Embun masih menggantung di ujung rumput, cahaya matahari turun hangat dari langit biru pucat, memantul lembut di lautan bunga hijau-putih yang bergerak mengikuti angin sejauh mata memandang. Suara serangga pagi dan burung kecil melintas rendah di atas ladang. Skuad Kael berjalan melewati jalur tanah sempit di antara hamparan bunga liar.
Langkah Arkan melambat. Matanya bergerak menyapu padang luas di kanan kiri. Bunga-bunga kecil tumbuh liar di sela rumput tinggi, menyentuh lutut mereka saat angin bergerak pelan.
Wesi mengembuskan napas panjang. "Demi Darah Elder..." Wesi mengangkat tangannya ke atas, punggungnya melengkung ke belakang. "Akhirnya lihat warna selain hitam."
Nila berjalan pelan di belakang Wesi. Jemarinya menyentuh ujung bunga putih kecil sebelum melepasnya lagi.
"Bunga apa itu?" Arkan melirik ke arah Nila
Nila mengangkat bahu. "Entahlah."
"Jawaban bagus."
"Kalau aku bilang tahu, nanti kau kira aku pintar."
Wesi tertawa kecil dari depan. "Dia memang tidak pintar."
Nila melempar bunga kecil ke kepala Wesi.
Langkah kaki Kael menginjak rumput yang menghalangi jalannya. Mantel gelapnya bergerak pelan tertiup angin padang. Arkan mengangkat wajah, menatap barisan burung kecil melintas rendah di atas kepala mereka.
Jalur tanah melebar saat mereka mendekati area ladang terbuka. Kael menatap beberapa petani bekerja di kejauhan. Kereta jerami bergerak lambat ditarik dua kuda cokelat. Suara tawa anak-anak samar terdengar terbawa angin.
Salah satu petani menghentikan langkah saat melihat skuad Kael mendekat. Tatapannya turun ke kapak Arkan, lalu ke pedang Wesi. Matanya berhenti di tubuh besar Kael. "Pemburu frontier?" tanyanya petani itu, suaranya rendah.
Kael mengangguk.
"Dari Hutan Mati?"
"Kami cuma lewat," jawab Kael pendek.
Petani itu mendekat beberapa langkah. Tubuhnya kurus, topi jerami lusuh bergerak pelan mengikuti langkahnya. "Kalian datang di hari bagus." Ia tersenyum kecil. "Desa sedang festival panen."
Wesi menoleh. "Ada makanan?"
"Kami selalu punya makanan, walaupun tidak sebanyak di Estraven." Petani itu tertawa.
Desa kecil berdiri di tengah perbatasan Valderk, Khazrek dan Morvath, dikelilingi hamparan ladang bunga . Rumah-rumah kayu beratap jerami berjajar mengikuti jalur tanah utama. Kain warna warni tergantung di antara tiang rumah. Karangan bunga kecil dipasang di jendela kayu yang terbuka menghadap ladang. Suara musik seruling terdengar pelan dari tengah desa. Anak-anak berlarian membawa bunga liar sambil tertawa.
Arkan menatap sekeliling. Seekor anjing desa berlari mendekat sambil menggonggong kecil lalu berhenti di depan Kael. Anjing itu merengek pelan lalu mundur lagi.
Wesi menyeringai kecil. "Bahkan anjing tahu kau menyeramkan."
Beberapa warga menoleh ke mereka. Seorang ibu tua keluar membawa kendi air tanah liat. "Kalian terlihat seperti baru keluar dari kuburan."
"Kami memang dari utara," jawab Wesi.
Ibu tua itu menyerahkan air ke Nila lebih dulu. "Kalau begitu minum dulu."
"Terima kasih." Nila menerima kendi lalu tersenyum tipis.
Anak laki-laki kecil mendekati Arkan. "Itu kapak monster?" Matanya menatap kapaknya tanpa berkedip.
Arkan menoleh ke anak itu, lalu berjongkok. "Kapak biasa."
Senyum anak itu menghilang, lalu menunduk.
Wesi tertawa keras. "Bilang saja kau pernah membelah tubuh monster."
"Aku memang pernah."
"Ya, tapi wajahmu terlalu datar buat cerita keren."
Anak kecil itu mengangkat kepalanya, mendekat sedikit lagi. "Monster darah benar-benar sebesar cerita?"
Arkan diam beberapa detik. "Kadang lebih besar," jawab Arkan.
Pupil mata anak membesar, ia tersenyum lebar.
Di tengah desa, meja-meja kayu panjang mulai dipenuhi makanan. Roti gandum hangat, sup daging, ikan sungai bakar, buah-buahan dan kendi-kendi bir gandum. Aroma makanan memenuhi udara. Wesi menyeringai menagap meja di tengah desa.
"Aku cinta desa ini."