A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #7

6. HUTAN MATI

Langit fajar di atas Kota Kruispunt masih berwarna abu-abu pucat. Di gerbang selatan, ratusan uap keluar dari mulut orang-orang dan hewan pengangkut barang. Lumpur hitam setinggi mata kaki di bawah gerbang mengental setiap roda kereta pemburu melintas di atasnya. Cipratan lumpur mengenai celana seorang pemburu di depan Arkan, meninggalkan bercak hitam yang langsung mengering di kainnya.

"Obat luka! Dua keping perunggu untuk luka luar!" Suara penjual obat terdengar dari tengah kerumunan, ia berdiri di atas peti kayu, mengacungkan botol hijau keruh ke arah kerumunan. 

Pedagang lain mengipasi arang di depannya, bara merah menyala, kepulan asap melayang dari pangggangan daging monster yang menghitam. Lemak daging menetes ke bara, Aroma daging bakar bercampur di udara.

Lonceng besi dari pandai besi keliling berdentang. Ia duduk di pinggir jalur, memukul sambungan zirah di atas landasan kecil, percikan api padam di atas tanah basah. Suara pukulan besi memantul di antara gerobak-gerobak kayu. 

Skuad Kael berjalan di tengah kepadatan. Arkan menarik napas dalam, bau keringat, kotoran kuda, dan karat menyengat hidungnya. Ia menoleh ke arah pemburu Darah dengan zirah penuh goresan dalam, Vessel resmi dengan jubah seragam yang masih kaku dan bersih, pemburu liar bermodalkan kapak berkarat dan kain kumal untuk melindungi tubuh.

Di pinggir jalan, seorang wanita tua memegang erat tangan seorang pemburu muda sebelum pria itu naik ke atas kuda. Tak ada suara tangis, hanya tatapan yang terpaku pada gerbang kayu besar yang mulai terbuka lebar. Roda-roda kereta bergerak perlahan melewati gerbang. Bunyi kayu tua dan rantai besi bercampur memecah sunyi yang menggantung di antara orang-orang yang ditinggalkan. 

Arkan beralih ke tim kecilnya, lalu menatap kembali ke kerumunan di depan. Mereka berjalan bersama arus pemburu. Beberapa kelompok membawa tanduk monster yang diikat di punggung kuda, pemburu lain membawa karung kain lusuh dan senjata yang dibungkus seadanya.

Dua jam perjalanan meninggalkan gerbang. Langkah Kael berhenti di percabangan besar. Matanya menatap jalan di sisi kanan, lebar dan kering, bekas jejak ribuan roda kereta membentuk jalur dalam dan jelas. 

Ia beralih ke papan kayu tua yang sudah pecah di beberapa sudut berdiri miring, dipaku pada tiang yang menghitam.

Karavan dagang besar dengan puluhan pengawal berkuda melewati mereka, berbelok ke jalur kanan. Suara cambuk kuda dan teriakan kusir bergema pelan di bawah langit pagi. Jalur itu membentang jauh melintasi perbukitan, pos-pos suplai dengan bendera kerajaan terlihat di kejauhan. Asap tipis naik dari cerobong pos suplai, nyaris tenggelam di bawah langit mendung.

Kael menatap jalur kiri, jalurnya menghilang terturup kabut putih tebal menggantung rendah, menyelimuti pohon tanpa daun yang berdiri kaku. Aroma tanah basah dan bau bangkai bercampur di udara.

Beberapa pemburu liar pakaian lusuh berhenti di persimpangan, lalu melanjutkan langkah masuk perlahan ke dalam kabut.

Seekor burung hitam turun di atas papan penunjuk jalur yang lapuk. Kepalanya bergerak patah-patah mengawasi para pemburu yang masuk ke Hutan Mati lalu terbang rendah mengikuti salah satu kelompok kecil yang berjalan paling belakang.

Arkan berhenti di samping Kael, matanya menatap jalan yang menghilang tertelan kabut. "Kita akan lewat jalur itu?" Ia menoleh ke arah Kael. 

Krak. 

Sepatu bot Kael menginjak ranting kering. Ia menoleh ke sepatunya lalu beralih ke Arkan. 

"Kalau memutar, persediaan kita habis sebelum sampai."

Arkan menepuk tas logistik di pinggangnya. Isinya bergoyang pelan. "Kita bisa berburu di jalan. Jalur selatan punya banyak pos."

Kael berhenti melangkah. Ia berbalik perlahan. "Dan membuang tiga hari tambahan hanya untuk mengisi perut?" Ia mendengus, lalu kembali membalikkan badan. "Waktu satu-satunya hal yang tidak bisa kita beli di sini, Arkan."

Suara derap kuda perlahan mendekat. Barisan Vessel resmi melintas di samping Arkan. Cahaya pagi memantul dari zirah mereka. Arkan menoleh ke barisan kuda di sampingnya, peti-peti kayu yang tertutup terpal kulit yang tebal di punggung kuda. 

Ketua barisan Vessel menarik tali kekang, kudanya meringkik tepat di samping Arkan. Pria itu melirik tas logistik Arkan yang tipis, lalu tertawa pendek. "Kalian mau memutar?" Ia menunjuk ke arah jalur selatan dengan dagunya. "Persediaan kalian bahkan tidak cukup untuk setengah perjalanan."

Pemburu lain di belakangnya terkekeh, suara besi zirah mereka beradu saat mereka bergerak. Vessel itu mengalihkan pandangannya ke arah Hutan Mati yang gelap dan berkabut.

Lihat selengkapnya