Kabut pagi masih menggantung rendah di antara batang-batang pinus Hutan Mati. Garis cahaya matahari menembus dahan hitam di atas kepala. Tetesan air jatuh dari ujung akar hitam yang melengkung tajam di atas kepala Arkan, lalu pecah menjadi butiran kecil yang merambat masuk ke sela rambutnya yang berminyak.
Arkan membuka mata, ia menatap kabut yang bergerak pelan di barisan akar pohon pinus, matanya bergerak ke bayangan para pemburu yang berjalan meninggalkan area perkemahan. Ia beralih ke seorang pemburu yang duduk beberapa meter darinya, tangannya gemetar mengikat kain rami basah ke telapak sepatu botnya, menarik talinya dengan sentakan kasar.
Arkan bangkit perlahan. Bunyi sendi berderit halus. Ia mengusap sisa air di pelipisnya, lalu menatap punggung Kael. Arkan melangkah mendekat.
Kael berdiri di depan pohon pinus yang ia tandai dengan cakaran semalam. Ujung jarinya meraba permukaan kulit kayu yang sudah berubah bentuk. Bekas tiga cakaran terkoyak lebar, lubang di batang pohon itu dipenuhi lendir transparan yang menetes pelan.
“Angin?” tanya Arkan pendek, jemarinya merapikan tali tasnya.
“Kalau angin, pohonnya ikut patah,” jawab Kael tanpa menoleh. Ia menarik jarinya dari bekas cakaran. Lendir yang menempel di kulitnya menghitam seketika saat terpapar udara.
Tetesan lendir jatuh ke atas bangkai seekor tikus hutan yang terjepit di antara lipatan akar. Arkan menunduk, menatap kedua mata tikus yang keluar dari rongganya.
"Jalan," perintah Kael, suaranya rendah.
Arkan berbalik, meraih kapaknya yang tersandar di pohon. Ia mengikuti langkah Kael, menembus kabut, meninggalkan area perkemahan.
Semakin dalam mereka masuk, jalur lumpur mulai dipenuhi bekas pijakan lama yang saling bertumpuk. Akar-akar besar pohon pinus melintang seperti urat-urat raksasa yang menyembul dari tanah. Arkan mengangkat kakinya, menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir ke dalam parit-parit kecil berisi air keruh di sisi jalan.
Kael menatap jejak roda kereta tenggelam setengah di tanah hitam, ia berhenti di dekat genangan air, lalu berjongkok. Ia menoleh ke dahan semak yang patah, gumpalan bulu hewan dan potongan kain tersangkut.
Wesi maju, berjongkok di depan genangan air. Ia mengeluarkan pisau kecilnya, menusukkan ujung bilahnya ke tengah-tengah darah yang berbusa. "Masih panas," gumam Wesi. Matanya menyipit.
“Tiga orang,” gumam Kael menatap bentuk jejak di tanah. Ia mengais tanah di sekitar jejak, menggeaer dedaunan busuk yang menumpuk.
Jemarinya menarik patahan gigi manusia. Ia mengangkat taring itu ke depan matanya, memutar-mutarnya perlahan.
"Tidak hanya diseret," ucap Kael pelan. "Dia dipakaa menggigit akar ini agar tidak berteriak saat ditarik."
Arkan menatap seretan panjang di samping jejak kaki. “Diseret?”
“Awalnya dipapah.” Kael berdiri lagi. “Lalu jatuh.” Ia melempar taring itu ke dalam lumpur hitam, lalu menunjuk bekas pijakan yang lebih dalam dari lainnya. “Satu terluka.”
Arkan menatap taring yang tenggelam di lumpur itu.
"Cepat," desis Kael. "Aromanya mulai menyebar."
Mereka mengikuti arah jejak. Arkan memegang kapaknya lebih erat. Kabut di depan mereka tertiup angin, bau amis tercium dari arah ujung jejak. Suara lonceng kecil terdengar samar di antara kabut.
Kael menepis semak yang menghalangi jejak. Mereka menatap seorang pria terikat di batang pohon. Kaki kirinya hancur dari lutut ke bawah, tulangnya menyembul putih di sela daging yang menghitam. Potongan daging monster diikat kasar di pinggangnya, bau anyir memenuhi udara sekitar.
Mulutnya disumpal dengan gulungan kain rami, air liur menetes dari sudut mulutnya.
Beberapa lonceng kecil tergantung di tali yang melilit tubuhnya, berayun pelan mengikuti napas si pria yang tersengal.
“Umpan,” gumam Arkan pelan.
Pria itu mengangkat wajah perlahan saat mendengar suara langkah mendekat. Matanya merah dan cekung, napasnya terdengar pendek dan basah. “Tolong...” suaranya pecah sebelum batuk darah kecil jatuh ke dagunya. “Potong talinya...”
Kael mendekat, matanya menyusuri simpul tali di tubuh pria itu. “Kelompokmu?”
“Mereka... ka... bur...”
Kael menarik salah satu tali di dadanya pelan, ia menatap simpulnya beberapa detik lalu berdiri kembali. “Bukan kabur.”
Sunyi sesaat memenuhi jalur itu.
“Mereka memang meninggalkanmu.”