Angin dingin turun dari pegunungan utara saat tiga pemburu Valderk berhenti di tepi jurang batu. Salju tipis bergerak pelan di antara sepatu kulit mereka. Kabut putih menggantung rendah di sela hutan pinus hitam yang memenuhi lereng bawah gunung.
Mereka menatap ke arah lembah. Ratusan rusa kutub berlari melintasi hamparan salju. Tubuh-tubuh besar itu menghantam semak beku dan batang pinus kecil tanpa berhenti. Uap napas mereka memenuhi udara dingin seperti asap putih panjang.
Salah satu pemburu perlahan menurunkan busurnya. “Apa sudah masuk musim turun?”
Pemburu tertua menggeleng pelan, matanya menatap lurus ke bawah. “Kemarin mereka masih di gunung utara.”
Seekor rusa besar melompat melewati batu tinggi di bawah jurang, diikuti rusa lain di belakangnya. Beberapa rusa menabrak sesamanya hingga jatuh ke salju sebelum kembali bangkit dan berlari.
Jemari Pemburu tua menarik tali mantel bulunya. “Ini buruk.”
Jauh di timur Vhelmora, langit pagi perlahan berubah gelap. Ribuan burung hitam keluar dari Hutan Kabut. Mereka terbang rendah melewati benteng frontier dan menara pengawas kayu. Sayap mereka membentuk suara gemuruh panjang di udara seperti badai yang bergerak.
Beberapa penjaga benteng mengongak ke atas, mata mereka menyipit.
“Kenapa banyak sekali…” ucap salah satu penjaga.
Seekor burung menabrak dinding menara pengawas karena terbang terlalu rendah. Tubuhnya jatuh ke lumpur sebelum langsung diinjak kawanan hewan lain yang terus bergerak ke selatan.
Di atas gerbang benteng, Warden Queen Seralyth Vein berdiri diam memandang langit. Mantel abu-abunya bergerak pelan tertiup angin dingin frontier. Burung-burung terus keluar dari Hutan Kabut.
Salah satu penjaga mendekat pelan. “Yang Mulia…”
“Sudah berapa lama?” Seralyth masih menatap kawanan burung melintas di atas kepalanya.
“Sejak sebelum matahari terbit.” jawab penjaga, matanya bergerak mengikuti langit hitam bergerak di atas benteng.
Air hitam bergerak pelan di antara akar-akar pohon rawa yang mencuat seperti tulang besar dari lumpur. Kabut tipis menggantung rendah di atas permukaan rawa Morvath.
Kaelor Venn berdiri diam di tepi rawa, lalu berjongkok. Matanya terpejam, tangannya menyentuh tanah. Suara angin terdengar terlalu jelas di telinganya.
“Lapor Yang Mulia." Salah satu pengawal rawa mendekat, tangannya menggenggam tombak pendek. "Perangkap ikan kosong.”
"Ada sesuatu yang bergerak." Kaelor menoleh ke arah penjaga. "Serangga, katak bahkan ikan tidak bersuara."
Tatapannya turun ke air hitam di bawah jembatan. Seekor ular rawa kecil perlahan keluar dari air lalu bergerak melewati kayu jembatan menuju daratan. Di belakangnya, puluhan ular ikut keluar dari rawa.
“Mereka keluar?” Mata pengawal mengernyit.
Kaelor berdiri perlahan. Matanya mengikuti arah ular-ular itu bergerak menuju selatan.
"Siapkan penjagaan." Perintah Kaelor. Ia berbalik, berjalan menuju kastil Morvath, wajah Kaelor berubah serius. "Bawa Vessel Jaguar."
Pelabuhan Therrond dipenuhi kabut laut ketika kapal penangkap ikan terakhir kembali ke dermaga. Kayu kapal berderit pelan diterpa ombak kecil. Para nelayan turun tanpa bicara banyak, wajah mereka pucat.
Sea Lord Tyreon Vale berdiri di ujung dermaga batu. Ia menatap lautan abu-abu di depannya. Seekor paus besar muncul ke permukaan beberapa ratus meter dari pelabuhan. Lalu satu lagi.
Semburan air dari punggung paus naik tinggi ke udara pagi. Puluhan burung laut berputar di atas kepala mereka.
“Sudah terlalu dekat,” gumam salah satu pelaut tua.
Tyreon tetap diam. Tangannya mencengkram pagar kayu dermaga yang basah oleh air asin. “Biasanya mereka tetap di laut dalam.”
“Kalau makhluk laut naik terlalu dekat ke daratan…” Pelaut tua itu menelan ludah
Di Estraven, matahari pagi menyinari hamparan gandum hijau yang bergerak lembut diterpa angin. Petani keluar membawa alat panen. Anak-anak kecil berlari di antara jalur tanah. Asap dapur naik perlahan dari rumah-rumah kayu.
Suara lolongan terdengar, diikuti puluhan lolongan lainnya. Semua anjing desa melolong ke arah timur.
Seorang anak kecil berhenti berlari lalu menutup telinganya. Anjing-anjing penjaga terus melolong tanpa berhenti. Ekor mereka turun, tubuhnya gemetar kecil.