Kabut pagi menggantung rendah di antara batang-batang pohon mati. Lumpur hitam masih menempel tebal di sepatu mereka, menarik langkah setiap kali kaki diangkat dari tanah basah. Jalur yang kemarin masih dipenuhi pemburu perlahan menyempit, ditelan akar-akar besar menyembul dari tanah seperti tulang raksasa.
Kael berjalan paling depan. Mantelnya yang lembap bergesekan pelan dengan dahan pohon mati, tangannya menepis semak basah yang menghalangi jalan. Nila mengikuti di belakangnya, tudung kepalanya ditarik lebih rendah. Uap napas mereka perlahan larut di udara dingin.
Arkan mengangkat wajahnya. Kabut bergerak pelan di sela batang pinus hitam yang menjulang tinggi. Matanya menatap pohon-pohon berdiri rapat tanpa celah.
Matanya turun ke tanah. Bekas roda kereta menghilang di bawah lapisan daun busuk dan air hitam. Jejak sepatu tua muncul samar di lumpur, lalu hilang tertelan akar pohon.
Jemari Arkan menyentuh tali tas logistik di pinggangnya sebentar. Ia menekan kantung air di sisi tas, lalu melepasnya lagi.
Wesi merapikan ujung rambut yang menutupi wajahnya. “Sudah tidak ada jalur dagang yang masuk sejauh ini.”
Kael melambat. Langkahnya berhenti di depan batang pohon raksasa yang melintang di tengah jalur. Ia mendongak, menatap lumut pucat tumbuh tebal di kayunya yang hitam membusuk. Ia meraba permukaan kayunya, bekas sayatan panjang merobek kulit kayu hingga bagian dalam.
Arkan mendekat pelan. Ujung jarinya menyentuh salah satu bekas cakaran. Ia mengangkat matanya perlahan, mengikuti arah bekas sayatan itu hingga beberapa meter ke atas batang pohon.
Wesi mendecak pelan. “Jalurnya mati.”
Lengan Kael membesar, bulu hitam keluar dari pori kulitnya. Kaki kananya mundur satu langkah, kuku jarinya memanjang tajam. Ia menarik tangannya ke belakang, lalu mengayunkan cakarnya ke arah batang pohon.
Krak.
Batang pohon raksasa terbelah dua dengan potongan kasar.
Kael melangkah melewati batang pohon itu lebih dulu. “Kita masih setengah jalan.”
Langkah Arkan berhenti di tengah patahan pohon. Matanya menatap potongan cakaran Kael, lalu beralih ke kabut putih di depan mereka. Kabut masih menggantung, batang pohon mati masih berdiri di sekitar mereka.
Menjelang siang, jalur lumpur mulai menurun. Akar-akar pohon berubah semakin besar, mencuat dari tanah seperti ular hitam yang saling melilit. Beberapa di antaranya menembus dinding batu tua yang muncul di antara kabut.
Kael mengangkat tangannya pelan. Bayangan bangunan batu berdiri miring di balik deretan batang pohon mati. Dindingnya dipenuhi lumut dan akar.
Ia menatap runtuhan dinding di beberapa bagian. Menara kayu menempel di sisi tembok patah setengah, menggantung miring di atas jurang kecil, dipenuhi air hitam. Kabut bergerak pelan melewati celah-celah batu yang retak.
Arkan mendekat perlahan. Ia menatap gerbang besi benteng yang terbuka sedikit. Salah satu sisinya sudah lepas dari engsel, tenggelam separuh ke dalam lumpur. Bunyi rantai berkarat terdengar saat angin bergerak perlahan.
Wesi mengeluarkan obor kecil dari dalam tasnya, lalu memantik api. Ia melangkah masuk lebih. Cahaya api memantul di dinding batu yang lembap.
“Sudah lama kosong,” gumamnya.
Arkan menatap sigil kerajaan yang terpahat di dinding gerbang. Separuh simbolnya sudah hancur dimakan retakan batu. Bekas cakaran besar merobek bagian tengah lambang itu hingga nyaris putus.
Kael berjalan melewati halaman benteng, pupil matanya menyempit, bergerak pelan ke tiap sudut gelap yang tertutup bayangan.
Nila berhenti di dekat tumpukan tombak berkarat yang bersandar di dinding batu. Jemarinya menyentuh salah satu gagangnya pelan. Kayu tombak patah menjadi beberapa bagian.
Arkan melangkah menuju bangunan utama benteng, pintu kayunya pecah dari dalam. Bekas darah hitam mengering memenuhi sisi dinding dekat pintu masuk. Ia menunduk sedikit, matanya menatap helm besi tua tergeletak di lantai batu, bagian depannya penyok ke dalam.
“Dulu tentara lewat sini?” tanya Arkan masih menatap helm.
Wesi menyandarkan tubuh ke pilar batu. “Dulu semua jalur utara dipenuhi benteng.”
“Terus?”
“Hutannya berhenti tumbuh. Makanya sekarang disebut Hutan Mati.”
Arkan mengangkat matanya perlahan. Akar-akar hitam menjalar dari celah lantai batu, memanjat dinding benteng seperti urat yang tumbuh dari dalam tanah.
Kael berhenti di dekat jendela tanpa kaca yang menghadap hutan. Ia menatap lurus ke kabut yang bergerak perlahan. “Kita tidak sendiri.”
Suara lumpur terinjak terdengar dari luar benteng. Wesi menarik pedangnya keluar setengah. Nila mundur pelan mendekati dinding batu. Arkan menggenggam kapaknya erat.
Dua bayangan manusia muncul di balik kabut. Pakaian mereka basah hingga dada.
“Kalian bawa makanan?” Mata pemburu yang lebih tua menatap tas di pinggang Arkan.
Ia berhenti beberapa langkah dari gerbang benteng. Yang lebih muda berdiri sedikit membungkuk, menekan kain penuh darah di perutnya.
Kael masih berdiri di dekat jendela batu yang menghadap hutan.
Wesi menyandarkan pedangnya ke bahu. “Kalau kami bilang iya?”
Pemburu tua mengusap lumpur di janggutnya dengan punggung tangan. “Kami tukar informasi.”
“Informasi apa?” tanya Arkan.
“Jalur depan mati.”