Api di sepanjang dinding menyala redup setelah sidang Conclave berakhir. Pantulan cahayanya bergerak pelan di lantai batu hitam yang mengilap seperti permukaan air gelap.
Para pelayan membersihkan meja batu panjang di tengah ruangan. Gulungan laporan diangkat satu per satu, gelas anggur dipindahkan ke baki perak besar. Suara rantai lampu besi di langit-langit berdenting pelan setiap kali angin pagi masuk melalui celah jendela tinggi kastil Velskorath.
Dua belas sigil kerajaan tergantung di antara pilar-pilar raksasa aula.
Beruang putih House Valen. Yeti bersalju milik House Drax. Mata air House Voss. Palu hitam Khaz. Tiga tumpuk koin emas House Khain. Gandum kuning milik House Estern. Tangan di atas rawa milik House Zenn. Timbangan Emas milik House Auren. Pohon pinus putih milik House Vein. Dua aliran sungai milik House Sherros. Pilar api milik House Merovech, dan Jangkar biru milik House Tyreon.
Kain-kain besar itu bergerak perlahan diterpa angin. Satu per satu para penguasa kerajaan meninggalkan aula.
Langkah armor hitam Vortigern Drax menggema pelan di lorong batu. Ia berjalan menyusul Edric Valen. Bunyi logam beratnya memantul di dinding lorong yang sempit.
"Kau diam sekali di dalam tadi," ucap Drax.
Edric Valen tetap berjalan tanpa menoleh. Mantel bulu hitam di pundaknya bergesekan pelan setiap kali ia melangkah.
"Tidak semua orang suka mendengar suaranya sendiri." Sudut mulut Edric bergerak tipis.
Di luar jendela lorong, kabut pagi menggantung di antara menara-menara batu Velskorath. Jembatan tinggi yang menghubungkan menara utama perlahan dipenuhi pelayan dan ksatria Conclave bergerak menjalankan aktivitas pagi.
"Aku dengar pemburu Valderk mulai menjual jalur rahasia menuju Hutan Kabut." Drax berjalan di samping Edric.
"Dan aku dengar tentara Drakovar mulai menjual pedangnya ke bangsawan kaya." balas Edric tanpa menoleh.
Drax mendengus kecil. "Setidaknya tentaraku tahu cara bertarung."
Edric berhenti sebentar di depan jendela tinggi lorong batu. Cahaya pagi menyinari sisi wajahnya, penuh bekas luka lama. Matanya menatap jauh ke arah utara.
"Kalau begitu kenapa benteng utaramu masih penuh mayat?" Edric menoleh ke arah Drax, lalu berjalan kembali.
Drax berhenti sejenak. Ia menatap punggung besar Edric tanpa bicara. Lalu tertawa pendek.
"Valderk masih keras kepala rupanya." Drax kembali berjalan.
"Kalau kami tidak keras kepala, utara sudah habis dimakan monster sejak lama."
Langkah mereka perlahan menghilang di ujung lorong batu.
Di balkon batu sisi timur Valskeroth, kabut pagi Astaghor bergerak pelan di dekat pantai selatan Varekh. Cahaya matahari memantul di atap menara perunggu dan kubah hitam kuil Elder God yang berdiri di pusat kota.
Puluhan bel di kuil kecil berbunyi bersahutan dari kejauhan. Caelum Auren berdiri di balkon kastil, jemarinya memutar cincin emas. Dari belakang, Kaelor Zenn mendekat. Mantel rawa hijau gelapnya meninggalkan bercak lumpur tipis di lantai marmer balkon.
"Bau rawa ternyata bisa sampai sejauh Astaghor," gumam Caelum tanpa menoleh.
Kaelor tertawa kecil. "Dan bau uang ternyata bisa dicium dari mana saja."
Senyum tipis muncul di wajah Caelum.
Di bawah balkon, kereta dagang bergerak memasuki jalur utama kota. Kuda hitam Conclave berjalan perlahan di antara kerumunan pedagang dan pelayan kerajaan.
"Kau terlihat terlalu senang melihat Hutan Kabut bermasalah." Caelum masih menatap ke bawah balkon.
"Krisis selalu menguntungkan seseorang." Kaelor berdiri di samping Caelum.
"Dan kali ini menguntungkanmu?" tanya Caelum tanpa menoleh.
"Mungkin." Kaelor menyandarkan tubuh ke pagar batu balkon. "Atau mungkin menguntungkanmu."
Caelum menoleh. Jubah ungu tuanya bergerak pelan tertiup angin pagi.
"Kau pikir aku menjual jalur selatan ke timur?" Mata Caelum menyipit.
"Aku pikir kau menjual apa pun selama harganya cocok." Kaelor menatap ke bawah balkon. "Itu sebabnya kerajaanmu masih hidup."
Caelum tertawa kecil. "Kalau jalur ke timur ditutup terlalu lama, Vessel liar akan pindah ke utara." Matanya bergerak ke bawah, menatap kota batu Astaghor yang mulai dipenuhi aktivitas pagi "Valderk akan menyukainya."