di depan dada.. Di ranjang seberang, Nila duduk bersandar pada dinding kayu yang dingin. Wajahnya masih pucat, ia menyesap air dari gelas kayu, tangannya tidak lagi gemeta.
Srek Srek Srek
Suara gesekan logam dan batu asahan terdengar dari sudut kamar. Arkan mengusap bilah logam itu dengan kain, memastikan tidak ada sisa cairan abu-abu monster yang tertinggal di sela-sela ukiran kasarnya.
Kael berdiri di dekat jendela sejak fajar menyingsing. Mantelnya yang robek tersampir di bahu, matanya mengawasi barisan zirah putih Detasemen yang melintas di persimpangan jalan di bawah sana. Uap tipis keluar dari sela bibirnya setiap kali ia mengembuskan napas.
"Kau mengasah kapak itu seolah kau akan membelah gunung," gumam Kael tanpa menoleh ke arah Arkan.
"Hanya memastikan kapaknya tidak tumpul saat kepalamu yang dibelah monster nanti," jawab Arkan datar.
Wesi melenguh, membuka satu matanya yang masih lengket. "Berisik banget sih... orang lagi mimpi mandi emas juga."
"Aku akan kembali ke Rusty Marrow." Kael menoleh ke dalam kamar, matanya berpindah dari Wesi, ke Nila lalu beralih ke Arkan. "Wesi, kamu ke pasar. Lakukan yang biasa kamu lakukan." Matanya menatap tangan Nila yang sudah tidak gemetar. "Nila, kamu..."
"Aku tau. Ke Apotek." Nila menatap air di dalam gelasnya.
"Aku akan ke pandai besi." Arkan menggeser kapaknya ke pundak. Serpihan kering darah monster masih menempel di sela ukiran bilahnya. "Aku butuh kapak lebih kuat."
"Kapak hanya alat, Arkan." Kael maju satu langkah. Lantai kayu berderit pelan di bawah sepatu botnya. "Yang kau butuhkan itu kekuatan untuk dirimu sendiri."
Arkan menyelipkan kapaknya di balik punggungnya. "Aku duluan." Ia berdiri, melangkah keluar kamar.
"Sudahlah, kapten." Wesi menarik tali rambutnya dengan gigi sebelum mengikat rambut kusutnya ke belakang. "Saat ini dia belum butuh."
Wesi berdiri, mengikat kantung emas di pinggangnya. "Baiklah, aku akan ke pasar, dan kamu Nila." Ia menoleh ke Nila. "Setelah dari apotek, kita bertemu di pemandian dekat pasar. Kita perlu mandi."
Nila meletakkan gelas ke atas meja, lalu ikut berdiri. "Iya, aku akan kesana."
Wesi dan Nila berjalan keluar kamar berdampingan, meninggalkan Kael yang masih berdiri menatap tempat yang tadi diduduki Arkan.
Kael melangkah keluar dari penginapan, Matanya menatap Wesi dan Nila berpisah di persimpangan jalan. Ia menarik tudung jubahnya, berjalan pelan menuju The Rusty Marrow.
Pintu kayu terbuka pelan saat Kael melewatinya. Cahaya matahari pagi masuk lewat celah puntu, menyinari debu berterbangan di udara. Lantai bar masih lengket sisa tumpahan bir semalam. Pemilik bar mengelap gelas dengan kain kusam.
Kael duduk di depan meja bar. "Apa yang baru, Klev?"
Pemilik bar meletakkan segelas air, lalu membungkuk sedikit ke depan. "Jangan panggil nama itu disini."
Kael memutar gelas kosong di atas meja. "Sebelas tahun, dan kau masih menyembunyikan nama itu." Kael meraih gelas, lalu meneguk airnya hingga habis.
"Yah, kehidupan sebagai Jon lebih tenang daripada harus diburu Pemerintah."
"Kekuatanmu itu langka, cukup kuat untuk meratakan kota ini."
Jon tertawa, perut besarnya bergetar dibalik pakaiannya. "Dengan tubuhku yang sekarang, aku hanya bisa menerbangkan satu orang. Tidak lebih."
"Setidaknya, kau harus mencari pengganti untuk kekuatanmu."
"Merawat orang lain seperti yang kamu lakukan pada bocah itu?." Jon mencodongkan tubuhnya. "Aku bukan vessel yang meminum Darah seperti mu Kael. Dan aku juga belum menemukan manusia yang pantas untuk kekuatan ini."
"Yah, ini hanya saran dari kawan lama. Keputusan tetap ada di tangan mu." Ia menggeser gelasnya ke arah Jon. "Bisa tambahkan lagi, Klev? Maksudku Jon."
Jon menuangkan air berwarna kuning ke dalam gelas.
"Jadi, ada berita apa?" Kael menatap air yang mengisi gelasnya.
"Sayembara besar. Kerajaan baru saja menaikkan taruhannya pagi ini. Hutan Kabut mulai bergerak ke arah jalur dagang selatan. Tiga rombongan pedagang besar hilang minggu ini, dan satu detasemen kecil ditemukan tinggal zirah kosong."