Kabut pagi menggantung tipis di atas langit perbatasan saat skuad Kael meninggalkan desa perbatasan tiga kerjaan. Jalur tanah berubah menjadi jalan batu yang memanjang di antara hamparan gandum hijau dan bunga liar.
Embun menempel di sepatu mereka setiap kali keluar dari sisi jalan. Cahaya matahari turun hangat dari langit pucat. Kereta dagang bergerak lambat di kejauhan, roda kayunya berderit pelan melewati jalan batu yang basah sisa embun.
Kael berjalan paling depan. Mantelnya bergerak pelan diterpa angin pagi. Tatapannya sesekali menyapu ladang luas di kanan kiri jalan.
Wesi berjalan di belakang Kael, ia mengusap wajahnya. "Aku masih bilang bir desa terlalu ringan."
Nila melirik tanpa minat. "Kemarin kau muntah di belakang kandang."
"Itu karena aku minum terlalu sedikit."
Arkan tertawa pendek.
Beberapa petani lewat, mereka menggendong keranjang gandum di punggung. Seorang anak kecil duduk di atas pagar kayu, memainkan seruling pendek. Nada kecilnya terbawa angin pagi lalu hilang di tengah suara roda kereta dan burung ladang.
Arkan mengangkat wajah. Matanya menatap sungai kecil membelah ladang hijau. Airnya memantulkan cahaya matahari seperti pecahan kaca bergerak pelan.
Wesi menunjuk ke arah sungai. "Kalau malam nanti kita tidur dekat situ, aku mandi."
"Kasihan sungainya," jawab Nila.
"Mulutmu makin tajam sejak festival." Wesi mendengus.
"Karena aku akhirnya ketemu manusia normal."
Wesi mendecak kecil.
Langkah Kael berhenti. Ia menunduk, jemarinya menyentuh tanah dekat sisi jalan batu. Rumput liar bergerak pelan tertiup angin.
"Ada apa?" Arkan berhenti di samping Kael.
Kael mengangkat jarinya, ia menoleh ke arah hutan kecil di sisi utara jalan. "Jejak rusa."
"Ya terus?"
"Banyak."
Wesi menguap, melirik sekilas. "Pegunungan penuh rusa."
Kael berdiri lagi. "Tidak biasanya turun sedekat ini."
Menjelang siang, jalur batu kerajaan berubah lebih sepi saat mereka meninggalkan area perbatasan desa. Pohon-pohon muncul di sisi jalan. Hutan kecil membentang mengikuti aliran sungai dangkal yang mengalir pelan di antara batu-batu putih.
Wesi menarik napas panjang. "Aku lapar."
"Kau baru makan pagi," gumam Nila.
"Iya, tadi pagi."
Kael menoleh sedikit ke arah hutan. "Kita berhenti."
Wesi menyeringai. "Lihat? Bahkan Kael tahu aku benar."
Mereka keluar dari jalur utama menuju tepian hutan kecil. Cahaya matahari masuk di sela daun hijau muda, bayangan bergerak di atas tanah yang dipenuhi daun kering. Suara air sungai terdengar dekat.
Arkan melepaskan tasnya ke bawah batu besar lalu menarik napas panjang. Suara burung dan serangga terdengar memenuhi hutan. Aroma tanah basah dan dedaunan bercampur di udara.
Kael berjalan masuk di antara pohon-pohon. Arkan mengikuti di belakangnya, ia menarik kapak dari pinggangnya.
"Rusa?" tanya Arkan pelan.
Kael mengangguk kecil.
Mereka bergerak pelan melewati semak rendah dan akar pohon yang mencuat dari tanah.
Di kejauhan terdengar suara ranting patah kecil. Kael berhenti, ia mengangkat tangannya. Seekor rusa muncul di balik pohon ek besar beberapa meter di depan mereka. Tubuhnya tinggi dengan bulu cokelat terang. Kepalanya bergerak pelan mengunyah daun rendah.
Kael menunjuk ke arah kiri. Arkan bergerak memutar perlahan melewati sisi semak. Daun-daun kecil bergesekan pelan dengan mantelnya. Rusa itu mengangkat kepala, telinganya bergerak cepat.
Kael melangkah keluar dari balik pohon.
BRAK.
Tubuh besar Kael menghantam rusa itu dari samping. Tanah dan daun kering beterbangan saat tubuh rusa jatuh keras.
Arkan mendekat, mengembuskan napas pendek. "Kadang aku lupa kau bisa berburu seperti hewan."
Kael mencabut pisaunya. "Aku memang hewan."
Kael menarik tubuh rusa itu keluar dari semak. Rumput tinggi bergesekan kasar di kaki mereka saat tanduk rusa tersangkut akar kecil lalu terlepas lagi. Arkan mencengkeram kaki belakang rusa. Darah hangat menetes pelan dari leher rusa ke tanah, meninggalkan garis merah tipis di antara rumput liar.
"Harusnya tadi kau lempar tombak," gumam Arkan sambil menarik bangkai rusa melewati batu kecil.
Kael berjalan tanpa menoleh. "Kau terlalu ribut."
"Aku sengaja bikin dia lari ke arahmu."
Mereka melewati jalur tanah sempit di antara pohon-pohon rendah. Suara air sungai terdengar samar dari kejauhan.
Langkah Kael berhenti. Arkan ikut berhenti. Tubuh rusa jatuh pelan ke rumput.
Kael mengangkat kepalanya. Ia menatap ke arah pepohonan dekat sungai. Arkan meraih kapak di balik punggungnya.
"Kenapa?" suaranya pelan.
Angin kembali bergerak pelan di sela daun. Suara cipratan air, Kael menoleh ke arah sungai. Arkan menyipitkan mata. Jemarinya mencengkram gagang kapak, urat lengannya menonjol.
Suara tawa kecil terdengar samar. Kael mengembuskan napas pendek lewat hidung. "Mereka."