A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #14

13. KOTA THORNMIRE

Cahaya jingga memantul di permukaan air hitam yang mengalir lambat di bawah jembatan batu besar. Skuad Kael berjalan mengikuti detasemen Khazrek memasuki gerbang kota perbatasan.

Dinding Thornmire berdiri tinggi dari batu abu pucat khas Khazrek, Arkan menatap akar-akar rawa menjalar di sela retakan tembok seperti urat hitam hidup. Ia mendongak, menatap menara pengawas beratap besi menjulang di atas gerbang, lalu beralih ke lonceng angin dari tulang ikan rawa bergantung di bawah atap kayu.

Tang. Tang. Tang.

Irama palu menghantam besi bercampur derit roda troli dan teriakan pekerja yang samar terbawa angin. 

Mata Wesi melebar menatap kereta pengangkut bijih besi. Beberapa ditarik kuda besar berbulu tebal. Sebagian lain didorong pekerja tambang, tubuhnya penuh jelaga hitam.

Nila menoleh ke sisi kanan jalan. Sungai lebar mengalir pelan di antara dinding batu. Kapal-kapal bergerak lambat, peti besi dan tong minyak rawa Morvath di atas kapal. Lampu gantung biru kehijauan menyala di sepanjang dermaga.

Asap bengkel besi naik dari sisi timur kota.

"Bau logam." gumam Nila.

"Dan uang," sambung Wesi, ia menyeringai.

Gerbang Thornmire terbuka perlahan, detasemen Rennic berjaan mendekat. Rantai besar bergerak di atas tembok. Bunyi besi bergesekan menggema panjang. Para penjaga gerbang mengenakan armor abu gelap Khazrek dengan mantel kulit tahan hujan. Tombak mereka lebih pendek dari tombak kerajaan lain, ujungnya tebal seperti alat pembantai.

Kael berjalan di belakang Rennic, ia menatap pedagang, penarik kereta, pandai besi, dan pemburu rawa yang mengenakan mantel kulit panjang berlumur lumpur hitam Morvath.

Kuda-kuda di dekat gerbang mendengus pelan saat Kael lewat.

"Masih saja," gumam salah satu penjaga sambil menenangkan kudanya.

Rennic melirik sekilas ke arah Kael. "...Mereka memang tidak suka Vessel."

Wesi menunjuk Kael. "Wajahnya memang bermasalah."

"Aku mulai berharap monster akan memakan kalian," balas Kael datar.

Tubuh besar Kael berjalan di tengah keramaian. Mantel hitam panjangnya bergerak pelan diterpa angin sore. Beberapa warga menoleh saat mereka lewat. Tatapan mereka berhenti lebih lama di Kael.

Langkah mereka berhenti di tengah distrik pasar. Kanopi kain hijau dan abu tergantung di atas jalan batu sempit. Pedagang Morvath menjual botol cairan rawa hijau pekat di samping toko senjata Khazrek yang memajang palu perang dan tombak besi besar. Bahasa Khazrek dan dialek rawa Morvath bercampur di udara.

Langkah Arkan melambat. Matanya menatap deretan senjata yang tergantung di depan bengkel besi.

Rennic melirik Arkan. "Pertama kali lihat Kota Thornmire?" tanya Rennic.

Arkan mengangguk kecil.

Rennic menunjuk cerobong asap di kejauhan. "Kota ini tidak pernah tidur."

Arkan menoleh ke api tungku, cahaya merah memantul di permukaan logam. Seorang pandai besi tua berdiri di depan bengkel, palu di tangannya memukul bilah besi merah membara.

DENTANG. Percikan api beterbangan ke lantai batu.

Wesi menyipitkan mata ke arah pedang rantai panjang yang tergantung di dinding bengkel. "Cantik..."

Nila mendecak kecil. "Kau ngomong ke senjata lagi."

"Karena senjata tidak cerewet."

Rennic menoleh sedikit. "Kalau kalian tinggal beberapa hari, Thornmire adalah pasar senjata terbaik di kerajaan Khazrek."

"Sekarang aku ngerti kenapa orang Khazrek bahunya besar semua. Aku cinta kota ini," jawab Wesi cepat.

Mereka melanjutkan langkah melewati pasar. Aroma daging asap, logam panas, dan minyak rawa memenuhi udara.

Kael menatap ke salah satu toko. Seorang pandai besi memperlihatkan rantai baja berduri kepada pemburu bayaran di bawah atap kain hitam. Di sisi lain jalan, kandang besar berisi anjing pemburu rawa berdiri dekat toko obat herbal.

Suara musik drum rendah terdengar dari lorong pasar selatan.

Arkan berhenti di depan toko senjata. Matanya berhenti pada war hammer besar berkepala besi hitam. "Sepertinya ini berat."

Lihat selengkapnya